Warga Solo yang Nekat Mudik Wajib Karantina 14 Hari

Nasional

Kamis, 9 April 2020 | 18:34 WIB

200409183459-warga.jpg

Tok Suwarto

Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo, ketika meninjau rumah karantina bagi pemudik, Graha Wisata Niaga, dengan berbagai fasilitas, termasuk untuk olahraga ringan tenis meja, Kamis (9/4/2020).

KEBIJAKAN Pemkot Solo berupa "wajib karantina 14 hari" bagi warga Kota Solo di perantauan yang nekat mudik lebaran makin dipertegas. Sejak hari pertama diberlakukannya aturan khusus pencegahan penyebaran virus Corona (Covid-19), pada Kamis (9/4/2020), Pemkot Solo hanya memberi pilihan tunggal kepada pemudik, yakni masuk rumah karantina yang disediakan Pemkot Solo.

Ketegasan sikap Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo tersebut, setelah menyaksikan di antara pemudik yang terjaring aparat Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Solo, pada Rabu (8/4/2020) malam, banyak yang ngotot menolak masuk karantina. Berbagai alasan disampaikan kepada aparat Gugus Tugas, antara lain alasan untuk melakukan karantina mandiri yang semula diberikan Pemkot Solo sebagai salah satu alternatif.

Wali Kota mengambil keputusan meniadakan pilihan karantina mandiri, karena petugas patroli Gugus Tugas menemukan sejumlah pemudik yang memilih karantina mandiri nekat kluyuran ke luar rumah. Mereka itu dianggap meresahkan masyarakat di lingkungannya.

Para pemudik karantina mandiri yang kepergok petugas dengan koordinasi pihak kelurahan yang dibantu Babinkamtibmas Polri, membawa para pemudik tersebut ke Graha Wisata Niaga.

"Sekarang Pemkot Solo tidak memberi toleransi lagi. Para pemudik yang ke Solo tidak ada pilihan lain, harus karantina 14 hari di rumah karantina. Kenapa harus demikian? Karena kita mengantisipasi kemungkinan yang terjelek," tutur Wali Kota Solo di sela peninjauan rumah karantina Graha Wisata Niaga, Kamis (9/4/2020).

Selama sehari sampai Rabu, pukul 14.00, rumah karantina Graha Wisata Niaga yang merupakan gedung dua lantai berkapasitas 200-an tempat tidur sudah terisi 70 orang pemudik. Selain mereka yang terjaring petugas dan beberapa orang pemudik yang secara sukarela masuk karantina, para pemudik dini yang nekat itu dijemput petugas khusus pemudik dari Terminal Bus Tirtonadi, Stasiun KA Solo Balapan dan Stasiun Purwosari, serta dari Bandara Adi Soemarmo.

Sejak dikeluarkannya aturan baru wajib karantina yang lebih ketat, ada sejumlah pemudik yang menolak masuk karantina. Sejumlah pemudik sempat beradu mulut dengan petugas Posko Gugus Tugas sambil mengemukakan alasan penolakan dikarantina.

"Ada tiga orang pemudik dari Bandung yang ngotot menolak karantina. Seorang di antara mereka menyatakan akan langsung pulang ke Bandung, dengan alasan hanya untuk menjemput ibunya," ujar Hadi Rudyatmo.

Terhadap para pemudik tersebut, sambungnya, para petugas Posko mengantar merek kembali ke stasiun untuk membeli tiket. Petugas menelepon ibunya dan saat itu pula mereka langsung kembali ke Bandung.

Selain para pemudik yang bersikeras menolak karantina, lanjut Hadi Rudyatmo, petugas Posko juga menangani satu keluarga terdiri dari ibu dengan dua anak yang pulang dari hajadan keluarga di Sumatera. Akibat larangan resepsi di tempat tujuan, keluarga yang bukan pemudik tersebut langsung pulang kembali ke Solo.

Setelah berfungsinya secara efektif rumah karantina Graha Wisata Niaga, Pemkot Solo membuat aturan baru yang menyebutkan Graha Wisata Niaga khusus digunakan untuk menampung orang dalam pengawasan (ODP) tidak berisiko. Sedangkan ODP berisiko akan dikarantina di bekas rumah bangsawan Keraton Surakarta, Ndalem Djojokusuman yang berkapasitas sekitar 70 orang.

Terpisah, Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Solo, Ahyani menjelaskan, penyebaran Covid-19 di Kota Solo relatif landai tidak ada perkembangan signifikan. Jumlah pasien terkonfirmasi positif Corona masih sebanyak 5 orang, 2 orang masih dalam perawatan, seorang sembuh dan dua orang meninggal.

Selain itu, PDP di Kota Solo sebanyak 51 orang, terdiri dari 14 orang rawat inap, 28 orang sembuh dan 9 orang meninggal. Sedangkan angka ODP sebanyak 326 orang, terdiri dari 170 orang dalam pemantauan dan 156 selesai pemantauan.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR