Berkah Mewabahnya Virus Corona, Produk Hand Sanitizer dan Masker Banyak Diburu

Bandung Raya

Rabu, 8 April 2020 | 13:15 WIB

200408132754-berka.jpg

Dicky Mawardi

SAAT virus corona (Covid-19) mewabah banyak tempat usaha tutup dan bahkan gulung tikar. Produksi berhenti begitupun dengan usaha jasa tak luput kena imbasnya. 
Namun di sisi lain, saat wabah virus yang pertama kali muncul di Kota Wuhan, Cina ini mewabah di Indonesia banyak kegiatan usaha "malah" diuntungkan. Permintaan hand sanitizer dan masker melonjak naik fantastis.
Kedua jenis produk ini mendadak diburu orang. Pabrik pembuatnya pun kewalahan menghadapi tingginya permintaan yang tidak hanya datang dari masyarakat tapi juga pemerintah.
Apalagi sekarang badan kesehatan dunia WHO dan Pemerintah Indonesia mewajibkan masyarakat yang keluar rumah menggunakan masker. Tak urung di sepanjang jalan baik kota hingga pedesaan banyak pedagang yang menjual masker.
Harganya pun relatif murah. Masker yang terbuat dari kain  dibandrol Rp 5.000 per buah. Masker buatan perajin rumahan itu pun laris manis bak kacang goreng.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung Barat  juga kesulitan memperoleh masker kesehatan  yaitu masker sensi dan masker N95. Menyadari pentingnya masker sebagai alat pelindung diri dari paparan virus corona, Bupati Bandung Barat Aa Umbara bersama jajarannya mengambil kebijakan untuk pengadaan masker kain yang memiliki fungsi sama dengan masker yang biasa dipakai tenaga medis.
Pemkab Bandung Barat pun memesan 75.000 masker dari pelaku UMKM di Kabupaten Bandung Barat. Diperuntukan bagi warga yang termasuk dalam kategori tinggi di 165 desa se-Kabupaten Bandung Barat.
Pesanan dari Pemkab Bandung Barat ini diibaratkan seperti ketiban durian runtuh bagi para pelaku UMKM. Pasalnya, sejak virus corona mewabah mereka kehilangan order.
Ada 14 perajin yang mendapat order masker dari Pemkab Bandung Barat. Tersebar di Kecamatan Cililin, Cihampelas, Cipatat,  Cikalongwetan,  dan Ngamprah.
Ketua Forum UMKM Kabupaten Bandung Barat, Prana Ajisasdara mengungkapkan perajin yang mendapat order pembuatan masker berasal dari Kecamatan Cililin, Cihampelas, Cipatat,  Cikalongwetan, dan Ngamprah. Sebenarnya profesi mereka bukan pembuat masker, tapi di bidang konveksi dan penjahit pakaian.
"Alhamdulillah di tengah situasi ekonomi sulit seperti ini, kami para pelaku usaha kecil mendapat order pembuatan masker dari pemerintah daerah. Kami jadi bisa menyambung hidup, " kata Prana pelaku usaha konveksi asal Kampung Ngamprah Kidul RT 01/ RW 02, Desa/Kecamatan Ngamprah kepada galamedianews.com, Rabu (7/4/2020).
Dengan order pembuatan masker berbahan baku kain ini, lanjut Prana, menghidupkan 26 orang tukang jahit. Belum ditambah tukang ngepak barang dan tukang setrika.
"Untuk tukang setrika dan pengepak barang melibatkan ibu-ibu. Sehingga banyak orang yang terhidupi dari pembuatan masker kain ini," ujarnya pria berusia 45 tahun ini.
Prana "aslinya" adalah seorang pelaku usaha yang memproduksi seragam, kaos olahraga dan tas.  Namun semenjak corona menjangkiti  Indonesia bahan baku menjadi susah karena banyak toko yang tutup.
"Buyer juga banyak yang enggak order. Alhamdulillah, ada masker membuat penjahit enggak nganggur," imbuhnya.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR