Sebelum Ditembak Anak Bupati Majalengka, Korban Dituding Bikin Rusuh

Bandung Raya

Selasa, 12 November 2019 | 21:30 WIB

191112213153-sebel.jpg

Remy Suryadie

Panji Pamungkasandi memperlihatkan bukti lapor ke polisi dan tangan yang terluka akibat tembakan, Selasa (12/11/2019).


PANJI Pamungkasandi terpaksa harus mengalami luka di tangan kirinya akibat luka tembakan yang diklaimnya dilakukan oleh seorang PNS bernama Irfan Nur Alam, yang tak lain adalah anak Bupati Majalengka, H. Karna Sobahi. Sebelum ditembak, Panji mengaku sempat didatangi pelaku sambil marah-marah.

Ditemui di tempat kerjanya di Bandung, Selasa (12/11/2019), Panji menceritakan bagaimana peristiwa itu terjadi. Ia sekaligus membantah melakukan penyerangan terlebih dulu terhadap kelompok Irfan.

"Isu itu (menyerang lebih dulu) tidak benar. Dibilang kami membawa senjata tajam juga tidak benar. Bahkan waktu saya laporan polisi, mobil saya dan pegawai juga digeledah dan tidak didapati apapun," terang Panji.

Panji menceritakan, ia mendatangi Irfan dengan niat menagih utang proyek SPBU senilai Rp 800 juta. Namun dalam proyek ini, pihak Irfan baru membayar sebesar Rp 300 juta.

Sebelum menemui Irfan, Panji terlebih dulu bertemu dengan Andi yang merupakan rekanan Irfan. Irfan menjanjikan akan membayar sisanya, setelah bertemu dengan Andi.

"Saat sebelum kejadian itu, pak Andi bilang agar saya menemui Irfan di ruko. Di ruko tersebut, dijanjikan uang akan dibayarkan sepenuhnya oleh Irfan," jelasnya.

Di parkiran ruko, Panji mengaku mendapat tembakan. Sesaat sebelum memasuki ruko, ia langsung dihampiri Irfan yang menenteng senjata api di tangan kanannya.

"Dia bilang waktu itu kamu disini bikin masalah bikin rusuh terus. Mau saya bunuh kamu," kata Panji menirukan perkataan Irfan.

Panji pun mencoba mengelak todongan senjata api yang mengarah ke kepalanya. Namun letusan senjata yang dibawa Irfan kembali terdengar dan mengenai tangan kiri Panji. Dari situ peluru yang terlontar dari pistol Irfan mengenai bagian paha rekan Irfan.

Panji pun langsung dibawa ke dalam ruko dalam keadaan terluka. Didalam ruko, Irfan memberikan uang senilai Rp 500 juta kepada Panji. "Uang diberikan sambil diinjak-injak dan ada omongan kasar juga," ucapnya.

Saat berada di dalam ruko, pegawai Panji yang berjumlah 12 orang mendapat penganiayaan dari kelompok Irfan. Tiga pegawai Panji pun turut menjadi korban. Mereka menderita sejumlah luka lebam.

Uang memang telah dibayarkan oleh Irfan ke Panji. Namun sebelum menerima uang, Panji mendapat tembakan, intimidasi, penganiayaan dan ancaman. "Saya berharap kasus ini dapat diselesaikan pihak kepolisian," imbuhnya.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA