Satgas Citarum Harum dan Pegiat Lingkungan Hijaukan Bantaran Sungai Citarum di Majalaya

Bandung Raya

Minggu, 19 Januari 2020 | 12:48 WIB

200119124945-satga.jpg

SEBANYAK 200-500 pohon dari berbagai jenis ditanam di kawasan pemakaman umum yang berada di sekitar bantaran Sungai Citarum di Kampung Kondang, Desa Majalaya, Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung, Ahad (19/1/2020) pagi. Mulai dari jenis pohon ekaliptus, afrika, mahoni, jabon, kiara, trembesi dan jenis tanaman lainnya. 

Penanaman pohon itu sebagai tindaklanjut dari gerakan penghijauan di daerah aliran Sungai Citarum di wilayah kerja Sektor 4 Satuan Tugas (Satgas) Citarum Harum Kecamatan Majalaya. Gerakan penanaman pohon itu dengan tema, "nambah pohon". Selain itu, sebagai bentuk ajakan kepada masyarakat untuk sama-sama menanam pohon, "hayu hejokeun lembur sangkan warga teu kalabur tur endah dipandang batur". 

Gerakan penghijauan itu melibatkan jajaran TNI dari Sektor 4 Satgas Citarum Harum, Badega Lingkungan, Yayasan Saung Monteng Rumah Konservasi, Perhimpunan Pendaki Gunung, Serimba Barudak Pecinta Alam, Eyy Ema, B-Pass, Destana Majalaya, dan masyarakat umum di kawasan Majalaya sekitarnya.

Gerakan penghijauan itu merupakan aksi spontanitas, setelah melihat kawasan di pemakaman umum Kampung Kondang sangat minim pohon tegakan. Gerakan penghijauan di sekitar bantaran Sungai Citarum itu sebagai tindaklanjut dari pengerjaan proyek normalisasi Sungai Citarum yang dinilai minim pohon tegakan. 

Komandan Sektor 4 Satgas Citarum Harum, Kolonel Inf Asep Nurdin diwakili Komandan Kompi (Danki) Sektor 4 Letda Arh. Dwi Iswantoro, turut menyerahkan ratusan pohon tersebut kepada perwakilan warga dan sama-sama langsung ditanam di sekitar bantaran Sungai Citarum.

"Kami merasa terbantu dengan adanya perhatian dari sejumlah komunitas pegiat lingkungan dan masyarakat secara umum dalam gerakan penghijauan lahan kritis ini. Karena ini ada bagian dari tugas Satgas Citarum Harum dalam gerakan perbaikan kerusakan DAS Citarum," kata Dwi di hadapan puluhan pegiat lingkungan yang melakukan gerakan penghijauan. 

Dwi mengatakan, untuk gerakan penghijauan lanjutan, pihaknya akan berkoordinasi dengan Sektor Pembibitan Satgas Citarum Harum di Cisanti Kertasari dan pembibitan Kamojang Ibun.

"Kita akan terus support dan membantu masyarakat dalam melaksanakan program penghijauan. Kita akan support semaksimal mungkin program penghijauan," katanya.

Menurutnya, gerakan penghijauan tersebut dapat menjadi kawasan resapan air untuk menampung air di saat turun hujan.  "Apalagi saat ini kalau sudah turun hujan banjir di mana-mana dan terjadi banjir di sekitar kita," katanya.

Penyebab banjir selain karena kerusakan lingkungan, katanya, juga disebabkan oleh banyaknya lahan yang dibeton, sehingga mengurangi resapan air. "Akibatnya daya dorong air semakin kencang, dan aliran air  Sungai Citarum pun meluap dan menggenangi ruas jalan maupun permukiman warga," katanya.

Dwi mengatakan, berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, sebelumnya aliran air Sungai Citarum mencapai 78.000 meter kubik per jam, dan sekarang mencapai 95.000 meter kubik per jam. "Derasnya aliran air Sungai Citarum karena daerah resapan air semakin berkurang di sekitar kita," keluhnya.

Dwi berharap, selain melaksanakan gerakan penghijauan, juga pembuatan biopori di sekitar kawasan Sungai Citarum. "Pembuatan biopori itu untuk membantu daya serap air supaya bisa mengurangi aliran air ke Sungai Citarum," ungkapnya. 

Satgas Citarum pun berusaha untuk mengajak para pegiat lingkungan dan masyarakat umum untuk berinisiatif dan berinovatif dalam upaya gerakan penghijauan dalam upaya perbaikan lingkungan. "Kami percaya mereka terus berinovatif dan berinisiatif dalam pelestarian lingkungan. Hal itu demi kelestarian lingkungan di kawasan Sektor 4/Majalaya," pungkasnya.

 

Editor: Efrie Christianto

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA