Kabupaten Bandung Belum Bisa Terhindar Dari Ancaman Bencana

Bandung Raya

Kamis, 12 Desember 2019 | 19:18 WIB

191212201426-kabup.jpg

ASISTEN Pemerintahan Kabupaten Bandung H. Ruli Hadiana menyatakan, Kabupaten Bandung belum bisa terhindar dari ancaman bencana banjir, longsor dan angin puting beliung.

"Ancaman bencana ini harus bisa diantisipasi karena Kabupaten Bandung tak bisa menghindar dari ancaman banjir, longsor dan angin puting beliung," kata Ruli dalam rapat koordinasi di Aula Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung, Soreang, Kamis (12/12/2019).

Menunutnya, ancaman bencana itu harus diantisipasi karena saat ini sudah memasuki peralihan musim dari musim kemarau ke musim hujan. Ia juga mendorong pihak kecamatan untuk terus melaporkan berbagai kejadian bencana di wilayahnya masing-masing.

"Mengingat saat ini turun hujan belum merata," katanya.

Sementara itu, Direktorat Tanggap Darurat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Asep Supriatna mengapresiasi kinerja BPBD Kabupaten Bandung dalam melakukan pelaporan dan penanganan berbagai kejadian bencana di wilayahnya.

Ia menilai ancaman atau potensi ancaman bencana banjir, longsor dan angin puting di Kabupaten Bandung sangat tinggi. Apalagi sebelumnya ada bencana kebakaran lahan hutan, yang langsung ada penanganan cepat dengan melibatkan berbagai pihak.

Dikatakan Asep dilaksanakannya rapat koordinasi siaga darurat bencana banjir, longsor dan angin puting beliung di Kabupaten Bandung yang dilaksanakan di Aula Rapat BPBD Kabupaten Bandung sebagai langkah bagus dan positif karena dapat meningkatkan kesiapan Pemkab Bandung untuk ketenangan masyarakat karena aparat pemerintahannya siap.

"BNPB juga mengeluarkan pedomanan dalam penetapan status siaga darurat bencana. Prinsip pertama transparan, selain kesesuaian dengan hasil kajian cepat dari tim reaksi cepat. Selain itu koordinasi dengan seluruh pihak. Sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo, dalam penanggulangan bencana harus melibatkan pemerintah, masyarakat, dunia usaha, intelektual dan media," jelasnya.

Asep menjelaskan tentang siaga darurat bencana, setelah mendapat informasi adanya ancaman bencana yang disampaikan kondisi cuaca melalui BMKG dan adanya peringatan dini. Selain itu berdasarkan pada hasil kajian cepat.

"Yang harus diwaspadai itu adanya potensi ancaman yang mengganggu penghidupan dan kehidupan masyarakat," katanya.

Sementara itu dari perwakilan BMKG mengatakan, curah hujan mulai terjadi sejak Nopember 2019, dan bulan Desember 2019 sampai Maret 2020, diperkirakan curah hujan cukup tinggi.

"Untuk curah tinggi di wilayah Bandung mulai Desember 2019 sampai Maret 2020 diperkirakan cukup tinggi, dan April 2020 diperkirakan menurun. Meski demikian harus diwaspadai potensi hujan ekstrim," katanya.

Namun diwaktu-waktu tertentu, imbuhnya, perlu diwaspadai potensi hujan yang disertai dengan angin puting beliung. Yaitu terjadi siang menjelang sore atau malam.

Sementara itu, Tim Reaksi Cepat BPBD Kabupaten Bandung, Asep Mista mengatakan, selama Oktober sampai Desember, ada beberapa kejadian bencana di Kabupaten Bandung. Mulai dari bencana angin kencang yang terjadi di Pangalengan dan Kertasari. Dalam kejadian itu menyebabkan 101 rumah rusak berat, 1.415 rumah rusak sedang dan ribuan rumah rusak ringan. Dampak dari kejadian itu ribuan pohon tumbang.

Asep Mista juga menyampaikan tentang kewaspadaan dan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana di kawasan Bandung Utara. Yaitu potensi terjadinya sesar lembang yang masuk kawasan Cimenyan dan Cilengkrang.

"Sesar lembang itu ada di Kabupaten Bandung yang berbatasan dengan Kabupaten Bandung Barat," katanya.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA