Dampak Covid-19, Warga Tasikmalaya Terkatung-katung di Kapal Pesiar

Daerah

Rabu, 8 April 2020 | 19:07 WIB

200408190737-dampa.jpg

wikipedia

Kapal Pesiar Costa Diadema

DAMPAK dari wabah corona (Covid-19), seorang warga Kecamatan Karangnunggal, Kabupaten Tasikmalaya, Slamet Riza Hidayat yang bekerja sebagai kru kapal pesiar Costa Diadema tertahan di laut. Kapal pesiar tersebut tertahan akibat penolakan dari otoritas pelabuhan Italia yang tak mengizinkannya bersandar.

Menurut ayah Slamet, Membeng Kuswara, anaknya saat ini masih berada di kapal pesiar Costa Diadema bersama 1.045 orang kru kapal lainnya dengan 200 orang di antaranya asal Indonesia. Kapal saat ini masih tertahan di perairan dekat pelabuhan Fiombino Italia.

"Kapal tak mendapat izn dari otoritas pelabuhan untuk bersandar dan menurunkan ABK-nya akibat pandemi Covid-19 sejak beberapa pekan lalu," kata warga Kampung Rancabakung, Desa Karangmekar, Kabupaten Tasikmalaya ini, Rabu (8/4/2020).

Dikatakan Membeng, anaknya mulai berlayar berkeliling dunia bersama kapal pesiar tersebut sejak 18 Januari 2020 dengan membawa penumpang selama sebulan.

Setelah berhasil menurunkan seluruh penumpang, kapal pesiar kemudian mencari pelabuhan di sejumlah negara. Namun tak ada satupun otoritas pelabuhan yang memberi izin bagi kapal itu menurunkan krunya.

Kata Membeng, sejak 27 Maret 2020 seluruh kru kapal termasuk anaknya tertahan di tengah laut dekat pelabuhan Fiombino Italia.

"Anak kami dan WNI lainnya telah berusaha menyampaikan kondisi mereka dan meminta bantuan melalui media sosial dan telpon KJRI di Italia. Namun saat ini belum ada penjemputan. Kami berharap kepada pemerintah untuk membantu memulangkan anak kami," ungkap Membeng.

Saat berkomunikasi melalui aplikasi video call dengan anggota Polsek Karangnunggal Aipda Usep Rusdiana dan Aipda Edi Suryana yang berkunjung ke rumah orang tuanya, Senin (6/4/2020) lalu, Slamet menyampaikan kondisinya saat ini sehat. Pria yang akrab disapa Bode itu juga menyebut stok makanan dan minuman untuk seluruh kru kapal juga sementara masih ada.

Untuk beristirahat, dia bersama kru lainnya memanfaatkan ratusan kamar yang biasa digunakan penumpang kapal. Saat ini ada kebijakan yang dilakukan pengelola kapal yaitu para kru kapal yang sakit ditempatkan atau karantina pada kamar-kamar yang berada di lantai 2 sementara yang sehat dilantai dasar.

"Kami memohon bantuan semua pihak untuk menyampaikan kondisi anak saya bersama kru lainnya asal Indonesia yang belum tahu sampai kapan terkatung-katung di lautan. Harapan utama kami bantuan penjemputan dari pemerintah," harap Membeng.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR