Sekitar 80 Persen Warga Desa Cibeureum Kertasari Petani Sayur Mayur

Bandung Raya

Selasa, 10 Desember 2019 | 15:12 WIB

191210151308-sekit.jpg

Engkos Kosasih

LEBIH dari 80 persen warga Desa Cibeureum Kecamatan Kertasari Kabupaten Bandung penduduknya mayoritas petani dan buruh tani sebagai sumber ekonomi sehari-harinya. Mereka memanfaatkan lahan Perhutani, PT Perkebunan Nusantara dan lahan miliknya.

Termasuk para petani di Kampung Cirawa Blok Pasir Munding Desa Cibeureum memanfaatkan lahan Perhutani dan Perkenunan. Sebelumnya, di kawasan Kampung Cirawa diterjang banjir bandang pada Jumat (6/12/2019) lalu.

"Di Blok Pasir Munding itu sekitar 60 hektare lahan pertanian, yang umumnya ditanami sayur mayur. Sebagian besar lahan di Blok Pasir Munding itu merupakan lahan milik Perhutani," kata Kasi Perencanaan Desa Cibeureum yang juga Ketua Kampung Siaga Bencana Yadi Nurdiaman kepada galamedianews.com di Mapolsek Kertasari, Selasa (10/12/2019).

Yadi mengatakan, masyarakat di Desa Cibeureum tak ada mata pencaharian lain, selain bertani sayur mayur seperti kol, kentang, bawang daun, wortel dan sayuran lainnya.

"Itu sebagai sumber ekonomi mereka sehari-hari," katanya.

Sebelum terjadi banjir bandang menerjang kawasan Kampung Cirawa, imbuh Yadi, aparatur Desa Cibeureum, Muspika Kerasari dan Satgas Citarum Harum sedang melakukan pendekatan kepada para petani.

"Program sedang berjalan, sebagian masyarakat ada yang menerapkan program pertanian berbasis konservasi, ada juga yang tak melaksanakan," kata Yadi.

Yadi mengatakan, para petani tak dibebaskan begitu saja dalam mengelola lahan perkebunan atau pertajian.

"Lahan pertanian itu tak semena-mena ditanami tanpa aturan. Para petani diarahkan, dalam melaksanakan pertanian harus ada tanaman kayu keras. Di antaranya tanaman kopi, selain menggarap lahan pertanian dengan cara tumpang sari," katanya.

Yadi mengatakan, tanaman kopi yang sudah besar itu tak bisa ditanami sayur mayur. Apalagi jika tanaman kopi itu sudah besar, termasuk tanaman lainnya yang sudah besar dan setinggi 2 meter.

"Kami sedang melaksanakan revolusi mental para petani, cara bertani yang baik. Di antaranya, selain bertani sayuran, mereka diarahkan untuk menanam kopi yang bisa memberikan nilai positif secara ekonomi," katanya.

Menurutnya, menanam kopi dengan cara mengabaikan dalam pemeliharaan, juga masih bisa menghasilkan. Satu kali tanam kopi bisa dipanen hingga beberapa kali.

"Hasilnya pun cukup bagus bagi petani, jika dilihat dari sisi ekonomi," kata Yadi.

Editor: Brilliant Awal

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA