Kabupaten Bandung Siaga Darurat Bencana

Bandung Raya

Kamis, 12 Desember 2019 | 18:42 WIB

191212184146-kabup.jpg

M. Fadlillah

Warga melintasi banjir yang menggenangi Kawasan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, beberapa waktu lalu. Bersamaan dengan tibanya musim hujan, Kabupaten Bandung ditetapkan siaga darurat bencana.

BENCANA banjir, longsor dan angin puting beliung berpotensi mengancam wilayah Kabupaten Bandung hingga beberapa bulan ke depan. Dengan kondisi itu, Pemkab Bandung menetapkan status siaga darurat bencana banjir, longsor dan angin puting beliung mulai 13 Desember 2019 sampai 31 Mei 2020.

Hal itu terungkap dalam rapat koordinasi (rakor) siaga bencana di Kabupaten Bandung yang digelar di Aula Rapat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung, Soreang, Kamis (12/12/2019). Status siaga darurat bencana diusulkan pada Kamis (12/12/2019) sore dan ditetapkan melalui Surat Keputusan Bupati Bandung.

Kabupaten Bandung masih terancam bencana banjir, longsor dan angin puting, turut dijelaskan oleh Kepala Pelaksana Harian BPBD Kabupaten Bandung, H. Akhmad Djohara. Akhamd menjelaskan, selama satu tahun sejak Januari sampai Desember 2019 ini, sudah terjadi 57 kejadian banjir di Kabupaten Bandung.

Ia mengatakan, di Kabupaten Bandung tercatat 19 kecamatan yang rawan bencana banjir. Ke-19 kecamatan tersebut yaitu Baleendah, Dayeuhkolot, Bojongsoang, Banjaran, Pameungpeuk, Cangkuang, Majalaya, Solokanjeruk, Ibun, Paseh, Rancaekek, Cileunyi, Soreang, Margaasih, Kutawaringin, Cicalengka, Katapang, Ciparay, dan Margahayu.

Akhmad juga menjelaskan, 25 kecamatan di Kabupaten Bandung rawan ancaman bencana longsor, yakni di Pangalengan, Rancabali, Ciwidey, Soreang, Pasirjambu, Kutawaringin, Arjasari, Kertasari, Pacet, Ibun, Paseh, Cicalengka, Nagreg, Cimenyan, Cilengkrang, Cileunyi, Cangkuang, Cimaung, Baleendah, Margaasih, Banjaran, Cikancung, Majalaya, Pameungpeuk dan Ciparay.

"Selama Januari sampai Desember 2019, sebanyak 14 kejadian bencana longsor. Ke-14 kecamatan itu meliputi di Kecamatan Pangalengan, Ibun, Cimaung dan Kertasari. Rata rata kejadian di daerah atas, karena melihat karakter Kabupaten Bandung," jelas Akhmad.

Ia menambahkan, kejadian angin kencang dan angin puting selama setahun ada 11 kejadian. Yang terparah kejadian di Pangalengan, Kertasari, Baleendah, Pameungpeuk, Rancaekek, Cicalengka, Cimaung, dan Cangkuang.

"Sedangkan kebakaran lahan hutan selama setahun sebanyak 22 kejadian. Beberapa waktu lalu dua titik kebakaran lahan paling parah di Kawah Putih dan Malabar. Pemadaman hutan itu mendapat bantuan water booming dari BNPB," jelas Akhmad.

Akhmad menyatakan, perlu dilaksanakan rapat koordinasi sehubungan perkembangan cuaca di Kabupaten Bandung yang mulai ekstrim. "Masuk ke musim hujan ini, terjadi karakter hujan lokal dengan intensitas tinggi dan turun hujannya tak menyeluruh," katanya.

Ia mengkhawatirkan dengan terjadinya karakter hujan lokal itu, dibarengi dengan badai, dan hujan petir. Seperti kejadian banjir bandang di Kampung Cirawa Kertasari pada 6 Desember lalu yang sempat viral di media sosial.

"Kami analisa di wilayah sekitar lahan pertanian menyalahi pola tanam," ujarnya.

Melihat kondisi di lapangan seperti itu, Akhmad mengatakan, memasuki awal musim hujan ini, beberapa wilayah perlu diwaspadai setelah BPBD mencatat 57 kejadian banjir di Kabupaten Bandung selama tahun 2019 ini.

"Bencana banjir di Kabupaten Bandung sudah kita saksikan bersama, ketika curah hujan tinggi harus waspada. Selama ini, banjir bandang banyak terjadi di wilayah atas, seperti di Kertasari dan terjadi banjir genangan di bagian bawah. Kami melihat banjir bandang cukup dahsyat dan banjir genangan dengan elevasi rendah terjadi di Baleendah, Bojongsoang dan Dayeuhkolot," katanya.

Akhmad pun turut menyikapi ancaman banjir di Bojongsoang, menyusul pembangunan proyek perumahan elit Podomoro dengan proses pengurukan ketinggian 7 meter.

"Pembangunan Podomoro disinyalir berdampak pada potensi banjir. Selain itu Rancaekek dengan adanya pembangunan Kereta Cepat Indonesia Cina (KCIC). Pembangunan KCIC itu berdampak pada ancaman banjir di Desa Rancaekek Kulon, setelah air tertahan urukan pembangunan KCIC. Terbayang curah hujan tinggi air menerjang permukiman penduduk" ungkapnya.

Melihat potensi banjir tersebut, ia mengatakan, karakter banjir bandang tetap menjadi kehawatiran sejumlah pihak.

"Yang paling dikhawatirkan itu kawasan Majalaya karena aliran Sungai Citarum yang berasal dari aliran sungai di Kertasari, Kamojang, Ibun dan Paseh membelah kawasan Majalaya. Itu yang dikhawatirkan, dan kami terus koordinasi dengan Garda Caah, dan Jaga Balai dalam penanggulangan ancaman banjir di Majalaya," katanya.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA