Perhatian Islam Terhadap Tenaga Medis di Tengah Wabah

Citizen Journalism

Jumat, 10 April 2020 | 19:36 WIB

200410193503-perha.jpg

ist

Foto penulis

#IDIharusjujur menjadi trending topic di jagad Twitter. Ikatan Dokter Indonesia dalam beberapa cuitan didesak untuk jujur mengungkapkan jumlah dokter yang meninggal akibat virus Corona. Pengguna Twitter menginginkan data yang obyektif terkait data dokter, mana yang meninggal karena menjadi garda terdepan penanganan kasus Covid-19, mana yang terpapar sendiri atau lingkungan sekitar. Artinya bukan saat penanganan Corona.

Pemerintah telah merilis data dokter yang meninggal karena berada di garda terdepan menangani pasien Corona di Indonesia. Kepala BNPB, Letjen Doni Monardo mengatakan sudah lebih dari 20 orang dokter yang meninggal dunia selama pandemi virus Corona. Ia mengatakan yang wafat ternyata tidak semua itu adalah dokter yang berada di front terdepan.

Meski sempat menimbulkan spekulasi, bahwa hestek tersebut adalah hestek ulah buzzer bayaran. Seperti sebuah cuitan dengan kalimat "Ada saldo apapun 50k buat 2 orang follow retweet reply bebas (2x) dengan hastag #IDIHarusJujur". Buzzer menggerakan akun-akun give away untuk menaikan hestek tersebut agar menjadi trending topic.

Bagaimanapun juga IDI adalah asosiasi profesi yang paling penting dalam penanganan pandemi Covid-19. Sangat tidak bijak jika asosiasi tersebut dituding dan 'diajak berantem' ditengah usaha mereka menjadi garda terdepan penanganan wabah.

Sejak awal maret, Kematian dokter akibat Covid-19 terus bertambah. Tentu saja ini menjadikan luka bagi bangsa Indonesia. Aset bangsa yang seharusnya dijaga sedemikian rupa, telah hilang dengan murah akibat wabah. Banyak cerita melatar belakangi mereka. Salah satunya adalah kelangkaan APD (Alat Pelindung Diri) yang dipakai oleh dokter.

Alhasil mereka memakai APD seadanya. Jas hujan murah berbahan kantong kresek, masker kain yang tidak standar dan tanpa memakai google, hingga mereka membuat google dari mika. Ini menjadi salah satu sebab meninggalnya mereka. Karena alat perlindungan diri tidak mereka dapati.

Belum lagi, temuan di lapangan soal pasien yang tak mau jujur ketika ditanya riwayat perjalanannya. Ketidakterbukaan masyarakat disebabkan ketidakpahaman masyarakat, telah menyumbang banyaknya PDP. PDP ini ada yang tidak timbul gejala. Pasien PDP atau positif yang tidak jujur akhirnya menularkan ke dokter yang memeriksa. Seperti kisah dokter Bernadette.

Berkaca dari kasus beliau, Humas IDI Halik Malik saat dikonfirmasi mengatakan perlu dilakukan penyesuaian sistem layanan kesehatan di setiap puskesmas, klinik dan rumah sakit. Seperti pemisahan pemeriksaan antara pasien dengan indikasi corona dan tidak. Ia juga menyampaikan untuk perlu meningkatkan kesadaran masyarakat terkait Corona. Dan ini perlu peran utama pemerintah dalam edukasi kepada masyarakat.

Sungguh hestek itu telah membuat luka. Pahlawan berjas putih yang terikat sumpah sejatinya telah menolong dengan sukarela. Mereka berjibaku menyelamatkan pasien, kadang kurang tidur, haus tak bisa minum, bahkan telat makan. Harusnya apresiasi luar biasa diberikan kepada dokter yang menjadi garda terakhir penanganan Covid-19, juga kepada dokter yang tetap praktek mengobati pasien non Covid,
namun juga ikut terpapar corona.

Bukan malah mengalihkan telunjuk kepada IDI hanya karena pemerintah tak mampu mengatasi Corona sejak awal konfirmasi pasien pertama. Harusnya pemerintah menjadi garda terdepan pencegahan wabah. Lewat kebijakan lockdown.

31 orang dokter meninggal dunia terpapar Covid-19 adalah tragedi. Butuh bertahun-tahun agar bisa menjadi seorang dokter dan menjadi dokter ahli. Maka sangat disayangkan jika nyawa mereka begitu tak berharga hingga ada hestek yang mempertanyakan data. Berapa yang meninggal karena benar-benar menangani Corona dan berapa yang terpapar karena hal lain.

Jangan sampai isu ini mengalihkan perhatian, sehingga kebijakan-kebijakan pemerintah tidak kita kawal. Meski sudah sangat terlambat untuk menetapkan lockdown atau karantina wilayah. Banyaknya dokter yang meninggal, harusny menjadi perhatian pemerintah agar merubah kebijakannya. Karena mereka butuh support system dan keseriusan pemerintah dalam penanggulangan dan pencegahan wabah. Yakni pencegahan melalui karantina atau lockdown.

Jangankan 31 dokter yang meninggal. Nyawa seorang muslim saja begitu berharga di mata Islam. Dari al-Barra' bin Azib radhiyallahu 'anhu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak." (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan dishahihkan al-Albani).

Berkaca pada sistem Islam di era keemasan. Betapa, Islam menjadi garda terdepan dalam urusan kesehatan. Sejarah mencatat, bahwa kesehatan termasuk ke dalam kebutuhan primer yang wajib disediakan oleh negara. Bahkan rakyat memperolehnya dengan gratis. Karena mindset pemimpin pada saat itu adalah pelayan rakyat.

Tengok bagaimana kebijakan kesehatan yang dilakukan oleh Muhammad Al-Fatih sang penakluk konstantinopel. Beliau dalam memberikan pelayanan kesehatansungguh luar biasa, di antaranya merekrut juru masak terbaik rumah sakit, dokter datang minimal 2 kali sehari untuk visit pasien. Tenaga medis dan pegawai rumah sakit harus bersifat qona’ah dan juga punya perhatian besar kepada pasien.

Will Durant dalam The Story of Civilization menyatakan, "Islam telah menjamin seluruh dunia dalam menyiapkan berbagai rumah sakit yang layak, sekaligus memenuhi keperluannya. Contohnya Bimaristan yang dibangun oleh Nuruddin di Damaskus tahu 1160 telah bertahan selama tiga abad dalam merawat orang-orang sakit, tanpa bayaran dan menyediakan obat-obatan gratis. Para sejarahwan berkata, bahwa cahayanya tetap bersinar tidak pernah padam selama 267 tahun."

Kisah pengelana eropa yang mahsyur ini juga menjadi bukti betapa luar biasanya sistem kesehatan pada abad keemasan itu. Ia menceritakan bahwa Ia sengaja berpura-pura sakit karena ingin menikmati lezatnya makanan di rumah sakit Islam. Ia ingin menikmati ayam panggang yang populer itu. Karena pada saat itu diterapkan bahwa ciri pasien sembuh adalah dengan mampunya ia memakan ayam panggang tersebut
dengan lahap.

Keberhasilan peradaban Islam ini disebabkan paradigma yang benar tentang kesehatan. Nabi SAW bersabda bahwa setiap dari kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab untuk orang-orang yang dipimpin. Jadi penguasa adalah pemimpin yang bertanggung jawab atas rakyatnya.

Betapa luar biasanya perhatian Islam terhadap kesehatan di masa itu. Apalagi perhatian terhadap dokter dan tenaga kesehatan lainnya. Dengan perhatian yang luar biasa pada pasien, maka Islam dapat dipastikan memberikan fasilitas terbaik untuk tenaga medisnya. Berupa tunjangan dan akses pendidikan mudah dan gratis serta sarana prasarana. Agar mindset yang muncul dalam diri tenaga medis adalah mindset melayani tak semata-mata hitung-hitungan materi.

Islam memberikan perlindungan kepada para tenaga medis yang menjadi garda terakhir wabah dengan diberlakukannya karantina wilayah. Ini semata-mata dilakukan untuk mencegah semakin merebaknya wabah. Maka wabah tak akan sempat menjadi pandemi. Dengan terpusatnya wabah di satu wilayah saja, memudahkan para tenaga medis untuk fokus dan segera memberikan penanganan.

Selain itu, Islam menjamin sarana dan prasarana kesehatan yang terbaik dan berkualitas tinggi. Mindset menjaga nyawa telah menjadikan penguasa di era keemasan untuk menjaga aset tenaga medisnya. Sehingga dapat dipastikan sarana perlindungan diri seperti APD akan dipenuhi. Sehingga tak akan banyak tenaga medis yang dikorbankan.

Pengirim
Alfiyah Kharomah
- Praktisi Kesehatan
- Founder Griya Sehat Alfa Syifa
- fia.punktur@gmail.com

Seluruh materi dalam naskah ini merupakan tanggung jawab pengirim. Gugatan, somasi, atau keberatan ditujukan kepada pengirim

 

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR