BPBD Lakukan Langkah-Langkah Assesment Ancaman Potensi Bencana Alam

Bandung Raya

Jumat, 6 Desember 2019 | 18:02 WIB

191206180306-bpbd-.jpg

MEMASUKI awal musim hujan 2019, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung sudah sedini mungkin mengambil langkah-langkah antisipasi kemungkinan terjadinya potensi ancaman bencana alam. Mulai dari ancaman banjir bandang, longsor dan angin puting beliuang atau angin kencang yang berada di kawasan pegunungan dan perbukitan.

"Sekarang sudah memasuki musim hujan, kita sudah mulai mengambil langkah-langkah mengantisipasi potensi ancaman bencana," kata Kepala Pelaksana Harian BPBD Kabupaten Bandung  Drs. H. Akhmad Djohara, M.Si., kepada wartawan di ruang kerjanya di Komplek Pemkab Bandung Soreang, Jumat (6/12/2019) sore.

Akhmad mengatakan, salah satu langkah yang dilakukan BPBD, di antaranya menginventarisir berbagai persoalan dan potensi ancaman bencana tersebut. Langkah-langkah itu pun dilakukan, imbuh Akhmad, setelah pihaknya menerima banyak laporan dari aparat kewilayahan dan masyarakat  sekitar.

"Mendapat laporan itu, kita inten melakukan assesment ke lapangan. Hasil dari assement tersebut didiskusikan bersama, untuk melakukan langkah-langkah berikutnya," katanya.

BPBD pun turut menyikapi persoalan lahan hutan yang disebabkan peristiwa kebakaran dan terjadi alih fungsi lahan akan berdampak pada lingkungan. Terkait dengan kondisi lapangan seperti itu, pihaknya mengingatkan kepada seluruh lapisan masyarakat di desa-desa untuk waspada terhadap ancaman banjir.

"Mengingat saat ini cuaca masuk ke musim hujan," katanya.

Lebih lanjut Akhmad mengatakan, dari hasil assement di lapangan itu ditindaklanjuti dan dikomunikasikan dengan pihak pengusaha, aparat pemerintah kecamatan dan desa.

"Kita juga melihat ada beberapa hal yang harus diantisipasi pasca peristiwa kebakaran hutan yang cukup luas di sejumlah kawasan hutan atau pegunungan di Kabupaten Bandung. Selain itu ada beberapa kerusakan lingkungan yang disebabkan galian C," katanya.

Ia mengatakan, dengan adanya proyek galian C itu satu sisi masyarakat membutuhkan pembangunan perumahan. Tetapi pihak pengembang harus memperhatikan dampak yang ditimbulkan, yaitu larian air dari kawasan pembangunan perumahan tersebut.

"Pembangunan perumahan dengan tidak memperhitungkan aliran air, dikhawatirkan akan berpotensi terjadi sumbatan air disaat memasuki turun hujan," katanya.

Akhmad juga turut menyikapi pembangunan Kereta Cepat Indonesia China (KCIC). Ia berharap ada solusi untuk penanggulangan ancaman banjir karena melihat urukan tanah yang cukup tinggi dan dikhawatirkan berpotensi terjadi banjir di Desa Rancaekek Kulon Kecamatan Rancaekek karena proyek urukan KCIC tersebut.

"Itu harus didiskusikan dan dikomunikasikan. Jangan sampai pada puncak musim hujan, air bah menerjang permukiman warga," ujarnya.

Akhmad juga turut memantau dan mengawasi perkembangan yang terjadi di Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung yang merupakan kawasan Bandung Utara, terutama di saat memasuki musim hujan.

"Kita sudah melakukan assesment dan hasilnya sangat mengkhawatirkan karena banyak lahan kritis berpotensi terjadi banjir," ucapnya.

Ia melihat di kawasan Cimenyen banyak lahan hutan gundul sehingga berpotensi banjir di saat musim hujan. Potensi  banjir bandang itu, imbuhnya, bisa terjadi setelah kemarau cukup lama, selain terjadi kebakaran hutan yang cukup luas. "Untuk itu, kami mengimbau kepada warga untuk waspada di musim penghujan. Warga harus hati-hati dan waspada. Di saat terjadi turun hujan, apalagi saat berkendara lebih baik  berteduh di tempat yang aman. Jangan memaksakan di saat terjadi turun hujan ekstrem," katanya.

Akhmad juga melihat saat ini sudah mulai terjadi turun hujan lokal yang diiringi dengan badai atau hujan angin. Potensi turun hujannya selama 10 sampai 20 menit. "Dengan adanya kehati-hatian warga itu, jangan sampai terjadi hal yang tidak diinginkan, apalagi terjadi korban jiwa," ucapnya.

Akhmad pun turut memantau potensi titik longsor dan angin puting beliung, yaitu bisa terjadi di kawasan pegunungan atau perbukitan. Hampir di semua wilayah pegunungan atau perbukitan berpotensi ancaman kongsor.

"Sudah barang tentu, dengan kondisi lahan berbukit dan pegunungan,  memasuki musim hujan berpotensi longsor. Ini perlu kehati-hatian semua pihak," jelasnya.

Akhmad mengatakan, sudah banyak upaya yang dilakukan BPBD dalam mengantisipasi potensi bencana memasuki  musim hujan, walau belum maksimal.

"Kami berharap upaya gerakan penghijauan yang melibatkan Satgas Citarum Harum dan saat ini memasuki tahun ketiga dari yang diprogramkan selama tujuh tahun kedepan, kawasan hutan di hulu Sungai Citarum bisa kembali hijau. Dengan harapan bisa mengurangi ancaman banjir," katanya.

Ia menjelaskan kawasan yang rawan terjadi angin puting beliung atau angin kencang, yaitu di kawasan Pangalengan, Kertasari dan Rancabali. "Dampak dari angin kencang yang berasal dari pegunungan itu cukup potensi mengganggu kondisi kehidupan masyarakat. Seperti yang terjadi beberapa waktu lalu di Pangalengan dan Kertasari, dampak angin kencang aliran listrik padam dan akses lalulintas terputus karena tertutup pohon tumbang," pungkasnya.

Akhmad juga menginformasikan kepada warga di saat menghadapi bencana alam bisa menghubungi call center Pusdalops BPBD Kabupaten Bandung (022) 85872591.

Editor: Efrie Christianto

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA