Pemkot Bandung Apresiasi Langkah Gojek Kurangi Penggunaan Plastik

Bandung Raya

Selasa, 19 November 2019 | 14:24 WIB

191119142457-pemko.jpg

Irwina Istiqomah


KOTA Bandung menghasikan 1.600 ton sampah per hari. Volume sampah yang paling besar disumbang oleh sampah plastik dengan jumlah 170 jenis plastik per tahun.

Sampah plastik tersebut berasal dari pasar tradisional, retail, dan masyarakat sebagai pengguna. Hal ini menjadi permasalahan serius terhadap kelestarian lingkungan yang membutuhkan perhatian dari semua elemen masyarakat.

Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung menggandeng perusahaan teknologi Gojek untuk menggaungkan pentingnya mengurangi penggunaan plastik. Komitmen tersebut diwujudkan dengan Peraturan Wali Kota Bandung No. 37/2019 tentang Petunjuk Pelaksanaan Perda No. 17/2012 tentang Pengurangan Penggunaan Kantong Plastik.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Bandung, Kamalia Purbani mengatakan, pihaknya mempertegas komitmen tersebut hingga 100 persen pada tahun 2025. Pengurangan kantong plastik merupakan salah satu program yang sejalan dengan Kang Pisman melalui pengurangan sampah di hulu sebelum menjadi sanpah sebagai bentuk upaya preventif.

"Kami mengapresiasi langkah Gojek sebagai layanan pesan-antar makanan yang memfasilitasi mitra pengemudi agar dapat mengambil peran aktif untuk tidak lagi memakai kantong plastik atau dengan menggunakan totebag ketika memenuhi kuliner masyarakat Kota Bandung," ujarnya di Grand Serela Bandung, Jln. L.L.R.E Martadinata, Selasa (19/11/2019).

Kamalia melanjutkan, pengurangan penggunaan kantong plastik juga dilakukan dengan program kantong plastik berbayar. Ia menilai jika kantong plastik masih gratis, maka masyarakat cenderung belum tergerak untuk membatasi penggunaan kantong plastik.

"Biasanya dipaksa dulu baru bisa jadi kebiasaan. Jadi, di Kota Bandung ini judulnya masih pengurangan kantong plastik, tetapi secara bertahap kita akan menuju pelarangan. Kalau dilarang sekarang belum memungkinkan," tuturnya.

Namun, pengurangan pemakaian kantong plastik masih sulit diterapkan di pasar tradisional. "Kepala pasar mempertanyakan pengganti plastik karena belum ada alternatif. Dulu bisa pakai daun jati dan daun pisang, tetapi sekarang sudah susah. Seiring dengan perkembangan teknologi, kita optimistis bisa menciptakan pengganti kantong plastik," jelasnya.

Chief Corporate Affairs Gojek, Nila Marita mengatakan, mengurangi penggunaan kantong plastik merupakan masalah kebiasaan dan pola pikir. Gojek pun memulai dari mitra pengemudi dengan pelatihan sadar lingkungan dalam mengurangi penggunaan kantong plasik.

"Salah satu upaya yang kami lakukan adalah memperkenalkan tas pengantaran yang dirancang khusus demi kenyamanan dan menjaga keadaan pesanan hingga sampai ke tangan konsumen. Kami sudah tidak lagi menggunakan kantong plastik sekali pakai," tuturnya.

Pada tahap awal, pihaknya mendistribusikan lebih dari 150 tas pengantaran di Kota Bandung. "Dengan menggunakan totebag, kami telah berhasil menghemat lebih dari 4 juta kantong plastik ketika mengantar makanan. Kami juga mendukung program Kang Pisman dengan melakukan sosialisasi pemilahan sampah dan program Nabung Sampah Plastik yang ditukarkan dengan saldo GoPay di beberapa sekolah di Kota Bandung," terangnya.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA