CEO Zoom Akui Salah Langkah Soal Keamanan dan Privasi

Teknologi

Senin, 6 April 2020 | 09:09 WIB

200406091051-ceo-z.jpg

CEO Zoom Eric S. Yuan mengakui jika temuan masalah keamanan dan privasi yang muncul beberapa waktu belakang ini sebagai "niatan yang baik," namun salah langkah.

"Kami bergerak terlalu cepat... dan kami salah langkah," katanya dalam sebuah wawancara yang dikutip The Verge, Minggu (5/4/2020).

"Kami telah mempelajari dan kami telah mengambil langkah mundur untuk fokus pada privasi dan keamanan," imbuhnya.

Sebelumnya, dalam wawancara kepada Wall Street Journal, Yuan mengakui, benar-benar kacau sebagai CEO. Ia merasa berkewajiban untuk memenangkan kembali kepercayaan pengguna.

Penggunaan Zoom meningkat tajam ketika orang-orang, yang harus berada di rumah untuk memutus rantai penyebaran pandemi virus corona, menggunakannya untuk tetap terhubung dengan pekerjaan maupun kegiatan belajar mengajar.

Dalam unggahan blog pada Rabu (1/4/2020), Yuan menyebutkan, penggunaan Zoom mencapai 200 juta peserta rapat harian pada Maret, naik dari hanya 10 juta peserta rapat pada Desember.

Zoom menjadi target iseng atau "Zoombombing" yang memungkinkan orang tanpa diundang masuk dalam rapat. Perusahaan yang berbasis di Amerika Serikat itu kemudian bertekad untuk menyelesaikan masalah keamanan, dengan mengumumkan pada Kamis (2/4), penghentian pembaruan fitur selama 90 hari untuk fokus pada privasi dan keamanan.

Namun, kekhawatiran keamanan pada Zoom telah membuat sejumlah sekolah di AS, termasuk di kota New York, untuk melarang penggunaan platform konferensi video itu dalam kelas online.

Departemen Pendidikan kota New York kepada para guru mengatakan bahwa mereka tidak boleh menggunakan Zoom, dan menggelar kelas online menggunakan layanan pesaingnya, Microsoft Teams.

"Kami masih dalam proses bekerja sama dengan mereka," kata Yuan mengacu pada pihak sekolah di New York. "Kami ingin Zoom menjadi perusahaan yang mengutamakan privasi dan keamanan," dia menambahkan.

Editor: Brilliant Awal

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR