Ancaman Banjir Bandang Jadi Perhatian Khusus BPBD Kabupaten Bandung

Bandung Raya

Jumat, 13 Desember 2019 | 13:07 WIB

191213130856-ancam.jpg

POTENSI bencana banjir bandang yang bisa terjadi secara tiba-tiba di saat turun hujan deras, menjadi perhatian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung. Selain potensi ancaman banjir bandang, juga potensi ancaman longsor dan angin puting beliung yang berisiko terjadinya korban jiwa.

Demikian diungkapkan Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Bandung, Hendra Hidayat saat menjadi narasumber pada kegiatan rutin "Ngawangkong Bari Ngopi 2019" di Taman Uncal Komplek Pemkab Bandung, Soreang, Jumat (13/12/2019).

Hendra mengatakan, Majalaya yang berada di antara aliran Sungai Citarum yang membelah kawasan tersebut berpotensi banjir bandang. Sehingga pihaknya berkoordinasi dengan para relawan yang berasal dari Jaga Balai dan Garda Caah Kabupaten Bandung, yang berada di kawasan Majalaya.

"Kami juga menyikapi rumah aman dan rumah rawan dari ancaman banjir. Rumah aman itu berlantai dua dan kokoh, sehingga rumah berlantai dua bisa digunakan untuk berlindung di saat banjir. Banjir bandang tak bisa dideteksi, naiknya cepat dan surutnya juga cepat. Itulah banjir bandang yang menjadi kekhawatiran kita," katanya.

Ia mengatakan, ancaman banjir memang tak bisa dipungkiri. Potensi banjir itu di Bojongsoang, Baleendah dan Dayeuhkolot, selain secara keseluruhan tercatat 19 kecamatan dari 31 kecamatan di Kabupaten Bandung rawan ancaman banjir. "Potensi ancaman banjir juga terjadi di Rancaekek, Solokanjeruk, dan Majalaya," katanya.

Menurutnya, meski rawan banjir genangan, tetapi ancaman korban jiwa relatif bisa diminimalisir. "Tetapi kita tetap mengkhawatirkan terjadinya potensi banjir bandang pada musim hujan ini, seperti yang kita ketahui banjir bandang di Kertasari pada Jumat (6/12/2019) sore lalu," katanya.

Lebih lanjut Hendra mengatakan, untuk menghadapi ancaman banjir genangan di Baleendah, Bojongsoang dan Dayeuhkolot, BPBD sudah menyiapkan pos siaga bencana. "Bahkan di tiga wilayah itu sudah disiapkan tempat pengungsian untuk warga korban banjir. Pasalnya, masyarakat yang terdampak banjir perlu ada penanganan," katanya.

Ia pun berharap, memasuki musim hujan ini, semua desa dibentuk desa tangguh bencana dengan melibatkan berbagai komunitas.

"Kami pun berharap masyarakat waspada, dan sadar melakukan pembersihan lingkungan. Terkait keselamatan, potensi banjir, longsor, angin puting, banjir bandang, masyarakat pun untuk memahami hal itu," tuturnya.

Hendra mengatakan, Pemkab Bandung dengan melibatkan stakeholder yang ada sudah menetapkan status siaga darurat bencana di Kabupaten Bandung, mulai 13 Desember 2019 sampai 31 Mei 2020, setelah melewati rapat koordinasi (rakor) di Aula BPBD Kabupaten Bandung, Kamis (12/12/2019).

Ia mengatakan, pelaksanaan rakor dan penetapan status itu, untuk menindaklanjuti surat dari BNPB dalam menghadapi  musim hujan. Melalui surat itu turut dilaksanakan rapat di Provinsi Jabar, dalam upaya menentukan siaga darurat bencana banjir, longsor dan angin puting beliung/angin kencang.

"Kita melakukan koordinasi dengan stakeholder dan kesiapsiagaan, serta menyiapkan posko di Baleendah serta personel yang ada," katanya.

BPBD juga melakukan komunikasi dengan 20 komunitas di Kabupaten Bandung, selain menyiapkan desa tangguh bencana. "Segala informasi pun didapat dari masyarakat, selain menyebarkan nomor call center kepada masyarakat," katanya.

BPBD juga melakukan edukasi kepada masyarakat potensi bencana longsor yang berisiko korban jiwa. Dengan harapan bisa meminimalisir ancaman korban jiwa.

"Kami juga mengingatkan kepada masyarakat supaya tidak panik saat menghadapi angin kencang. Dalam menghadapi kejadian itu, kelompok rentan harus menjadi prioritas seperti lansia dan anak-anak dalam memberikan pertolongan atau penyelamatan," ungkapnya.

Editor: Efrie Christianto

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA