Masalah Sampah Sangat Berkaitan dengan Prilaku Manusianya

Bandung Raya

Rabu, 4 Desember 2019 | 10:55 WIB

191204105710-masal.jpg

PETUIGAS UPT Pengangkutan Sampah Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung Noor Rochman mengatakan, persoalan sampah berkaitan dengan prilaku manusia. Jika sampah rumah tangga tidak dikelola dengan baik akan terjadi penumpukan sampah. Tetapi sejauh ini Kabupaten Bandung belum pada kondisi darurat sampah karena masih bisa dikendalikan.

"Sudah lama Pemerintah Kabupaten Bandung melalui Dinas Lingkungan Hidup memprogramkan, kurangi sampah dari sumbernya. Dengan harapan Kabupaten Bandung bebas sampah, meski setiap hari sampah terus ada dan dihasilkan dari aktivitas manusia sehari-hari," kata Noor Rochman kepada galamedianews.com melalui sambungan telepon, Rabu (4/12/2019).

Ia pun memberikan pesan moral kepada masyarakat, terkait penanganan sampah dan memperlakukan sampah yang dihasilkannya.

"Buanglah sampah pada tempatnya. Jangan buang sampah sembarangan, apalagi membuang sampah ke sungai. Jangan sampai di halaman rumah bersih dari sampah, tetapi sampahnya dibuang sembarangan. Karena itu, kelola sampah dengan baik," katanya.

Berkaitan dengan pengelolaan sampah, ia pun gencar melakukan sosialisasi kepada masyarakat umum di wilayah kerjanya. Melalui program Citarum Harum, jajaran Satgas Citarum Harum Sektor 4 bersama Noor Rochman kerap mendatangi sejumlah desa dan SLTA di Kecamatan Majalaya untuk menyampaikan program pemerintah pusat hingga ke daerah. Program ini pun sinergis dengan program raksa desa yabg digulirkan Pemkab Bandung.

Salah satunya dalam pelaksanaan program Citarum Harum itu, ia menyampaikan edukasi kepada masyarakat terkait permasalahan sampah yang dihasilkan masyarakat Kabupaten Bandung.

"Sampah yang dihasilkan masyarakat Kabupaten Bandung sebanyak 1.440 ton per hari. Sementara yang bisa diangkut ke tempat pembuangan akhir sampah (TPA) 320 ton per hari. Artinya, dalam setiap hari mencapai 1.100 ton sampah tidak terangkut," katanya.

Lantas kemana sampah yang tidak terangkut sebanyak itu? Ia menjelaskan, sampah yang tak terangkut itu sebagian dikelola oleh para pemulung, selain para pengelola sampah atau barang bekas dari sisa sampah tersebut.

"Ditambah lagi, saat ini ada sekitar 58 desa di Kabupaten Bandung sudah mulai mengelola bank sampah di desa maupun di lingkungan RW-nya masing-masing. Sehingga dapat mengurangi pembuangan sampah ke TPA," jelasnya.

Untuk mengurangi sampah rumah tangga itu, imbuh Noor Rochman, sejumlah warga sudah mulai sadar membuat lubang cerdas organik (LCO), sehingga sampah organik dibubuhkan ke LCO untuk dijadikan pupuk kompos. Hal itu sebagai bentuk pengurangan sampah yang dibuang ke TPA.

"Mengingat saat ini, Kabupaten Bandung belum memiliki TPA. Sementara sampah yang dihasilkan dibuang ke TPA Sarimukti dengan anggaran setiap tahun mencapai Rp miliar," ungkapnya.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA