Kelelahan dan Tekanan Psikologis Landa Petugas Medis Italia

Dunia

Kamis, 9 April 2020 | 07:11 WIB

200409070944-kelel.jpg

VIRUS corona atau Covid-19 hingga saat ini di sebagian negara menunjukkan peningkatan signifikan. Hal itu tentu membuat petugas medis harus ekstra kerja keras khususnya dalam menangani pasien terinfeksi corona. 

Maddalena Ferrari, salah seorang perawat di sebuah rumah sakit di Italia, ketika berada di rumah sepulang bertugas, ia menangis sendirian di kamarnya. Ferrari harus tetap mengenakan masker di rumah demi melindungi orang tuanya dari virus corona.

Ketika berada di kamarnya sendiri dan tidak ada yang melihat, koordinator perawat rumah sakit Pope John XXIII itu melepas masker yang melindungi dan menyembunyikan wajahnya. Ia menangisi semua pasien virus corona yang meninggal di tempat kerjanya di Bergamo, Italia.

"Kami kehilangan seluruh generasi, masih banyak yang bisa mereka ajarkan pada kami," kata Ferrari di akhir jam kerjanya, dikutip republika.co.id,Rabu (8/4/2020).

Baca Juga: Tetap Optimis dan Jaga Kesehatan Mental Saat Wabah Covid-19

Tekanan pekerjaan para petugas medis di Italia  mungkin sedikit mereda. Tapi tekanan emosional dan psikologis pandemi virus corona pada dokter dan perawat di negara itu mulai membuncah.

Sudah dua orang perawat Italia bunuh diri, para psikolog segera memobilisasi terapi dan menyediakan layanan konsultasi gratis melalui internet untuk petugas medis. Beberapa orang di rumah sakit menggelar sesi terapi kelompok untuk para staf yang mengalami trauma setelah melihat begitu banyak pasien meninggal sendirian.

Para peneliti mengatakan setelah tujuh pekan wabah virus corona melanda Italia. Adrenalin yang sebelumnya mendorong petugas medis terus bekerja kini digantikan oleh kelelahan dan rasa takut terinfeksi.

Banyak dokter dan perawat yang kehilangan dukungan keluarga yang biasanya mereka dapatkan di masa normal. Karena para petugas medis harus mengisolasi diri setelah bekerja seharian di lingkungan penuh virus corona.

Kini tidak hanya petugas medis Italia yang kewalahan karena pandemi virus corona. Para terapis dan psikolog di negara itu juga harus berjibaku dengan tekanan emosional dan psikologis yang dialami dokter dan perawat.

"Faktor adrenalin dapat bekerja maksimal satu bulan, kami memasuki bulan kedua, jadi fisik dan mental orang-orang ini sudah lelah," kata direktur akademi perawatan kesehatan wilayah Lombardy, Italia, Dr. Alessandro Colombo.

Colombo meneliti tekanan psikologis yang dialami petugas medis. Berdasarkan penelitian awalnya, menyaksikan pasien meninggal sendiri sangat berdampak pada dokter dan perawat.

Mereka diminta untuk berada di samping pasien menjelang kematian mereka. Menggantikan posisi keluarga bahkan pemuka agama. Colombo mengatakan perasaan merasa gagal begitu besar di kalangan petugas medis.

"Setiap waktu gagal, Anda melakukan segalanya untuk pasien dan pada akhirnya, jika Anda orang yang beriman, ada sesuatu yang lebih besar dari Anda memutuskan takdir lain untuk orang itu," kata Ferrari, koordinator perawat di rumah sakit di Bergamo.

Rekannya, Maria Berardelli mengatakan petugas medis tidak terbiasa melihat pasien meninggal dunia setelah dua pekan memakai ventilator. Menurutnya tekanan emosi begitu menghancurkan.

"Virus ini, kuat, kuat, kuat, Anda tidak akan bisa terbiasa dengannya, karena setiap pasien memiliki kisahnya sendiri," kata Berardelli dalam wawancara via Skype bersama Ferrari.

Asosiasi perawat dan psikolog Italia sudah meminta pemerintah melakukan koordinasi skala nasional untuk merespons kebutuhan kesehatan mental petugas medis. Mereka memperingatakan gelombang stress akan semakin tumbuh.

Editor: Rosyad Abdullah

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR