Memasuki Musim Hujan, Camat Kertasari Antisipasi Banjir Lumpur

Bandung Raya

Jumat, 8 November 2019 | 18:30 WIB

191108180118-memas.jpg


MEMASUKI awal musim hujan di Kecamatan Kertasari Kabupaten Bandung tahun ini, aparatur Pemerintah Kecamatan Kertasari mulai mewaspadai terjadi banjir lumpur yang disebabkan turun hujan pada lahan kritis. 

Menengok kejadian beberapa tahun lalu, material lumpur yang menyatu dengan air kerap terjadi di kawasan Pasir Munding Kertasari hingga menutupi akses jalan.

Alat berat pun sempat dikerahkan ke lokasi kejadian untuk mengeruk endapan lumpur karena akses jalan tidak bisa dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat.

Camat Kertasari Dadang Hermawan mengatakan, untuk mengantisipasi ancaman banjir lumpur di kawasan Pasir Munding Kertasari itu, pihaknya berusaha untuk melakukan koordinasi atau komunikasi dengan pemerintah desa setempat.

"Banjir lumpur yang sempat terjadi di kawasan Pasir Munding itu karena faktor terasering dalam pola pertanian sayur mayur. Kawasan Pasir Munding itu merupakan lahan milik warga, sehingga kita akan melakukan pendekatan kepada pemiliknya untuk memerhatikan pola pertanian dalam menerapkan sistem terasering (sengkedan) yang dapat menahan aliran air hujan. Supaya bisa meminimalisir ancaman banjir lumpur," papar Dadang kepada galamedianews.com, Jumat (8/11/2019) sore.

Dadang mengatakan, lahan kritis di wilayah Kecamatan Kertasari, yang merupakan hulu Sungai Citarum itu masih cukup luas yaitu mencapai ribuan hektare.

"Mungkin ada sekitar 7.000-8000 hektare lahan kritis di Kertasari. Namun saat ini, kondisi lahan kritis secara perlahan-lahan mulai berkurang setelah hadirnya jajaran TNI dari Satgas Citarum Harum dalam upaya memperbaiki kerusakan daerah aliran Sungai Citarum," ungkap Dadang.

Camat mengatakan, mulai terlihat ada upaya pengurangan lahan kritis itu, terlihat di sepanjang Jalan Kertasari, sudah mulai banyak pohon yang tumbuh.

"Bahkan, pohon yang ditanam oleh berbagai pejabat pemerintah yang melakukan gerakan penghijauan dengan cara menanam pohon, sudah ada yang mencapai setinggi 3 meter. Terutama pohon yang ditanam di sekitar Sektor Pembibitan Satgas Citarum Harum," katanya.

Termasuk, imbuh Dadang, pohon yang ditanam di kawasan Sektor 1 Satgas Citarum Harum, mulai terlihat hijau. Mengingat, dengan adanya partisipasi aktif dan perhatian pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten, sudah puluhan ribu pohon yang ditanam di lahan kritis di kawasan Kertasari.

"Yang sebelumnya lahan kosong atau lahan kritis, kini sudah mulai banyak ditumbuhi pohon. Bahkan, saat ini selain Satgas Citarum Harum, juga hadirnya Artha Graha dalam melakukan gerakan penghijauan dapat mengurangi lahan kritis di Kertasari karena terus menerus melakukan penanaman pohon," katanya.

Namun memasuki musim kemarau lalu, kata Camat, penanaman pohon tidak terlalu banyak karena harus dipelihara. Di musim kemarau, penanaman hanya puluhan pohon sampai ratusan pohon. Bahkan dari berbagai komunitas dan pegiat lingkungan sempat melakukan penanaman pohon.

"Pohon yang sudah tumbuh besar dengan ketinggian 3 meter, bisa dimanfaatkan untuk wisata edukasi bagi anak-anak sekolah. Pihak sekolah bisa memberikan pemahaman dan edukasi kepada para siswa, terkait persoalan lingkungan," tuturnya.

Lebih lanjut Dadang mengatakan, perambahan hutan di Kertasari, belakangan ini sudah tidak ada. Apalagi dengan hadirnya Satgas Citarum Harum, warga sudah tidak berani lagi melakukan perambahan hutan pada lahan Perhutani maupun lahan Perkebunan.

"Soalnya, termonitor dan terawasi oleh petugas. Jadi perambahan hutan sudah tidak ada," katanya.

Menurutnya, memasuki musim hujan ini, sejumlah pihak mulai merencanakan lagi gerakan penanaman pohon. Selain itu, ia juga mendorong masyarakat untuk sama-sama peduli pada pemulihan lahan kritis yang ada di kawasan Kertasari, baik pada lahan hak milik maupun milik Perhutani dan Perkebunan.

"Di Kecamatan Kertasari itu masih membutuhkan cukup banyak pohon untuk memulihkan lahan kritis. Saat ini, sebagian besar lahan di Kertasari masih kritis dan membutuhkan peran serta dan sabilulungan antara pemerintah maupun aparat/petugas dan masyarakat melakukan upaya pemulihan lahan kritis," pungkasnya.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA