Gerakan Penghijaun di Musim Hujan Dinilai Tepat

Bandung Raya

Selasa, 14 Januari 2020 | 21:29 WIB

200114212100-gerak.jpg

dok

ilustrasi

MUSIM hujan menjadi waktu yang tepat untuk melaksanakan kegiatan penanaman pohon. Pasalnya, bibit pohon yang ditanam dapat tumbuh lebih baik.

"Program penghijauan baik yang dilakukan secara masal oleh instansi, maupun perorangan sangat tepat dilakukan pada musim hujan seperti sekarang. Apalagi tujuan penanaman ini untuk program penghijauan, mengembalikan lahan kritis menjadi daerah tangkapan air," kata mantan Kepala Desa Citaman, Adang Andry Rahayu di Nagreg, Kabupaten Bandung, Selasa (14/1/2020).

Menurut Andry, penanaman pohon di lahan kritis menjadi langkah startegis dalam menyeimbangkan dari ancaman bencana.

"Kalau bukan oleh kita siapa lagi. Ayo kita sama-sama melakukan gerakan penanaman pohon. Jika kita peduli alam, alam pun akan menjaga kita dalam menjalani kehidupan," ucapnya.

Ia menyerukan semangat gerakan menanam pohon harus terus digelorakan. Apalagi curah hujan tinggi akan berlangsung dari Januari sampai Februari yang bisa dimanfaatkan untuk melakukan penanaman pohon secara massal.

Andry melihat di kawasan Nagreg masih banyak terdapat lahan kritis yang minim pohon tegakan. Oleh karena itu, para pemilik lahan diimbau memanfaatkan musim hujan untuk menghijaukan lahannya tersebut.

"Memang melaksanakan penanaman pohon itu tak bisa dirasakan langsung saat ini. Melainkan manfaatnya bisa dirasakan dalam jangka waktu beberapa tahun ke depan, disaat tanaman tersebut sudah tumbuh subur dan berkembang. Di balik penghijauan itukan ada nilai ekonomisnya bagi pemilik lahan," ucapnya.

Ia mengingatkan, lahan yang hijau oleh pepohonan menjadi benteng alam pada saat musim hujan. Bencana alam yang dipengaruhi hujan dapat diminimalisir oleh pohon.

"Longsor akibat kikisan air hujan bisa dihindari bila di kawasan tersebut tumbuh pepohonan berakar kuat. Dengan demikian bencana alam longsor dan banjir bisa dicegah," tandasnya.

Andry yang juga dikenal sebagai pecinta lingkungan ini, mengaku prihatin dengan banyaknya kejadian banjir bandang dan longsor di sejumlah daerah. Sumber penyebabnya, alih fungsi lahan dan aktivitas penambangan secara liar.

"Misalnya, lahan tersebut yang semula hijau, kemudian pohonnya ditebang dan lahannya digunakan untuk pertanian sayuran. Akibat memberlakukan alam seperti itulah, memicu terjadinya bencana," tukasnya.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA