Banyak Faktor yang Menyebabkan Rendahnya IPK Jabar

Bandung Raya

Kamis, 5 Desember 2019 | 06:04 WIB

191205061006-banya.jpg

Kiki Kurnia

BANYAK faktor yang mempengaruhi Indeks pembangunan kebudayaan (IPK) Jabar di bawah standar nasional. Saat iji IPK Jabar menduduki peringkat 18 atai sekitar 51,2 % dari 33 provinsi di Indonesia.

Salah seorang seniman/budayawan Kabar, Buky Wibawa Karya Guna menyebutkan, salah satu faktor IPK Jabar masih rendah adalah identitas Jabar tidak terasa saat masuk ke wilayah Jabar. Berbeda dengan Yogyakarta, saat masuk wilayahnya aura Yogyakartanya sangat terasa, seperti saat masuk ke hotel hotel maupun restoran.

"Berbeda saat kita masuk ke hotel hotel maupun restoran di Jabar yang lebih menonjolkan aura internasional, sangat jarang yang menonjolkan aura kedaerahan (lokal)," kata Buky yang akrab disapa Buky Wikagoe pada wartawan disela-sela FGD IPK Jabar di Hotel Papandayan Bandung, Kamis (5/12/2019).

Buky pun meminta pada pemerintah daerah agar menginstruksikan setiap hotel maupun restoran menonjolkan kedaerahan, seperti musik gamelan atau kecapi suling, memamerkan gamelan Jabar minimal berbentuk mini gamelan dan ditempatkan di panggung khusus.

"Untuk itu perlu koordinasi dan komunikasi yang lebih inten antara pemerintah dan dunia usaha. Kalau perku ada kebijakan yang tegas dari pemerintah," tambahnya.

Buky pun menyoroti masalah karakter kebudayaan yang kurang dibangun di masyarakat terutama dikalangan masyarakat melalui kesenian, seperti penca silat. Menurut Buky, penca silat mengandung filosofi yang sangat kuat untuk membangun karakter seseorang (manusia Indonesia), apalagi penca solat akan diakui oleh Unesco warisan budaya tak benda asli Indonesia.

"Kenapa penca silat tidak dijadikan muatan lokal wajib di sekolah-sekolah, terutama sekolah tibgkat dasar? Kalau hal ini diterapkan akan terekam dan tersimpan hingga dewasa," tandasnya.

Buky pun menyoroti masih kurangnya ruang-ruang pertunjukan seni yang representatif di Jawa Barat. Akibatnya berdamlak pada rendahnya apresiasi masyarakat Jawa Barat pada kesenian.

"Saat ini, apresiask masyarakat Jabar paling rendah di Indonesia. Padahal Jabar memiliki potensi yang sangat tinghi dibidang kesenian dan kebudayaan," tandasnya.

Hal yang sama dikatakan sejiman lainnya, Iman Soleh. Menurut pengelola komjjitas Celah Celah Langit (CCL) ini, ruang ruang pertunjukan seni lebih banyak di kampus-kampus tidak menyebar ke masyarakat.

Ia mencotohkan pertunjukan senindi Kampus ISBI dalam setahun bisa mencapai 180 lebih bahkan bisa mencapai 200.

"Harusnya pemerintah berinisiatif menarik pertunjukan-pertunjukan seni dari kampus ini ke luar, semisal ke Taman Budaya, terutama seni yang unggulan. Buat apa ada taman budaya kalau tidak ada pergerakan kebudayaan di sana," tandasnya.

Menurut Iman, banyak ruang pertunjukan seni di Jabar namun tidak representatif. Kalau pun Pemprov Jabar ingin membangun gedung pertunjukan yang megah dan representatif, tapi itu masih wacana hingga sekarang.

"Daripada membangun yang baru, lebih baik perbaiki dan optimalkan yang sudah ada," tambahnya. Sementara itu, Rektor ISBI Een Herdiani memgsulkan agar dilakukan riset terlebih dahulu soal rendahnya IPK Jabar. Kalau perlu dilakukan study banding ke daerah lain.

"Memang soal hudaya agak susah dalam penilaiannya. Tetapi pusat sudah mengeluarkan tujuh indikator penilai kebudayaan, ini yang bisa digali akar permasalahannya," tandas Een.

Sehari sebelumnya, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jabar, Febiyani membuka forum grup discussion (FGD) soal rendahnya Indeks Pembangunan Kebudayaan (IPK) Jabar di Hotel Papandayan Bandung.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA