Dorbis Unpad Gelar Seminar Digital Economy Bank Era 4.0

Bandung Raya

Jumat, 15 November 2019 | 22:19 WIB

191115222033-dorbi.jpg

ist


UNIVERSITAS Padjajaran Bandung melalui Doctorate Business Issue (Dorbis) menggelar seminar internasional "Tren Teknologi Digital untuk Bisnis". Seminar di Bale Rumawat Kampus Unpad Dipatiukur, Bandung, belum lama ini, digelar untuk memberikan gambaran bagi para calon doktoral mengetahui tren teknologi terbaru di dunia bisnis.

Chairman Dorbis 2019, Lukmanul Hakim, SIP., MM mengatakan, seminar merupakan kegiatan tahunan yang membahas tentang tren bisnis dan manajemen. Terinspirasi tagar #unpadmendunia, dikemas sebagai seminar internasional. Isu yang dibahas pun tentang tren teknologi digital untuk
bisnis.

"Digitalisasi layanan keuangan diperlukan agar bank dapat menurunkan biaya penyajian. Hal itu, untuk meningkatkan proses, dan memungkinkan model bisnis baru. Artinya, digitalisasi layanan keuangan akan memudahkan kita menjadi lebih baik, murah dan cepat," katanya.

Bank BUMN, katanya, perlu bertransformasi pada pelanggan, terutama para milenial. Mereka jangan lagi memiliki konsep perbankan seperti dulu. Pasalnya, saat ini konsumen tak peduli dengan siapa mereka berurusan, selama dapat memenuhi kebutuhan perbankan atau jasa keuangan akan trust (percaya).

"Tentunya, untuk memulai transformasi digital, Bank BUMN perlu mengubah paradigma dan strategi. Mengutip pernyataan Michael Corbat, ke depan 'Bank adalah perusahaan IT dengan lisensi perbankan'. Dan di sisi lain, Fintech itu adalah perusahaan IT yang suatu hari dapat memperoleh lisensi layanan keuangan pula," papar Lukman.

Pembicara lain pada seminar yaitu Direktur Keuangan PT. Pupuk Indonesia (persero), Indarto Pamoengkas dengan materi "Transformation and Digitalizing Business". Ada juga akademisi, Professor Harmen Oppewal, Ph.D. pakar marketing dari Monash University Australia dengan materi "Eye Tracking Technology for Customer Decision Making".

Sementara itu, Direktur Bisnis dan Jaringan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Hery Gunardi, MBA., menjelaskan tema "Commercial Bank Strategy in Answering the Challenge Digital Economy Era". Menurutnya, teknologi digital telah tersedia dan pasar sudah siap menerima transformasi digital pada bisnis. Data internal menunjukkan bahwa transaksi nasabah melalui ATM pada tahun 2010 hingga 2017 terus mengalami penurunan.

"Ya, tahun 2010 bisa sebesar 62 persen, maka pengguna ATM pada tahun 2017 turun menjadi 38 persen. Penurunan juga terjadi pada transaksi dengan berkunjung langsung ke kantor cabang. Jika pada tahun 2010 angka transaksi nasabah di cabang sebesar 17 persen, maka pada tahun 2017 menurun drastis hanya sebesar angka 5 persen," jelasnya.

Kondisi sebaliknya terjadi pada transaksi berbasis teknologi digital. Menurut Hery, frekuensi transaksi melalui internet banking terus mengalami pertumbuhan positif. Awal 2010 transaksi melalui internet banking hanya 11 persen, maka tahun 2017 naik menjadi 16 persen. Begitu pula transaksi melalui mobile banking.

"Ditahun 2010 transaksi melalui internet banking hanya sebesar 11 persen, maka pada tahun 2017 naik menjadi 36 persen. Data-data tersebut, menunjukkan bahwa nasabah mulai beralih ke transaksi berbasis teknologi digital, dan mulai meninggalkan transaksi yang konvensional," ujar Hery

Sedangkan Fintech berkembang pesat saat ini. Pasalnya, keberadaanya mulai mengancam perbankan. Peraturan Fintech tak diregulasi, membuatnya lebih gesit dan eksperimental daripada bank. Hal lain yakni dengan pendekatan, cara bank untuk mendekati pelanggan lebih konservatif, dan Fintech jauh lebih eksperimental dan fleksibel.

"Cara lain yakni kecepatan, Fintech untuk berkembang lebih cepat daripada bank. Bank ditawan oleh begitu banyak peraturan, organisasi yang kompleks, yang membuat mereka bergerak lambat. Dengan organisasi, khususnya Bank BUMN memiliki organisasi yang sangat kompleks," kilah Hery.

Tentunya, untuk melakukan sesuatu harus menggunakan nota atau surat terlebih dahulu. Berbeda dengan Fintech, organisasinya lebih sederhana dan gesit. Demografi karyawan di bank biasanya dipenuhi oleh orang tua, sementara Fintech para pekerja muda dan menarik.

"Strategi bank umum dalam menjawab tantangan era ekonomi digital ini yakni pertama, bank umum perlu mengantisipasi isu transparansi. Salah satu konsekuensi dari digitalisasi layanan keuangan adalah transparansi proses. Jika kita tahu WYSWYG (what you see what you get), maka kemudian yang berlaku adalah WYCWCS (what you see what customers see)," imbuh Hery.

Lebih lanjut Hery menambahkan, hal lainnya nasabah menggunakan cabang sebagai saluran transaksi mereka, masih dimungkinkan untuk melakukan transaksi secara manual ketika sistem bank mati. Tetapi ketika menggunakan e-Channels, bank tidak bisa lagi bersembunyi.

Kedua, meningkatkan manajemen risiko. Bank BUMN atau lembaga keuangan, harus secara proaktif mengelola risiko yang terkait dengan tren digitalisasi. Manajemen risiko tradisional yang mengandalkan proses manual non-real-time jelas tak cukup.

"Ketika kami meluncurkan aplikasi mobile banking pertama di 2011, hampir tak ada serangan. Tahun 2019, hampir setiap hari menemukan upaya menembus sistem bank. Hal itu, bank perlu merekrut orang-orang dengan kualifikasi yang jauh lebih baik untuk membantu mengelola risiko serangan siber," ucapnya.

Ketiga, merangkul Open Banking dengan 2-Speed IT. Kata Hery, Open banking adalah cara baru bagi bank untuk berbagi informasi yang memungkinkan bank menawarkan produk perbankan yang inovatif.

Dengan menetapkan kebijakan yang lebih adaptif. Kerangka kerja pengaturan dan proses saat ini secara internal (internap SPO/PTO) dan eksternal (BI/OJK) tak lagi kompatibel untuk bersaing dengan fintech.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA