Hapuskan Stigma, Dokter dan Perawat Jangan Menghindar Jika Mendapati Pasien HIV/AIDS

Bandung Raya

Minggu, 1 Desember 2019 | 11:23 WIB

191201112222-hapus.jpg

Yeni Siti Apriani

KETUA Pelaksana Hari AIDS Sedunia sekaligus Ketua Departemen FGD Unpad, Irna Sufiawati membenarkan stigma tertular dengan HIV/AIDS masih ada. Bahkan hal itu pun masih terjadi dikalangan dokter gigi karena banyak dokter gigi menolak pasien dengan HIV/AIDS.

"Saya sering ngobrol sama temen ODHA katanya diPHP-in (pemberi harapan palsu). Iya dilakukan tindakan tapi dirujuk. Tetapi ada juga berani melakukan, dokter di RS swasta atau RSHS. Banyak yang bilang masih belum siap, teman-teman masih takut tindakan itu, bergaul juga takut padahal ilmunya sudah tahu, salaman atau berpelukan tidak menularkan," ungkap Irna usai perayaan Hari AIDS Sedunia di CFD Dago, Jln. Ir. H. Djuanda, Kota Bandung, Ahad (1/12/2019).

Hari ini, 1 Desember diperingari sebagai Hari AIDS Sedunia. Menurut Irna, peringatan kali ini merupakan peringatan pertama di Bandung yang dilakukan oleh para pakar dokter gigi.

"Dokter gigi ini pertama, ikut kontribusi, sebagai implementasi seminar internasional 'The 8th World Workshop on Oral Health and Disease in AIDS'," tuturnya.

Masih kata Irna, didunia dari dulu pertama kali ada kasus AIDS, pakar-pakar kesehatan gigi dan mulut merintis seminar tersebut. Pasalnya, mereka menemukan bahwa di dalam rongga mulut bisa mendeteksi awal HIV/AIDS. Mereka membuat seminar di Los Angeles dan kedua di San Francisco. Seminar itu dilakukan 4-5 tahun sekali, dan untuk yang ke-8 dilakukan di Indonesia.

Indonesia, lanjut Irna, ditunjuk sebagai tuan rumah sebab mempunyai kontribusi atau kebutuhan karena akan disupport pihak-pihak luar negeri untuk mencapai tujuan three zero, zero infeksi HIV/AIDS baru, zero kematian AIDS, zero stigma dan diskriminasi.

"Peran dokter gigi belum banyak yang tahu padahal penting. Gejala primis HIV/AIDS awal bisa diketahui di rongga mulut dulu misal putih-putih awal seseorang terinfeksi. Gejala tidak ada tapi saat gigi dicabut atau ditambal ada gejala itu. Awal nyabisa deteksi dini sehingga bisa diarahkan tes HIV AIDS," terangnya.

Irna mengungkapkan, ada 100 penyakit mulut mulai dari perawatan gigi, infeksi jamur, virus, bakteri, teraphy hiv aids, kelebihan pewarna, hingga mulut kering tanda HIV sudah kelihatan.

Karenanya lanjut di, dibutuhkan seminar untuk mengedukasi dan sosialiasi masyarakat, dokter-dokter dan perawat agar tidak lagi menghindar kalau mendapati pasien dengan HIV AIDS.

"Kalau nenghindar malah enggak open, makanya kita edukasi dokter gigi juga harus diterapkan bahwa semua pasien diperlakukan sama, sterilsasi dulu enggak tiba-tiba. Jangan ditolak atau dirujuk, akhirnya dia tidak open statusnya dan dokter tidak tahu dia sudah positif HIV/AIDS," paparnya.

"Dokter gigi itu alat-alatnya tajam, kita tahu transfusi lewat darah bisa tertular bila lewat darah dan luka. Tetapi kalau penindakan kita (dokter gigi) itu kemungkinan kecil ini yang sekarang digalakkan untuk mengubah stigma atau dokter gigi tanpa stigma," tegasnya lagi.

Ditengah stigma yang masih melekat kuat, termasuk akibat kurikulum yang masih kurang, menurut Irna para lulusan dokter gigi harus siap menerima pasien HIV/AIDS padahal sebenarnya sudah diajarkan penerapan tindakan.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA