Ketika Daun Pisang Menghilang di Pasar

Bandung Raya

Senin, 11 November 2019 | 19:37 WIB

191111193819-ketik.jpg


SIAPA yang mengira daun pisang pun bisa langka seperti gas elpiji 3 kilogram. Ibu rumah tangga maupun pedagang makanan yang sangat bergantung pada daun pisang dibuat kelimpungan dengan "menghilangnya" daun yang berfungsi sebagai pembungkus makanan  tradisional tersebut.

Pedagang yang terpengaruh dengan kelangkaan daun pisang seperti penjual lontong,  ketoprak sampai perajin tempe. Pedagang ketoprak dan kupat menyiasatinya dengan mengganti daun pisang  dengan daun kelapa.

"Hampir sebulan ini susah mendapatkan daun pisang.  Kalaupun ada harganya mahal juga daunnya kecil dan banyak sobek ," kata Maman pedagang ketoprak keliling di Padalarang, Senin (11/11/2019).

Sebagai gantinya,  pria berusia 31 ini mengganti daun pisang dengan daun kelapa. Bentuknya yang.biasa lontong (panjang)  sekarang berbentuk ketupat.

Ia mengaku tidak mengetahui penyebab kelangkaan daun pisang. Selama ini belum pernah sampai sesulit ini mendapatkan daun pisang.

"Di pasar-pasar tradisional  nyaris enggak ada. Kalau pun ada mahal, biasanya Rp 3.000 per kompet atau per ikat sekarang Rp 8.000 per kompet. Itupun daunnya kurang lebar juga sobek-sobek," keluh Maman.

Keluhan serupa disampaikan perajin tempe.  Sejak daun pisang sulit  didapat dan harganya naik lebih dari 100 persen mulai jarang memproduksi tempe dengan bungkus daun pisang.

"Sekarang lebih banyak membuat tempe dibungkus dengan plastik ketimbang daun. Biasanya 60 persen bungkus plastik dan sisanya daun. Sekarang, kalau dipresentasikan mungkin hanya 10-20 persen pakai bungkus daun," kata Tarno perajin tempe.

Ia mengatakan, biasanya dikirim setiap hari  oleh pemasok daun pisang. Namun sekarang, tidak dikirim setiap hari terkadang dua hari sekali.

"Katanya,  banyak pohon pisang yang mati kekeringan selama kemarau lalu. Malah sekarang diperparah dengan kemunculan angin kencang, membuat daun pisang sobek-sobek jadi enggak laku dijual," tuturnya.

Apa yang dikatakan perajin tempe dan pedagang ketoprak,  memang benar adanya.  Daun pisang sudut didapat akibat pohon pisang banyak yang mati akibat kekeringan.

Kepala Desa Cipatat Darya Sugangga membenarkan kebun pisang di daerahnya mengalami kekeringan selama musim kemarau lalu. Diperkirakan terdapat puluhan  hektare kebun pisang di Desa Cipatat,  Kecamatan Cipatat,  Kabupaten Bandung Barat ini.

"Di Desa Cipatat memang terdapat puluhan hektare kebun pisang, namun sekarang banyak yang.mati kekeringan. Sebagian ditanam di lahan sendiri,  ada juga yang ditanam memanfaatkan lahan Perhutani,"  kata Darya.

Kebun pisang di Desa Cipatat berada di Kampung Pojok, Pasegan, Cinangsi, Nyomplong, Sangiang, Ciparang  Sekip, dan Cimerang.

"Daun dan buah pisang dari Cipatat dipasarkan ke Bogor, Bekasi, Cianjur dan Bandung. Jadi wajar kalau sekarang sulit memperoleh daun pisang karena di kebunnya banyak pohon pisang yang mati kekeringan," ujarnya.

Editor: Efrie Christianto

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA