Gunakan Morfin demi Kemanusiaan, Sejumlah Negara Eropa Mulai Jajaki Opsi Suntik Mati Pasien Covid-19

Dunia

Rabu, 8 April 2020 | 12:41 WIB

200408124208-pande.jpg

dailymail

Para dokter di negara-negara Eropa termasuk Spanyol dan Prancis dilaporkan mulai memasukkan kemungkinan opsi euthanasia atau suntik mati sebagai bagian dari penanganan pasien Covid-19.

Dikutip dari DailyMail belum lama ini, keputusan sulit diambil menyusul angka kematian di episentrum virus corona Eropa yang jauh melampaui angka kematian resmi Covid-19 di negara asalnya Cina.

Spanyol hingga pekan ini mengonfirmasi 130.759 kasus dengan 4.591 kematian, sedangkan Prancis hampir 90 ribu kasus dengan tingkat kematian lebih tinggi 7.560.

Meski secara resmi euthanasia sama-sama ilegal di kedua negara tadi tetapi sejumlah dokter di Spanyol dan Prancis mengakui opsi suntik mati mulai terasa "rasional". Dokter di Spanyol pun sudah diperintahkan untuk tidak lagi menggunakan ventilator bagi pasien berusia 80 tahun ke atas.

Demikian klaim mantan anggota parlemen Catalonia, Spanyol, Alfons Lopez Tena. Ia juga mengatakan pasien usia lanjut dengan penyakit bawaan saat ini mendapat suntik morfin sebagai jalan pintas pengobatan. 

Lebih lanjut dalam cuitannya ia menyebut, "Pemerintah Catalonia memutuskan untuk membiarkan pasien dengan harapan hidup sedikit dan tidak menerima mereka yang memiliki komplikasi penyakit."

Wilayah timur laut Catalonia mendapat pukulan berat pendemi Covid-19 dengan 24 ribu kasus. Laporan LaVanguardia, dalam dokumen yang dirujuk Tena disebutkan jika pasien dengan kondisi parah sebaiknya dipulangkan.

Sementara di Prancis, dokter paliatif yang bertugas di Bordeaux, Bernard Delavois mengingatkan berkurangnya persediaan morfin dan midazolam yang biasa digunakan untuk meredakan rasa sakit pasien di akhir hidup, bisa memicu praktik euthanasia.

Terutama di panti-panti di mana staf kewalahan menangani kasus asfiksia atau sesak napas akut. Tak hanya itu ketiadaan morfin juga membuat pasien berkondisi parah melalui detik-detik terakhir hidup mereka dengan tidak mudah. 

Kepala French Gerontology and Geriatics Society (FGGS), Profesor Guerin mengungkapkan paramedis dihadapkan pada pilihan untuk menentukan siapa yang paling "layak" mendapat pertolongan resusitasi. Tindakan yang disebut spesialis paru-paru, Thibaud Somagne tak selalu memberi pengaruh signifikan.

Mengenai tindakan yang setidaknya meredakan rasa sakit di saat terakhir pasien disebut Profesor Regis Aubrey yang bertugas di unit Covid-19 merupakan bagian dari kemanusiaan. Salah satunya karena mereka pun tak didampingi keluarga.

"Meski dalam kedaruratan tak seharusnya kita melupakan aspek kemanusiaan," ujarnya kepasa AFP. Ditambahkan dr. Devalois tak sedikit pasien yang mengalami panik saat mendapat serangan sesak napas.

Untuk itu ia meminta kelonggaran pasokan obat-obatan penenang, termasuk untuk rumah-rumah jompo. Apalagi sepertiga dari total pasien di Prancis merupakan lansia dan tak sedikit yang mendapat perawatan di panti. Menurutnya setidaknya pasien "pergi" tanpa merasakan sakit secata fisik.

Editor: Mia Fahrani

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR