Divonis Thalasemia Mayor, Bayi Berusia 3 Tahun Ini Butuh Pendonor Darah B

Bandung Raya

Minggu, 5 April 2020 | 09:00 WIB

200405090117-divon.jpg

Engkos Kosasih

SATRIA, usianya hampir 3 tahun. Di usianya yang masih balita, Satria anak semata wayang dari pasangan Heri dan Yulia Citra ini harus mengalami penderitaan pahit setelah dokter memvonis anak tersebut menderita thalasemia mayor. 

Anak yang dilahirkan dari keluarga sederhana asal Kampung Cisero RT 01/RW 03 Desa Sudi Kecamatan Ibun Kabupaten Bandung Jabar itu, sejak berusia 5 bulan atau sudah berlangsung selama 2,5 tahun ini harus menjalani penanganan medis (transfusi darah) atas kondisi tubuh yang dideritanya. 

"Kami punya seorang anak dan divonis thalasemia mayor oleh dokter sejak berumur 5 bulan dan tiap bulan kontrol ke rumah sakit untuk transfusi darah," ucap Yulia Citra, lirih sambil memeluk anak semata wayangnya kepada galamedianews.com di rumahnya, Ahad (5/4/2020). 

Saat ini, imbuh Yulia Citra, anaknya sudah berusia hampir 3 tahun. Yulia Citra bersama suaminya Heri menaruh harapan besar anaknya bisa kembali sembuh, seperti anak-anak seusianya.  Karena rasa sayangnya terhadap anaknya itu, Yulia Citra bersama suaminya terus-menerus melakukan ikhtiar membawa anaknya berobat untuk menjalani transfusi darah ke rumah sakit. 

Untuk mendapatkan pelayanan kesehatan anaknya, Yulia Citra pun memanfaatkan kartu BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) untuk berobat jalan anaknya ke rumah sakit.

"Sejauh ini, alhamdulillah selalu lancar dalam mendapatkan pelayanan kesehatan untuk anak saya karena sebelumnya selalu dilengkapi  berkas persyaratan untuk mendapatkan pelayanan BPJS dari pemerintah," katanya.

Ia pun menuturkan, selama hampir 2,5 tahun selalu lancar dalam mendapatkan pelayanan kesehatan, karena pihak rumah sakit selalu menyediakan stok darah untuk transfusi anaknya yang masih balita. 

"Walaupun saya pernah satu kali pergi ke PMI untuk ambil darah buat anak saya karena stok kosong di rumah sakit. Biasanya setiap Ramadan atau sesudahnya stok darah di PMI mulai agak sulit. Jadi biasanya yang mau transfusi harus bawa pendonor. Tetapi sejak dunia dirundung duka dan masalah ini menambah kesedihan saya karena melihat kondisi anak saya saat ini," paparnya. 

Mengingat, katanya, pihak rumah sakit mengalami keterbatasan stok darah untuk melayani penderita thalasemia mayor setelah wabah virus corona (Covid-19) melanda negeri ini. Akibatnya, berkurangnya para pendonor darah untuk kebutuhan transfusi darah. 

Dengan adanya keterbatasan stok darah di rumah sakit, kedua orang tua Satria berharap ada pihak yang mau mendonorkan darahnya. Setiap kali melaksanakan transfusi darah, Satria membutuhkan golongan darah B. 

"Saya berharap ada pihak yang mau mendonorkan darahnya, untuk kesembuhan anak saya. Setiap bulan anak saya harus menjalani proses pengobatan (transfusi darah) ke rumah sakit," harapnya.

Tak hanya membutuhkan golongan darah B, untuk kelangsungan pengobatan Satria ini membutuhkan uluran tangan para dermawan yang sekiranya dapat menyumbangkan atau menyisihkan sebagian rezekinya. Dengan harapan bisa mengobati kesembuhan anak tersebut. Mengingat, pendapatan ayah kndungnya belum cukup untuk memenuhi kebutuhan biaya pengobatan anak kesayangannya. 

"Tidak tahu harus mulai dari mana saya bercerita. Tetapi di sini saya yang begitu amat terpukul dengan musibah ini," ungkapnya. 

Menurutnya, bukan soal karena pekerjaan atau apa. yang jelas ia sangat terpukul dengan kondisi anaknya. Yulia Citra yang merupakan seorang ibu rumah tangga ini, suaminya yang sehari-hari seorang satpam di salah satu tempat wisata di Dago Bandung. 

"Tempat itu ditutup sementara waktu hingga waktu yang tidak ditentukan. Biasanya dia dalam sebulan hanya punya waktu di rumah dua hari, tapi sekarang kerjanya hanya selang waktu sehari (sehari kerja sehari libur)," tuturnya.

Tapi ia mengaku masih bisa bersyukur karena suaminya masih tetap bekerja. "Tidak seperti yang lain, full libur sementara," katanya.

 

Editor: Efrie Christianto

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR