DPRD Dorong Pengelolaan Sampah Berbasis Teknologi di Kota Bandung

Bandung Raya

Rabu, 11 Desember 2019 | 18:15 WIB

191211181159-dprd-.jpg

dok

Tumpukan sampah di sekitaran Masjid Raya Bandung Provinsi Jabar, beberapa waktu lalu. DPRD Kota Bandung mendorong penerapan pengelolaan sampah berbasis teknologi.

WAKIL Ketua DPRD Kota Bandung, Edwin Senjaya mendorong pengelolaan sampah di Kota Bandung memanfaatkan teknologi. Menurutnya, pengelolaan secara konvensional sudah tak layak lagi diterapkan.

"Jadi yang sifatnya konvensional, seperti sampah dikumpulkan lalu dibuang ke TPA, saya kira cara itu sudah enggak layak lagi diterapkan di era modern sekarang," tutur Edwin di Gedung DPRD Kota Bandung, Jln. Sukabumi, Kota Bandung, Rabu (11/12/2019).

Dikatakan Edwin, persoalan sampah harus sudah mulai dikelola lebih profesional. Termasuk didalamnya memanfaatkan pengelolaan sampah berbasis teknologi. Lebih jauh, ia mencontohkan negara Singapura, yang dinilai sangat baik dalam pengelolaan sampah.

"Sampah ini menjadi hal yang krusial terhadap lingkungan, maka perlu adanya inovasi dan teknologi yang sesuai," katanya.

Diakuinya, penerapan teknologi pengelolaan sampah di Kota Bandung saat ini masih terkendala dengan anggaran untuk pengadaan alat maupun sistem tersebut.

"Sebenarnya dicanangkan sudah lama sekali namun hingga saat ini belum terealisasi. Tapi sekarang saya berharap agar bisa terealisasi, sehingga akan dibicarakan antara legislatif dan eksekutif," ucapnya.

Dikatakannya meski dengan bantuan teknologi, penanganan sampah tidak dapat diatasi 100 persen. Peran serta masyarakat tetap dibutuhkan.

"Kalau 100 persen tidak mungkin. Tapi ini dapat lebih cepat mengurai sampah, sehingga membantu persoalan sampah yang terjadi di Kota Bandung," terangnya.

Seperti diketahui bersama, persoalan sampah masih menjadi pekerjaan rumah bagi Pemkot Bandung. Terlebih menjadi penyebab terjadinya banjir yang sering melanda Kota Bandung ketika musim penghujan.

Wali Kota Bandung, Oded M. Danial mengatakan, dalam mengantisipasi persoalan sampah dibutuhkan kultur yang baik dari warganya. Terutama kesadaran untuk menjaga lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan.

Menurutnya program Kang Pisman (Kurangi-Pisahkan-Manfaatkan) menjadi salah satu upaya dalam membentuk nilai baru di masyarakat, terkait pengelolaan sampah. Walau diakuinya untuk merubah budaya tersebut dibutuhkan waktu, yang dikatakan tidak sebentar.

"Jepang saja butuh waktu 40 tahun sehingga terbentuk budaya mereka, tentang pengelolaan sampah. Maka kalau kita tidak memulai sejak hari ini, kapan lagi," tambahnya.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA