Pantas Kota Bandung Sering Banjir, Ternyata Begini Kondisi Lahan di KBU

Bandung Raya

Rabu, 20 November 2019 | 20:23 WIB

191120202404-panta.jpg

ist

Kondisi lahan kritis di Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung.


WILAYAH Kota maupun Kabupaten Bandung sejak beberapa tahun terakhir tak pernah luput dari banjir. Selain karena sampah dan saluran air yang dipenuhi sedimentasi, kondisi itu juga tak bisa lepas dari kritisnya lahan di Kawasan Bandung Utara (KBU).

Salah satu daerah yang masuk KBU yaitu Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung. Lahan kritis di sana sudah semakin luas, mencapai ribuan hektare dan diperlukan penanganan serius. Penanggulangannya pun harus ada sinergitas di antara pemilik lahan maupun pemerintah.

Lahan kritis itu menjadi persoalan serius dalam permasalahan lingkungan. Pasalnya, lahan kritis yang tersebar di kawasan Cimenyan yang merupakan kawasan perbukitan dapat mengancam bencana banjir bagi kawasan yang ada di bawahnya disaat terjadi turun hujan deras atau memasuki musim hujan.

Ancaman lainnya adalah bencana longsor akibat kondisi lahan kritis setelah terjadi alih fungsi lahan. Lahan kritis itu umumnya pada lahan milik warga yang saat ini dimanfaatkan sebagai kawasan pertanian sayur mayur maupun palawija. Selain di antaranya lahan kosong.

Anggota DPRD Kabupaten Bandung Juwita mengaku prihatin melihat kondisi lahan kritis pada tanah adat atau tanah milik masyarakat tersebut. Atas keprihatinan itu, Juwita bersama sejumlah pihak melakukan peninjauan lahan kritis di Kecamatan Cimenyan yang mencapai ribuan hektare tersebut.

"Lahan kritis milik rakyat yang berada pada hamparan di luar kawasan hutan itu mencapai ribuan hektare," kata Juwita, Rabu (20/11/2019).

Juwita menuturkan untuk penanggulangan lahan kritis di Kecamatan Cimenyan itu harus ada kesadaran dari semua pihak. Mulai dari masyarakat sebagai pemilik lahan, aparatur desa, muspika, pemerintah Kabupaten Bandung, dan pihak lainnya.

"Bagusnya lahan kritis itu tidak ditanami sayuran karena tidak menyerap air saat musim hujan. Sebaiknya ditanami pohon keras untuk menanggulangi lahan kritis selain sebagai upaya antisipasi ancaman banjir dan longsor," kata Juwita.

Juwita memandang lahan kritis itu terus-menerus ditanami sayuran karena faktor ekonomi masyarakat yang mengantungkan kebutuhan hidupnya pada hasil pertanian.

"Sementara lahan milik masyarakat yang ditanami sayur mayur itu merupakan daerah resapan air. Seperti mereka tidak berpikir panjang, bahwa lahan kritis itu dapat mengakibatkan banjir dan longsor ke wilayah Kota Bandung," tuturnya.

Seperti halnya bencana banjir yang terjadi pada beberapa waktu silam di kawasan Cicaheum Kota Bandung. Banjir yang menyatu dengan endapan lumpur itu, airnya berasal dari kiriman di Kecamatan Cimenyan.

"Setelah bencana banjir di kawasan Cicaheum itu, Pemkab Bandung dengan melibatkan sejumlah pihak sempat melaksanakan gerakan penghijauan pada lahan kritis di Kecamatan Cimenyan. Gerakan penghijauan itu harus dilaksanakan berkesinambungan dalam upaya memulihkan lahan kritis menjadi kawasan hijau," paparnya.

Bahkan dalam upaya gerakan penghijauan itu, lanjut Juwita, sudah ada pemanfaatan tanah carik Desa Cimenyan yang dijadikan kawasan hutan sabilulungan. "Tapi luasan lahannya masih sedikit sekali, kurang lebih 5 hektare," pungkasnya.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA