Bangunan Sekolah St Angela Dibongkar Tanpa Izin

Bandung Raya

Kamis, 21 November 2019 | 22:56 WIB

191121231212-bangu.jpeg

whatsapp


SATU lagi bangan cagar budaya (BCB) di Kota Bandung dibongkar tanpa ada ijin dari Pemerintah Kota Bandung. Bangunan yang dibongkar tanpa ijin tersebut, yakni gedung sekolah Santa Angela yang berada tepat di depan Balai Kota Bandung.

Pembongkaran dengan dalih renovasi ini menambah daftar panjang gedung BCB yang dibongkar pemiliknya tanpa koordinasi dengan tim cagar budaya maupun dengan pemerintah Kota Bandung..

"Padahal gedung St Angela masuk bangunan cagar budaya golongan A yang seharusnya mendapat perhatian lebih dari pemilik (pengelola) maupun pemerintah untuk dijaga keutuhan bangunannya," ujar Tim Ahli Cagar Budaya Kota Bandung, David Bambang Soediono kepada wartawan usai melakukan sidak langsung ke sekolah ST Angela, Kamis (21/11/2019) sore

Dari hasil pantauannya, pihak kontraktor dan pengelola terus melakukan pembongkaran. Padahal sudah ada kesepakatan untuk tidak merubah bahkan mengganti banhan bangunan dengan bahan lainnya.

"Namun mereka tetap melanjutkan pembongkaran dan tidak ada satupun dari mereka yang mau menemui tim ahli cagar budaya," ujarnya

David sangat menyayangkan dengan kebebalan kontraktor dan pengelola ST Angela "Padahal mereka sudah mendapat peringatan dari Pemerintah Kota Bandung," katanya seraya menyayangkan keterlambatan pihak terkait (Pemkot Bandung) yang lamban menanganai masalah ini

"Kalau terus dibiarkan dan diberi kelonggaran, akan semakin habus bangunan cagar budaya di Kota Bandung".

Pada kesempatan itu, David pun menyerahkan kronologis lengkap soal pembongkaran bangunan atap sekolah ST Angela. Berikut kronologisnya :

1. Tanggal 20 September 2019, Pihak Sekolah St.Angel;a mendapat surat dari Dinas Penataan Ruang Kota Bandung yang bersifat “Berita Acara Pemeriksaan dan Pengawasan” lapangan, tatapi surat tersebut belum resmi, karena belum ditandatangani oleh Penyidik Koordinator Pengawasan Fisik Bangunan pada seksi Pengawasan Tata Ruang dan Bangunan Wilayah Cibeunying dan Kepala Seksi Pengawasan Tata Ruang dan Bangunan serta belum dicap stempel resmi dinas. Jadi bisa dikatakan bahwa surat tersebut adalah surat mentah.

2. Bangunan tersebut sudah dinyatakan sebagai Bangunan cagar budaya Golongan A, bukan saja berdasarkan Peraturan Daerah Kota Bandung nomor 7 tahun 2018 tentang Pengelolaan Cagar Budaya tetapi malahan sudah ditetapkan oleh Peraturan Daerah No.19 tahun 2009 dan juga tercantum sebagai Bangunan Cagar Budaya didalam Peraturan Daerah No.18 tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Bandung.

3. Berbekal surat mentah pada butir 1 diatas, Pihak St.Angela mulai melakukan pembongkaran dan penggantian konstruksi serta bahan penutup atap. Pada tahap awal, pembongkaran dilakukan pada sayap utara bangunan yang memanjang dari arah barat (Jalan Merdeka) ke timur.

4. Terjadi penggantian bahan, baik bahan konstruksi atap yang semula terbuat dari kayu balok menjadi konstruksi atap terbuat dari bahan baja ringan dan penggantian bahan penutup atap dari bahan genteng tanah liat bakar berukuran kecil berupa genteng kodok menjadi genteng keramik hasil industri masa kini yang berukuran besar.

5. Perombakan dan penggantian bahan konstruksi dan bahan penutup atap tahap 1 sudah selesai Perombakan dan penggantian bahan konstruksi dan bahan penutup atap tahap 1 sudah selesai beberapa minggu yang lalu.

6. Sejak akhir minggu (tercatat hari jum’at tanggal 15 November 2019) pembukaan atap tahap kedua dimulai dan pada tahap ini adalah Bangunan Utama yang memanjang dari utara ke selatan dan menghadap seluruhnya ke Jalan Merdeka yang mendapat giliran.

7. Hari Senin pagi tanggal 18 November 2019, pekerjaan ini sempat dihentikan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung dan kepada fihak sekolah dan pemborong pelaksana diminta untuk memberikan klarifikasi dihari selasa siang tanggal 19 November 2019.

Klarifikasi diberikan dihadapan Tim Ahli Cagar Budaya Kota Bandung yang memang bersidang setiap hari selasa siang.

8. Pada acara klarifikasi tersebut terungkap bahwa seluruh pekerjaan ini dilakukan secara sembrono dan tidak mengikuti kaidah-kaidah yang berlaku untuk penanganan bangunan cagar budaya, terlebih lagi untuk Bangunan Cagar Budaya Golongan A yang merupakan peringkat paling tinggi dan harus dikerjakan dengan tingkat ke hati-hatian yang amat tinggi.

Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Bandung menilai ceroboh karena proses pembongkaran dan penggantian konstruksi dan bahan penutup atap tidak didahului oleh kajian serta penelitian seksama.

TACB juga menilai bahwa terjadi pelanggaran terhadap ketentuan hukum dimana di dalam Peraturan Daerah No.14 Tahun 2018 tentang Bangunan Gedung Gedung Bab I Pasal 1 ayat 22 dinyatakan bahwa selain membangun baru, mengubah, memperluas, mengurangi bahkan merawat bangunan gedung (walaupun bukan bangunan cagar budaya sekalipun) dibutuhkan Surat Izin Mendirikan Bangunan, TACB meminta agar keadaaan dipulihkan kembali agar keadaan aslinya dalam waktu sesingkat-singkatnya, artinya Konstruksi berupa Kuda-Kuda kayu, gording kayu, jurai kayu, kasau-kasau kayu sama dan tidak perlu seluruhnya diganti, tetapi cukup dibatasi pada bagian-bagian yang lapuk saja. Demikian juga genteng penutup atap yang lama harus dipasang kembali kecuali yang sudah rusak digantikan oleh genteng jenis dan ukuran yang sama. Kebocoran yang terjadi tidak serta merta boleh dijadikan alasan untuk mengganti seluruh atap yang ada.

Konstruksi kayu harus dikembalikan lagi dan tidak bisa digantikan oleh konstruksi baja ringan karea terdapat perbedaan prinsipil mengenai distribusi gaya berat diantara kedua jenis konstruksi tersebut.

9. Menurut Undang-undang No.11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, didalam pasal 66 dan pasal 105 secara tegas dinyatakan bahwa perusakan (bangunan) Cagar Budaya walaupun hanya bagian-bagiannya saja diacam dengan hukum pidana denda antara Rp. 500.000.000,- hingga Rp.5.000.000.000,- dan/atau pidana penjara antara 1 tahun hingga 15 tahun.’

10. Acara klarifikasi hanya dihadiri fihak kontraktor saja tanpa didampingi pihak sekolah. Sebuah hal yang disesali karena pembahasan menjadi tidak tuntas.

11. Fihak pemborong berjanji akan mematuhi semua ketentuan yang telah ditetapkan artinya akan mengambalikan lagi konstruksi kayu dan genteng atap lama seutuhnya dan tidak diganti oleh bahan-bahan lain seperti misalanya konstruksi baja ringan dan genteng keramik hasil industri.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA