Industri Vape Berpotensi Sumbang Devisa Mencapai Rp 2 Triliun

Bandung Raya

Kamis, 5 Desember 2019 | 17:00 WIB

191205165713-indus.jpg

Rio Ryzki Batee

INDUSTRI vape menyumbangkan pendapatan negara yang cukup signifikan kedepannya dengan potensi hingga Rp 2 triliun. Pada tahun 2019 ini, diperkirakan dapat mencapai Rp 1 triliun.

"Walau saya bukan perokok atau pengguna vape, tapi pemerintah harus memberikan perhatian lebih terhadap hal ini. Karena jika sudah melibatkan cukai, maka vape ini sudah jadi perhatian. Bahkan meningkat terus dari sebelumnya 52 persen, kini sudah 65 persen cukainya," ungkap Anggota Komisi VI DPR RI, Adisatrya Suryo Sulisto‎ pada seminar bertajuk, 'Resolusi 2020 I choose to be healthier' di Jln.  Gudang Selatan, Kota Bandung, Kamis (5/12/2019).

Diakuinya, meski banyak berita negatif mengenai vape, namun ada juga sisi positifnya, seperti hasil dari berbagai penelitian bahwa vape 95 persen jauh lebih aman daripada merokok.

"Penelitian itu dilakukan di Inggris, namun kita jangan telan bulat-bulat, dan perlu ada riset yang mendalam mengenai hal tersebut. Penelitinya harus dari Indonesia sehingga apapun hasilnya nanti, bisa dipertangungjawabkan dengan baik," tuturnya.

Dikatakannya, dari sisi industri inilah yang bisa menjadi pintu agar vape diperhatikan, sebab makin banyaknya pengguna vape di Indonesia. Terlebih dari data yang diperolehnya Indonesia merupakan konsumen rokok terbesar di dunia.

"Untuk vape ini Industrinya kan bermacam-macam, mulai dari device (alat penghisap) hingga liquid dengan berbagai rasa. Ini bisa menjadi industri baru yang dikembangkan di Indonesia, dan menyerap investor yang ada," jelasnya.

Sementara itu, Dirut Vapemagz Indonesia, Bernaldi Djemat mengatakan bahwa pemerintah seharusnya mendukung industri vape. Sehingga ada perlakuan yang sama antara industri rokok dan vape di Indonesia.

"Kita melihat sekarang ini berita tentang vape yang negatif banyak bersliweran. Padahal vape adalah alternatif lain untuk berhenti merokok, dan saya jamin jauh lebih aman," ujarnya.

Ia menerangkan terkait penelitian di London Inggris memang benar, bahkan hingga memiliki gerai vape di depan rumah sakit. Padahal jika memang benar berbahaya, tentunya tidak akan ada gerai tersebut di dekat rumah sakit.

"Di London juga di rumah sakitnya ada ruangan khusus untuk vape. Mengapa di rumah sakit ada ruangan vape karena banyak orang yang ingin berhenti merokok datang ke rumah sakit. Nah jika sudah pulang inget merokok lagi, bisa memakai vape untuk alternatif," jelasnya.

Oleh karena itu, Aldi berharap kepada pemerintah memberikan perhatiannya pada vape ini. Selain dari segi industri yang menjanjikan, juga dari segi kesehatan para pengguna vape itu sendiri.

"Kami berharap ada perhatian dari pemerintah, karena dapat menjadi alternatif bagi perokok," tambahnya.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA