Produsen Raksasa Lumpuh, Picu Aborsi di Tengah Pandemi PBB Peringatkan Bahaya Krisis Kondom Global

Dunia

Jumat, 10 April 2020 | 02:00 WIB

200409221940-pande.jpg

dailymail

Pandemi Covid-19 yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda di luar Cina memicu kekhawatiran baru, yaitu krisis kondom global. Demikian dinyatakan PBB yang menyebut krisis kontrasepsi bisa meningkatkan kehamilan yang tak diinginkan hingga berujung aborsi ilegal.

Dikutip dari DailyMail, Kamis (9/4/2020) krisis kondom terjadi utamanya karena lockdown yang diberlakukan berbagai negara membuat produsen menghentikan produksi. Salah satunya Karex, produsen besar kondom asal Malaysia yang kini tak berproduksi.

Karex memproduksi satu dari lima kondom di dunia. Dengan lockdown yang berlaku sejak Maret hingga April ini Karex absen memasok 200 juta kondom. Chief Executive Karex, Goh Kiat Miah kepada AFP mengingatkan hal serupa berlaku pada produsen lainnya. "Dunia akan kekurangan kondom," katanya.

"Saat ini kita menghadapi pandemi Covid-19 tapi tak seharusnya kita mengesampingkan isu penting lainnya. Kondom termasuk kebutuhan medis yang esensial," lanjutnya.

Sejak Maret hingga pertengahan April ini tiga pabrik Karex berhenti berproduksi. Izin yang diberikan untuk pemenuhan setengah dari permintaan dirasa Goh masih kurang. Hal serupa disuarakan PBB yang mengakui penurunan pasokan signifikan nyaris 50% untuk berbagai lembaga kesehatan reproduksi dan seksual.

Selama ini alat kontrasepsi didistribusikan bagi komunitas rentan aktivitas seksual yang tidak aman dan kawasan miskin. Juru bicara Population Fund PBB mengatakan, "Berkurangnya pasokan kondom atau alat kontrasepsi bisa memicu meningkatnya kehamilan yang tak diinginkan. Efeknya selain aborsi juga guncangan bagi keluarga, terutama kalangan muda."

Ini belum termasuk sebaran HIV, infeksi penyakit kelamin hingga aborsi berujung fatal. Lockdown disebut Goh membuat permintaan kondom ikut naik. Di India misalnya, lockdown total 21 hari sejak 25 Maret membuat penjualan kondom naik 25%.

Meski demikian laporan terakhir menyebut produsen Cina siap memenuhi kebutuhan. Setidaknya demikian diungkapkan Shanghai Mingbang Rubber Products dan HBM Protections yang berencana meningkatkan produksi tiga kali lipat setelah produksi kembali berjalan.

Editor: Mia Fahrani

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR