Pemkab Bandung Barat Ancam Cabut IMB Perumahan Bersubsidi

Bandung Raya

Rabu, 4 Desember 2019 | 17:43 WIB

191204174400-pemka.jpg

Dicky Mawardi

IZIN Mendirikan Bangunan (IMB) kompleks perumahan bersubsidi yang dibangun PT Sukses Bangun Parahyangan di Desa Jayamekar, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat bisa dibekukan atau dicabut. Pengembang ini sedang membangun dua kompleks perumahan, yaitu Bukit Parahyangan Residence, dan Parahyangan Hill Residence.

"IMB dapat dibekukan atau dicabut apabila dalam waktu 6 bulan sejak diterbitkan belum melaksanakan kegiatan pembangunan," kata Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu, Ade Zakir melalui sambungan telepon, Rabu (4/12/2019).

Ia mengungkapkan, kedua perumahan bersubsidi tersebut sudah memiliki izin lokasi. Namun baru satu yang memiliki IMB, yaitu yang berlokasi di Blok Gantungan, RT 04/RW 09, Desa Jayamekar.

"Kami harus cek dulu ke lapangan. Karena info sementara dari dua lokasi, ada satu yang sudah dilakukan pembangunan," ungkapnya.

Informasi yang dihimpun "GM", yang sudah berdiri beberapa unit rumah yaitu di Bukit Parahyangan Residence. Sementara di Parahyangan Hill Residence masih berupa lahan kosong.

Sementara itu, Komisi III DPRD Kabupaten Bandung Barat berjanji akan terjun ke lokasi yang akan dijadikan perumahan bersubsidi, Bukit Parahyangan Residence, dan Parahyangan Hill Residence di Desa Jayamekar.

"Kami juga akan mengundang Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim) dan SKPD terkait lainnya untuk menerangkan persoalan tersebut," kata Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Bandung Barat, Iwan Ridwan.

Sebelumnya diberitakan, penjualan rumah bersubsidi di Desa Jayamekar diduga bermasalah. Salah seorang pembeli rumah bersubsidi tersebut, Iwan Saiman Gumiwang (43). Ia membeli rumah tesebut pada November 2016.

Iwan memesan kavling L-10 di Perumahan Parahyangan Hill Residence untuk pembangunan rumah tipe 36/72. Rumah tersebut dipatok harga Rp 114 juta ditambah uang muka Rp 6 juta dan peningkatan mutu Rp 82 juta, sehingga totalnya Rp 202 juta.

"Saya tahu ada kompleks perumahan tersebut dari internet. Fasilitasnya menarik, membuat saya tertarik ingin membelinya," kata Iwan warga Cimahi, Senin (2/12/2019).

Ia kemudian membayar booking fee Rp 1 juta, uang muka Rp 6 juta, dan cicilan pertama Rp 11 juta. Selanjutnya, ia membayar cicilan Rp 3,3 juta per bulan selama 20 bulan. Sehingga total yang sudah dibayarkan mencapai Rp 74 juta.

"Sudah banyak uang yang saya keluarkan namun sampai sekarang tak ada kepastian kapan dibangunnya," keluhnya.

Ia sempat meninjau lokasi pembangunan perumahan pertama kali. Kata Iwan, kondisinya masih berupa lahan kosong yang belum digarap. Dirinya sama sekali tidak curiga dengan pengembang perumahan tersebut lantaran sudah ada rekam jejak sebelumnya.

"Sudah ada perumahan yang dibangun pengembang tersebut dan sekarang sudah berpenghuni. Sehingga saya tidak curiga kalau pengembang ini akan macam-macam," kata Iwan yang bekerja sebagai pengemudi ojek daring ini.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA