BSSN Gandeng Perguruan Tinggi Tingkatkan Kewaspadaan Cyber Situational Awarness

Bandung Raya

Selasa, 12 November 2019 | 17:17 WIB

191112172111-bssn-.jpg

Deputi Bidang Identifikasi dan Deteksi pada BSSN, Aries Wahyu Sutikno (kiri) dan Rektor Telkom University, Prof. Adiwijaya menandatangani kerja sama Tridharma Perguruan Tinggi di Gedung Damar Kampus Tel-U, Bojongsoang, Kab. Bandung, Selasa (12/11/2019).


BADAN Siber dan Sandi Negara (BSSN) menggandeng perguruan tinggi, komunitas dan lembaga untuk meningkatkan kewaspadaan situasi dunia maya (Cyber Situational Awarness) pada masyarakat, dengan meningkatkan kemampuan deteksi dini dan koordinasi.

Dalam upaya tersebut, BSSN melalui Indonesia Honeynet Project (IHP) menggelar seminar dan workshop meningkatkan kemampuan deteksi dini dan koordinasi di Gedung Damar Kampus Telkom University, Bojongsoang, Kab. Bandung, Selasa (12/11/2019).

Usai memberikan pemaparannya kepada puluhan mahasiswa yang hadir, Deputi Bidang Identifikasi dan Deteksi BSSN, Aries Wahyu Sutikno menjelaskan, ada dua jenis ancaman siber yakni ancaman fisik dan ancaman non fisik. Ancaman fisik merupakan serangan terhadap jaringan, sedangkan ancaman non fisik berhubungan dengan manusia.

Aries mencontohkan, misalnya faham radikal yang dapat dipelajari melalui internet. Dengan membaca faham-faham radikal pada internet, seseorang akan mudah terpengaruh.

"Tanpa harus belajar di Suriah mereka langsung bisa mengoperasionalkan faham tersebut, dengan melakukan berbagai cara seperti membuat bom, menyerang seseorang, melakukan ancaman kepada orang per orang dan lainnya. Seperti yang dilakukan kepada pak Wiranto itu pengaruh negatif," ungkap Aries kepada wartawan.

Diakui Aries, meski BSSN belum memiliki undang-undang khusus terkait hal itu, pihaknya masih memiliki Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) sebagai langkah antisipasi. Selain itu BSSN juga menjalin koordinasi dengan instansi terkait.

"Dan yang pasti kami juga menghimbau masyarakat agar sadar dalam penggunaan internet. Jadi jangan sembarangan, begitu dapat informasi diserap mentah-mentah. Nanti ada wadah yang menghimpun keluhan- keluhan masyarakat tentang apakah ini berita hoax atau bukan," ujarnya.

Ia menambahkan, tidak hanya radikalisme, ancaman atau serangan melalui siber ini juga terkait isu-isu ekonomi, politik, SARA, agama dan lain sebagainya. Dan hal itu beredar di wilayah-wilayah kelompok radikal.

"Seperti di Poso, banyak isu-isu yang berkembang, di Jawa Timur juga banyak. Jawa Barat juga banyak seperti mantan DI/TII juga ada yang sudah sadar ada juga yang belum, dan sudah bergabung dengan kelompok baru. Jakarta juga banyak, NTB juga ada," tuturnya.

Oleh karena itu Aries berharap, acara ini dapat menumbuhkan dan meningkatkan kemampuan dan kapabilitas dalam bidang keamanan siber dengan terjadinya tukar pikiran, pengalaman, best practise, dan saling berbagi informasi antara akademisi, BSSN, IHP, dan peserta pada umumnya.

Direktur Deteksi Ancaman BSSN, Sulistyo menambahkan, kolaborasi ini untuk membangun kewaspadaan bersama. Dari informasi ancaman-ancaman siber yang berupa malware dan turunannya, sehingga bisa dihimpun dan dishare menjadi bahan penelitian.

"Malware itu ada sisi negatif dan positifnya. Informasi malware itu menjadi titik awal bagi kami semua pada ruang siber ini, untuk bagaimana kemudian membangun proteksinya. Karena (pada 2018) 40 persen serangan siber yang masuk ke Indonesia berasal dari malware melalui software," terang Sulistyo.

Menurut Sulistyo, jika sebanyak 40 persen serangan siber yang masuk ke Indonesia ini bisa terdeteksi informasi DNA-nya, maka hal ini bisa dimanfaatkan untuk penelitian. Ini juga bisa dimanfaatkan oleh sektor-sektor bisnis dengan menciptakan antivirus dan lain sebagainya.

Sementara itu Rektor Telkom University, Prof. Adiwijaya mengharapkan, dalam rangka meningkatkan sumber daya manusia yang unggul, kerja sama ini dapat terus terjalin. Pihaknya berkomitmen terus berkontribusi untuk bangsa terutama terkait Cyber Security.

"Di Telkom University ada dua Fakultas yang menangani terkait Cyber Security ini, yaitu Teknik Elektro dan Informatika. Dua Fakultas ini bersinergi dengan pemerintahan, bisnis dan komunitas," ujar Adiwijaya.

Adiwijaya menambahkan, Telkom University juga terus bekerja sama dengan berbagai pihak, salah satunya dengan kepolisian bidang digital forensik. "Selain itu, kami juga terus melakukan penelitian dan pembelajaran dari sisi keterampilan atau peningkatan kemampuan untuk bidang cyber security," katanya.

Editor: Efrie Christianto

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA