BRSPDSN Wyata Guna Persilahkan Mahasiswa Tunanetra Kembali ke Asrama

Bandung Raya

Jumat, 17 Januari 2020 | 19:59 WIB

200117195536-brspd.jpg

Rio Ryzki Batee

Pengelola Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Sensorik Netra (BRSPDSN) Wyata Guna Bandung akan terbuka terhadap mahasiswa tunanetra yang ingin kembali tinggal di asrama. Namun sebelumnya, akan dilakukan assessment terhadap para mahasiswa tersebut, terkait masih membutuhkan atau tidaknya pelayanan dari BRSPDSN

Kepala BRSPDSN Wyata Guna, Sudarsono mengatakan, assessment yang dilakukan yaitu untuk mengetahui apakah mahasiswa bersangkutan masih aktif kuliah dan membutuhkan pelayanan.

"Dengan berubahnya panti menjadi balai, maka pembinaan bersifat sementara bagi penerima manfaat, bukan permanen. Dan ini proses normal dan sudah dipahami sejak penerima manfaat menjadi binaan di balai," ungkapnya di BRSPDSN Wyata Guna, Jln. Pajajaran, Kota Bandung, Jumat (17/1/2020).

Sudarsono menegaskan, terkait mahasiswa yang memilih tinggal ditrotoar, pihaknya tidak melakukan pengusiran. Namun sekitar 32 mahasiswa tunanetra tersebut, telah masuk tahap terminasi atau akhir layanan.

Dengan masuknya mereka pada tahap terminasi, menurut Sudarsono penerima manfaat yang mendapatkan pelayanan dan pembinaan, terikat oleh ketentuan harus dikembalikan kepada keluarga dan masyarakat.

"Juga masih banyak orang yang mengantri untuk masuk ke balai. Januari sudah dimulai proses assesment penerimaan penerima manfaat, ada dari Kalimantan, Jawa dan lain sebagainya," katanya.

Dikatakannya bagi mahasiswa yang sudah mengakhiri pelayanan, namun belum kembali ke keluarga, maka bisa masuk ke asrama panti milik Dinas Sosial Jawa Barat, di Cibabat, Kota Cimahi.

Sebagai solusi, pihak balai Solusi menyediakan asrama khusus di Wyata Guna untuk mereka yang masih membutuhkan layanan.

"Dengan catatan kami melakukan assessment kembali, kepada anak penerima manfaat yang sudah keluar," ujarnya.

Sudarsono menegaskan, tidak ada pemindahan atau penutupan sekolah di Wyata Guna, karena sejak awal komitmen yang dibangun adalah pinjam pakai.

"Jadi Balai Wyata Guna tengah dalam proses revitalisasi fungsional menuju standar internasional, yang sistem pelayanannya bertujuan satu, yakni mengoptimalkan manfaat kepada penerima manfaat. Sehingga, penerima manfaat bisa lebih berdaya dan mandiri," jelasnya.

Hal senada disampaikan Sekretaris Dirjen Rehabilitasi Sosial Kemensos RI, Idit Supriadi Priatna. Ia menuturkan, pelayanan BRSPDSN Wyata Guna terbatas karena adanya perubahan status dari panti menjadi balai. Dengan demikian, setiap enam bulan akan ada pergantian penerima manfaat di balai tersebut.

Disinggung terkait pencabutan Permensos No 18, menurutnya hal tersebut sudah ada prosedurnya. Namun pihaknya bersama pemda baik provinsi maupun kota/kabupaten tetap melakukan pelayanan kepada penyandang disabilitas.

"Bagi kami tidak ada pengusiran, kalau yang tinggal di trotoar silahkan. Karena kita sudah mengajak, merayu, membujuk dan ada juga perwakilan ke sana (Cibabat) dan menyatakan bagus," paparnya.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Jabar, Dodo Suhendra menerangkan pihaknya siap menampung para mantan penghuni Wyata Guna. Bahkan kapasitas asrama di Panti Sosial Rehabilitasi Penyandang Mental Sensorik Netra, Rungu, Wicara, Tubuh Pemerintah Provinsi Jabar, bisa menampung hingga 100 orang.

"Kami akan optimalkan kapasitas hingga 150 orang. Di sana juga ada tempat ibadah, pelatihan, ruang pertemuan, juga ruang keterampilan sesuai minat dan bakat," terangnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi V DPRD Jabar, Abdul Hadi Wijaya meminta kepada eks penghuni panti untuk bersabar, karena pemerintah pusat telah mengambil langkah yang positif dalam menampung aspirasi mereka.

"Maka kita sabar sedikit, berikan kesempatan kepada pemerintah pusat untuk membenahi semuanya dan menyiapkan fasilitas-fasilitas penunjang. Karena yang bakal menikmati adalah masyarakat, khususnya Bandung," tambahnya.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA