Diklaim Sembuhkan Pasien Covid-19, Tenggak Alkohol Murni 600 Warga Iran Tewas 3.000 Jalani Perawatan

Dunia

Rabu, 8 April 2020 | 09:40 WIB

200408094108-dikla.jpg

dailymail

Ratusan orang meninggal dan ribuan lainnya harus mendapat perawatan setelah keracunan alkohol murni di Iran. Tepatnya 600 nyawa melayang dan 3.000 orang dalam kondisi lemas usai menenggak minuman yang diyakini mampu menyembuhkan virus corona atau Covid-19.

Dikutip dari DailyMail kemarin, warga yang selamat kini terbaring di rumah sakit. Demikian keterangan Gholam Hossein Esmaili yang mengatakan, "Angka korban sangat tinggi dan tak ada yang menduganya. Alkohol bukan obat dan bisa sangat mematikan."

Kepada kantor berita Tasnim News Agency Esmaili memastikan sejumlah orang telah ditahan. Mereka yang terbukti memicu aksi minum alkohol murni akan mendapat hukuman setimpal.

Dengan lebih dari 62 ribu kasus infeksi dan 3.872 kematiab, Iran menjadi salah satu negara yang terdampak paling buruk akibat pandemi Covid-19. Sejauh ini pihak medis mengaku hanya ada sedikit pilihan obat yang dapat meredakan gejala serangan virus.

Meski demikian dalam tujuh hari terakhir angka kematian mulai menurun. Selain itu untuk pertama sejak 25 Februari, dua pertiga anggota parlemen Iran yang berjumlah 290 orang kembali menggelar pertemuan. Sidang tertutup ini tidak dihadiri ketua Majles yang juga politisi senior Ali Larijani yang 19 minggu lalu positif Covid-19.

Setidaknya 31 anggota Majles positif terinfeksi dan sidang kemarin membahas kemungkinan lockdown total selama satu bulan. Diakui sebagai pilihan tak sedikit yang menganggap opsi ini akan memengaruhi ekonomi. Seperti diungkapkan Shadmehr Kazemzadeh yang mempertanyakan dana talangan selama lockdown.

Namun Abdolkarim Hosseinzadeh yang membuat draf opsi penanganan pandemi Covid-19 menyebut keputusan harus segera diambil. "Kita harus mengambil keputusan segera. Apa pun keputusan kita saat ini, sejarah akan mencatatnya," ujarnya. Selain itu media cetak sudah mulai terbit setelah larangan selama beberapa pekan.

Editor: Mia Fahrani

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR