Guayaquil,Tiba-tiba Jadi Kota Terhoror di Dunia

Dunia

Selasa, 7 April 2020 | 07:34 WIB

200407073326-guaya.jpg

MENGERIKAN, itulah kesan yang bisa diungkapkan untuk kota ini. Mayat tergeletak dimana-mana, seolah kota ini kota mati sekaligus menyeramkan.

Itulah Kota Guayaquil di Ekuador. Kota ini benar-benar menjadi kota paling horor di dunia. Bagaimana tidak, tiba-tiba saja secara tak terduga di jalanan kota banyak sekali jenazah-jenazah korban Virus Corona atau COVID-19.

Kondisi kota berpenduduk 2,5 juta jiwa itu benar-benar menakutkan, entah berapa banyak mayat ditemukan di jalanan dalam berbagai kondisi. Ada yang dibungkus dalam plastik, ada yang hanya ditutupi kain saja, ada yang dibungkus dengan kasur dan ada juga yang sudah dikemas rapi dalam peti mati.

Namun, dari semua jenazah yang dibiarkan di jalanan. Ada satu jenazah tak dikenal yang benar-benar menjadi sorotan dunia. Foto jenazah ini bahkan telah tersiar luas di media sosial.

Jenazah itu ditemukan di tengah jalan di tengah kota di seberang pertokoan yang tutup. Kondisi terbungkus dalam kain. Jenazah dibaringkan di kursi kayu panjang.

Di bagian kepala jenazah dipasang sebuah payung besar yang biasa dipakai pedagang. Dan yang paling memilukan, di atas badan jenazah itu ada kertas karton yang bertuliskan pesan yang sangat mengharukan.

Pada kertas tertulis kalimat "Kami telah menelepon 911 dan tidak ada bantuan!" dalam bahasa Ekuador, dikutif viva.co.id, Senin (6/4/2020).

Identitas jenazah tak diketahui

Hingga saat ini, tak diketahui identitas jenazah korban corona itu. Namun, kini jenazah itu sudah tak ada di lokasi, petugas sudah mengevakuasinya ke kamar jenazah rumah sakit setempat.

Sejauh ini belum diketahui jumlah pasti warga Kota Guayaquil yang meninggal akibat corona. Hanya saja menurut Menteri Kesehatan Ekuador, Juan Carlos Zevallos jumlahnya mencapai 1.500 jiwa.

"Kamu tidak bisa menyembunyikan mayat, kamu tidak bisa menyembunyikan korban tewas. Itu sama sekali tidak layak, itu adalah momen ketidak-transparansi. Apa yang saya jelaskan adalah bahwa ada peningkatan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam jumlah orang yang meninggal di kota itu, dari pergi dari 700 menjadi 1500 mati dalam waktu yang sangat singkat adalah sesuatu yang menjadi tidak terkendali," kata Zevallos.

Warga terpaksa menyimpan jenazah keluarga mereka di jalanan dan dalam rumah karena tak pernah ada bantuan darurat datang. Walaupun sudah berusaha dihubungi. Bahkan, tak cuma itu saja kondisi di fasilitas kesehatan seperti rumah sakit di kota itu juga genting. Banyak pasien corona yang terlantar di luar ruangan.

Kondisi yang tak kalah memilukan terlihat di kamar jenazah rumah sakit setempat. Jenazah tak lagi tertampung karena jumlahnya yang sangat banyak. Petugas terpaksa memanfaatkan kamar mandi untuk menyimpan jenazah.

Sementara itu, pemerintah juga telah mengerahkan tim medis untuk menangani pasien. Selain itu, tentara juga dikerahkan untuk melakukan penyemprotan disinfektan. Dan ribuan peti mati juga telah dibagikan.

Editor: Rosyad Abdullah

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR