GANI-AVI Berkomitmen Mencegah Penyalahgunaan Rokok Elektrik

Bandung Raya

Rabu, 15 Januari 2020 | 20:40 WIB

200115204020-gani-.jpg

Rio Ryzki Batee

KOMITMEN dari berbagai pihak sangat dibutuhkan dalam mencegah penyalahgunaan narkoba serta pemakai anak-anak di bawah umur. Pasalnya persoalan tersebut sangat rentan terjadi di Indonesia beriringan dengan semakin tingginya penggunaan rokok elektrik di Tanah Air, termasuk di Jawa Barat.

Ketua Dewan Pusat Gerakan Anti Narkoba Indonesia (GANI), Djoddy Prasetio Widyawan mengatakan, masalah penyalahgunaan zat Tetrahidrokanabinol (THC) dan vitamin E asetat yang dicampurkan pada cairan rokok elektrik, terjadi di Amerika Serikat. Hal tersebut, dikhawatirkan akan terjadi di masyarakat Indonesia, termasuk Jawa Barat.

"Dengan Gerakan Pencegahan Penyalahgunaan Rokok Elektrik (GEPPREK), menjadi komitmen dan perhatian terhadap industri produk tembakau alternatif di Indonesia. Terutama isu penyalahgunaan narkoba dan pemakaian anak-anak di bawah umur," ungkapnya kepada wartawan di Vapemart, Jln. Gatot Subroto, Kota Bandung, Rabu (15/1/2020).

Menurutnya, pada pertengahan 2019 lalu, Badan Narkotika Nasional (BNN) telah mengungkapkan penyalagunaan narkoba pada produk serupa rokok elektrik. Oleh karena itu, dengan adanya kerjasama dari berbagai pihak termasuk asosiasi rokok listrik, diharapkan dapat membuat ruang penyalahgunaan rokok elektrik semakin sempit.

"Kami optimistis ruang penyalahgunaan rokok elektrik semakin sempat bahkan tertutup dengan adanya kerjasama dari asosiasi rokok elektrik. Sehingga produk tersebut dapat membantu perokok dewasa, yang merupakan tujuan utama diciptakannya rokok elektrik," tuturnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Asosiasi Vapers Indonesia (AVI) Jabar, Didong Wanorogo mengimbau kepada masyarakat serta anggotanya untuk melarang penjualan produk kepada anak di bawah umur 18 tahun.

"AVI Jabar berkomitmen akan memberikan sanksi tegas jika anggota yang terbukti menyalahgunakan narkob pada rokok elektrik. Kami akan bekerjasama dengan penegak hukum untuk mengatasi permasalahan ini," terangnya.

Sementara itu, Ketua Koalisi Indonesia Bebas TAR, Ariyo Bimmo menilai, kasus penyalahgunaan narkoba pada rokok elektrik, membuat persepsi negatif terhadap produk alternatif.

"Padahal produk tembakau alterbatif, seperti rokok elektrik untuk membantu perokok dewasa yang ingin beralih ke produk tembakau yang lebih rendah risiko," ucapnya.

Bimmo juga berharap adanya peran pemerintah dalam mencegah penyalahgunaan rokok elektrik. Terutama membentuk regulasi khusus yang berbeda dengan rokok pada umumnya.

Saat ini, Indonesia hanya memiliki satu aturan yaitu Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 146/PMK.010/2017 yang berfokus pada aspek penerimaan negara dari cukai. Namun belum mencakup aspek lainnya, seperti uji produk, tata cara pemasaran, batasan usia, informasi bagi konsumen hingga batasan usia.

"Regulasi bagi produk tembakau alternatif akan memberikan kepastian bagi para pelaku usaha, dalam memproduksi produksi yang sesuai bagi konsumen," tambahnya.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA