Empat Orang di Kabupaten Bandung Meninggal karena AIDS pada 2019

Bandung Raya

Senin, 13 Januari 2020 | 14:18 WIB

200113140433-empat.jpg

PADA 2019 lalu ada empat orang warga Kabupaten Bandung yang meninggal dunia akibat penyakit AIDS. Sekretariat Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Bandung mengaku kecolongan dengan adanya kasus tersebut. Padahal, data dari pendampingan selama tahun lalu tidak ditemukan warga yang mengidap AIDS.

"Empat orang warga tersebut meninggal karena tidak terjangkau pendampingan saat masih berstatus mengidap HIV. Mereka sulit dijangkau karena aktivitas sehari-harinya bekerja di luar Kabupaten Bandung," ujar Pengelola Program Sekretriat KPA Kabupaten Bandung, Dinan di Soreang, Senin (13/1/2020).

Menurut Dinan, penjangkauan sebenarnya dilakukan intens oleh pihaknya. Namun, karena sulitnya penjangkauan kepada empat orang tersebut menjadi kendala. Mereka pulang ke rumah saat drop dan langsung kritis karena sudah AIDS.

Sesuai data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bandung, jumlah pengidap HIV di Kabupaten Bandung mencapai 685 orang. Jumlah tersebut meningkat drastis dibandingkan pada 2018, yang hanya mencapai 217 orang. 

Meningkatnya jumlah pengidap HIV di Kabupaten Bandung tersebut, menurut Dinan, akibat berhasilnya program KPA yang telah menjangkau pengidap HIV bersama LSM Bahtera dan PKBI Klinik Mawar. 

"Naiknya jumlah kasus ini bukan hal yang buruk. Justru ini merupakan keberhasilan program penjangkau yang mampu mengajak orang pengidap HIV masuk ke layanan kesehatan. Jadi ada keinginan pengidap HIV untuk berobat dan terapi menggunakan Antiretrorival (ARV). Sehingga ini bisa menekan penularan HIV di Kabupaten Bandung," terangnya.

Dirinya menuturkan, dari 685 orang pengidap HIV di Kabupaten Bandung, rata-rata berada di populasi lelaki seks lelaki (LSL). Populasi LSL sangat berpotensi menularkan HIV kepada ibu rumah tangga. 

"LSL tidak selalu yang memiliki orientasi seks sesama jenis. Bisa jadi LSL adalah orang yang telah beristri. Sehingga berpotensi menularkan HIV ke istrinya," katanya.

Oleh karena itu, populasi ibu hamil harus melakukan screening (tes HIV) untuk memastikan tidak tertular HIV. Pasalnya, banyak populasi jembatan (LSL, pengguna wanita pekerja seks) yang secara terang-terangan mengaku mengidap HIV. 

"Maka dari itu populasi ibu hamil perlu discreening. Khawatir menjadi korban tertular HIV. Karena mereka paling berisiko tertular selain populasi LSL, WPS, Waria, atau Pengguna Jarum Suntik," ungkapnya.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA