102 Mahasiswa Milenial Ikuti Diklat Dasar Kemiliteran 

Bandung Raya

Minggu, 12 Januari 2020 | 12:27 WIB

200112123019-102-m.jpg

Engkos Kosasih

SEBANYAK 102 mahasiswa dari sejumlah universitas, akademi dan perguruan tinggi lainnya mengikuti Pendidikan dan Latihan (Diklat) Dasar Kemiliteran Resimen Mahasiswa Mahawarman Jabar Gelombang I Tahun Anggaran 2019/2020. Pendidikan diklat tersebut dilaksanakan di Markas Yonzipur 3/Yudha Wyogrha Jalan Raya Dayeuhkolot No. 325 Kecamatan Dayeuhkokot Kabupaten Bandung, Minggu (12/1/2020).

Pada penutupan upacara diklat tersebut dengan Inspektur Upacara Bandep Ur. Lingkungan Strategis Nasional pada Deputi Bidang Pengkajian dan Penginderaan Setjen Wantannas  Brigjen TNI Yudi Zanibar. Yudi Zanibar mengatakan, kegiatan penutupan diklat Dasar Kemiliteran Resimen Mahasiswa Mahawarman Jabar ini ada dua gelombang.

"Ini merupakan gelombang pertama yang diikuti 102 mahasiswa, dan berikutnya gelombang dua yang sedang berjalan 250 mahasiswa. Mereka dari berbagai unsur, di antaranya dari IPB, Unpad dan universitas lainnya," kata Yudi kepada wartawan. 

Didampingi Ketua Menwa Indonesia Budiono dan Komandan Sektor 6 Satgas Citarum Harum Kolonel Arh Dodo Irmanto,  Yudi pun sangat mengapresiasi dengan adanya keterlibatan ratusan mahasiswa dalam kegiatan diklat tersebut. Mereka merupakan kaum milenial yang memiliki intelektual.

Yudi pun mengatakan, para mahasiswa yang sudah mengikuti diklat tersebut dilibatkan dalam berbagai penanggulangan bencana di Indonesia. Di antaranya bencana banjir bandang, longsor, tsunami dan bencana lainnya dengan cara menurunkan timnya.

Lebih lanjut Yudi mengatakan, melalui pendidikan dan latihan dasar kemiliteran ini, seperti diketahui bersama program bela negara sedang digalakan secara masif di berbagai kalangan.

"Bela negara adalah perwujudan cinta tanah air. Cinta tanah air diartikan rasa cinta terhadap negara dan setia mengabdi," katanya.

Yudi juga mengajak kepada para mahasiswa untuk memelihara persatuan dan kesatuan, selain menjaga tanah air dari segala ancaman dan gangguan.

"Tentunya cinta tanah air tak hanya retorika semata. Tetapi diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari," ungkapnya.

Yudi pun mengatakan, sejumlah pihak untuk mewaspadai ancaman yang bakal terjadi, di antaranya ancaman bencana alam yang tak bisa dihindari. Ancaman bencana alam itu terjadi bisa karena kehendak alam atau sebagai akumulasi perbuatan manusia. Di antaranya banjir, longsor yang disebabkan oleh alih fungsi lahan yang semakin marak terjadi.

"Tentu saja, ancaman kejadian bencana tersebut harus bisa dicegah dan diminimalisir dengan cara dihadapi bersama-sama. Pasalnya, apa yang dilakukan akan kembali kepada  kita sendiri dan prilaku masing-masing," tuturnya. 

Sementara itu Ketua Menwa Indonesia Budiono mengatakan, resimen mahasiswa mahawarman tak pernah putus menanggulangi dan membantu para korban bencana yang terjadi di seluruh Indonesia.

"Menwa selalu hadir dalam masalah negara. Menwa selalu membantu memecahkan masalah negara," katanya.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA