Disnaker : PMI Asal Cimahi di Luar Negeri Dipastikan dalam Keadaan Sehat

Bandung Raya

Rabu, 8 April 2020 | 17:20 WIB

200408172400-disna.jpg

DI tengah mewabahnya virus corona (Covid-19) yang terjadi hampir di seluruh dunia, Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kota Cimahi yang sedang bekerja di luar negeri dipastikan dalam kondisi sehat. Kepastian tersebut diketahui, setelah Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Cimahi mengonfirmasi ke pihak agen yang memberangkatkan para pahlawan devisa ini.

Kepala Bidang (Kabid) Penempatan Pelatihan Tenaga Kerja dan Transmigrasi pada Disnaker Kota Cimahi, Isnendi, mengatakan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan pihak agen PMI. Berdasarkan data Disnaker tahun 2019, ada 16 orang PMI yang akan bekerja di luar negeri.

"Ternyata setelah diklarifikasi ke pihak agen, baru ada 8 orang yang berhasil diberangkatkan pada tahun 2019. Mereka bekerja di Malaysia, Hongkong, Taiwan, dan Jepang. Pekerjaanya ada sebagai operator produksi, house maid, care giver, domestic worker, dan operator industri," bebernya saat dihubungi, Rabu (8/4/2020).

Sementara sisanya, kata Isnendi, rencananya akan diberangkatkan pada tahun 2020. Namun saat ini mereka belum diberangkatkan. Kemungkinan terhalang kebijakan pemerintah pusat terkait Covid-19.

"Adapun kondisi 8 orang yang sudah berangkat pada tahun 2019 itu, saat ini  mereka masih bekerja, dan dalam keadaan aman serta sehat," tambahnya.

Sedangkan data PMI tahun 2020, kata Isnendi, ada 13 orang yang akan diberangkatkan. Berdasarkan hasil koordinasi dengan pihak agen, baru 1 orang yang diberangkatkan pada bulan februari 2020.

"Selain itu ada 2 orang yang akan berangkat pada akhir bulan April 2020, dengan menggunakan visa study dan magang ke negara Jepang. Kedua orang ini masih bisa berangkat,  karena menggunakan visa study dan magang, serta kota yg akan dituju clear dari Covid-19. Sementara 10 orang sisanya belum berangkat," terangnya.

Menurut Isnendi, rata-rata warga asal Kota Cimahi yang bekerja di luar negeri, didorong keinginan  untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya.

Isnendi menjelaskan, keberangkatan para PMI asal Kota Cimahi itu menggunakan dua alur. Ada yang melalui agen, dan ada yang mandiri, dengan mencari lowongan kerja dari perusahaan. "Biasanya yang mandiri ini sudah memiliki kompetensi, dan sudah lulus seleksi dari perusahaan," katanya.

Para PMI ini, sambung Isnendi, sudah mengantongi rekomendasi dari Disnaker Kota Cimahi, sebagai salah satu syarat. Jika tidak mengantongi rekomendasi, tegas dia, artinya TKI tersebut ilegal.

"Harus ada rekomendasi dari Disnaker untuk pembuatan paspornya. Biasanya kalau yang ilegal, baru ketahuan pas ada kasus," beber Isnendi.

Untuk pembinaan, kata Isnendi, biasanya dilakukan oleh agen selama tiga bulan. Mereka mendapat pembinaan dari mulai pelatihan, peningkatan kompetnesi, hingga pengetahuan soalbudaya negara tujuan. "Pembinannya dan pemantauannya oleh agen (atau perusahaan) yang memberangkatkan," sebutnya.

Editor: Efrie Christianto

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR