Beli Dua Bidang Tanah, Pramono Malah Dipolisikan si Pemilik Tanah

Crime Story

Minggu, 5 April 2020 | 17:04 WIB

200405170915-beli-.jpg

KUASA hukum Pramono Prayitno, Jimmy Simamora SH, M.Th berharap agar penyidik Ditreskrimum Polda Jabar profesional dalam menangani kasus yang menimpa kliennya.
Kasus tersebut berawal dari pembelian dua bidang tanah di Jalan Mekarwangi, Kota Bandung milik pasangan suami istri, Budi Hartono dan Upuh Surnasih warga Kelurahan Mekarwangi, Kecamatan Astana Anyar, Kota Bandung oleh Pramono Prayitno, seharga Rp 5‎,5 miliar. Akan tetapi, Pramono malah dilaporkan oleh Upuh Sunarsih dengan tuduhan tindak pidana Pasal 372, 263 dan 266 KUH Pidana dengan nomor laporan polisi LP.B/109/II/2020 Jabar pada tanggal 2 Februari 2020, lalu.
Jimmy berharap penyidik profesional menangani kasus ‎ini. Dalam laporannya, lanjut Jimmy, pelapor berpendapat bahwa tidak ada transaksi jual beli melainkan pinjam meminjam dengan jaminan sertifikat tanah. Akan tetapi kliennya itu, Pramono ditawarkan tanah di Jalan Mekarwangi pada 2016 untuk satu bidang tanah. Kemudian, dibeli oleh Pramono Rp 1,5 miliar. 
"Dan pada 12 April sudah menghadap ke notaris dan pada sudah keluar sertifikat hak milik nomor 2966/Kelurahan Mekarwangi dan sudah balik nama atas nama istri Pramono, Yuni Esmawati," jelas Jimmy kepada wartawan di Jalan Moch Toha, Minggu (5/4/2020).
Masih dikatakannya, pada akhir 2017, pasangan suami istri itu kembali menawarkan sebidang tanah lainnya. Sempat ditolak namun akhirnya dibeli seharga Rp 4 miliar dengan pembayaran pada 19 Oktober 2017. Atas pembelian itu, sertifikat hak milik nomor 2960/Kelurahan Mekarwangi itu beralih dan sudah balik nama ke Pramono. 
"Semua pembelian sudah dilakukan secara sah, mereka sudah menghadap notaris. Tapi belakangan, klien saya malah dilaporkan ke Ditreskrimum Polda Jabar," katanya.
Kasus ini ditangani Unit 3 Subdit 1 Ditreskrimum Polda Jabar dan masih berstatus penyelidikan lewat surat perintah penyelidikan nomor Sp. Lidik/80/II/2020 Ditreskrimum tanggal 13 Februari. 
Karena pelaporan‎nya itu tidak berdasar, tidak disertai bukti apapun. Sedangkan, sedari awal, ini masuk jual beli secara sah. "Jadi, kami berharap penyidik bekerja profesional menangani kasus ini," kata dia. 
Ia menambahkan, melihat kontruksi peristiwa kasus ini, semuanya murni perkara perdata berkaitan dengan perjanjian jual beli. Penjual dan pembeli sudah sama-sama sepakat untuk bertransaksi jual beli dua bidang tanah yang sempat dijadikan Rumah Makan Haruman.
"Sehingga, dengan melihat bukti-bukti surat yang ada pada kami, yang ditandatangani juga oleh pelapor, kami menilai tidak ada perbuatan pidana dalam kasus ini. Dan itu juga harus diyakini polisi,"  katanya. 

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR