1.074 Ponpes Bakal Menampilkan Produknya di Gedung Sate

Bandung Raya

Kamis, 12 Desember 2019 | 15:50 WIB

191212155046-1-074.jpg

PROGRAM One Pesantren One Program (OPOP) milik Pemerintah Provinsi Jawa Barat sudah berjalan. Bahkan, produk asli dari tangan para santri akan dipamerkan di Gedung Sate jalan Diponegoro, Sabtu (14/12/2019) mendatang.

Sedikitnya 1.074 pondok pesantren (ponpes) yang sudah memiliki produk akan menampilkan buah karya unggulannya, serta pondok pesantren yan memang sudah menerima program OPOP.

Selain itu, dalam gelaran untuk santri ini akan diisi berbagai kegiatan lain seperti talkshow dan temu bisnis.

Kepala UPTD P3W Diklat Perkoperasian dan Wirausaha Jabar, Deni Handoyo mengatakan, peserta pameran merupakan hasil seleksi program OPOP. Sehingga, mereka mendapatkan fasilitas gelar produk untuk mempromosikannya kepada publik.

“Jadi mereka yang lolos seleksi untuk program OPOP ini akan memamerkan produknya. Jadi masyarakat tau kalau pesantren ini punya usaha, punya nilai ekonomi,” kata Deni saat konferensi pers Gelar Produk di Hotel Braga Artotel, Kota Bandung, Kamis (12/12/2019).

Deni menuturkan, beragam produk akan ditampilkan sesuai dengan bidang usaha masing-masing pesantren. Mulai dari produk kuliner, fesyen, pertanian, peternakan, perikanan dan lainnya.

“Memang mayoritas nanti yang ditampilkan kuliner dan fesyen. Karena tidak mungkin kalau bawa produk peternakan atau perikanan, tapi kita fasilitasi semua. Jadi ada yang bentuknya foto atau media lainnya,” kata dia.

Menurut Deni, selain gelar produk, peserta OPOP ini juga akan mengikuti temu bisnis. Mereka akan dipertemukan dengan pembeli skala nasional bahkan internasional sebagai calon market produk mereka.

“Kita menghadirkan buyer-buyer yang akan menjadi market dari produk-produk pesantren tersebut. Skalanya tidak hanya nasional tapi Internasional,” ucap dia.

Deni mengatakan, program OPOP akan berjalan selama 5 tahun. Setiap tahunnya, diharapkan ada 1.000 pesantren yang mengikuti kegiatan OPOP. Sehingga, dalam kurun 5 tahun kepemimpinan Ridwan Kamil akan tercapai 5.000 pesantren yang mandiri, terutama di bidang ekonomi.

“Jadi nanti yang sudah mengikuti tahun ini, tidak bisa lagi ikut. Tapi mereka tetap akan mendapatkan pendampingan, pelatihan, hingga hadiah berupa bantuan modal usaha,” ujar Deni.

Melalui program OPOP, setiap pesantren diharapkan mampu menciptakan, mengembangkan dan memasarkan produk yang dihasilkan. Sehingga, pesantren akan mandiri, memiliki daya saing, dan tentunya semakin berkembang.

Sementara itu, Ketua Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren) Daarut Tauhiid (DT) Bandung, Peri Risnandar mengatakan, gelar produk OPOP bisa jadi sarana untuk membuka pandangan publik tentang dunia pesantren. Sebab, kini pesantren sudah banyak yang memiliki kemajuan. Bahkan, banyak pesantren yang memiliki sektor bisnis.

"Ini bisa memperlihatkan kepada masyarakat bahwa sebetulnya potensi pondok pesantren itu enggak hanya dari sisi dakwah dan sosial, tapi ada potensi ekonominya," ucap Peri dalam kesempatan yang sama.

Kopontren DT Bandung adalah salah satu yang membina peserta OPOP. Berbagai pembekalan dilakukan agar masing-masing pesantren bisa memiliki produk dan bisa bersaing. Selain Kopontren DT Bandung, ada empat pesantren lain yang jadi “mentor” dalam program OPOP, yaitu Koperasi Pesantren Al Ittifaq (Kabupaten Bandung), Koperasi Husnul Khotimah (Kuningan), Koperasi Al-Idrisiyah (Tasikmalaya), dan Koperasi Pesantren Nurul Iman (Bogor).

Pengamat Kewirausahaan sekaligus Dosen SBM ITB, Wawan Dhewanto mengatakan, OPOP adalah program inovatif. Sebab, melalui OPOP, pesantren dibina dan difasilitasi agar bisa mandiri dan memiliki daya saing ekonomi.

"Saya melihat OPOP ini satu program yang inovatif. Karena secara umum pondok pesantren adalah lembaga pendidikan dan pengajaran agama. Tapi ketika bisa masuk ke arah ekonomi, itu sebuah pendekatan yang out of the box, sesuatu yang inovatif," tutur Wawan.

Editor: Efrie Christianto

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA