Dituding Donald Trump Sembunyikan Data Covid-19, Begini Reaksi Cina

Dunia

Sabtu, 4 April 2020 | 00:10 WIB

200403234927-ditud.jpg

South China Morning Post

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Hua Chunying.

NEGARA Cina sepertinya mulai gerah terus disudutkan sejumlah pejabat di Amerika Serikat (AS) perihal wabah virus corona atau covid-19. Terlebih, Presiden AS, Donald Trump yang menuding Cina menyembunyikan data kasus covid-19.

Pihak Cina menyatakan sindiran tersebut hanya ingin melempar kesalahan dari para pejabat tersebut.

Dilansir dari Bloomberg, pejabat intelijen AS sebelumnya menyatakan bahwa laporan kasus Covid-19 di Negera Cina sengaja tidak dilengkapi. Bahkan, berdasarkan penuturan dari sejumlah pejabat telik sandi anonim, data yang dipaparkan oleh Negeri "Panda" itu palsu.

Karena itu, sejumlah politisi AS baik dari House of Representatives maupun Senat menyatakan, Cina tidak bisa dipercaya dalam upaya memerangi virus corona.

Dalam konferensi pers, Presiden Donald Trump juga meragukan data yang dipaparkan Beijing sejak wabah tersebut merebak luas pada akhir Desember 2019.

"Bagaimana kita tahu jika (laporan) itu akurat? Angka mereka kelihatan tidak jelas di satu sisi," ujar presiden berusia 73 tahun itu.

Atas tudingan tersebut, pihak Cina membalas serangan tersebut. "Beberapa pejabat di AS ingin melempar kesalahan," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Hua Chunying, dilansir New York Post, Kamis (2/4/2020).

Hua mengatakan, dia tidak ingin terlibat dalam adu argumen. Tetapi karena terus disudutkan, dia merasa bertanggung jawab untuk mengklarifikasi.

Hua kemudian balik mempertanyakan mengapa Washington baru merespons akhir-akhir ini. Padahal, mereka sudah melarang penerbangan dari Cina sejak 2 Februari.

"Bisakah kalian mengatakan kepada saya apa saja yang AS sudah lakukan dalam dua bulan terakhir?" sindir Hua Chunying dalam keterangan pers.

Merujuk kepada data yang dirilis Worldometers, Cina melaporkan 81.589 kasus penularan Covid-19, dengan 3.318 orang meninggal dunia.

Sementara AS saat ini adalah negara dengan tingkat infeksi tertinggi, di mana Washington mengonfirmasi 217.594 penularan dan 5.152 kematian.

Meski begitu, Komisi Kesehatan Nasional Cina mengakui, mereka tidak menyertakan pasien positif yang tidak menunjukkan gejala, dan baru mulai melakukannya.

Karena itu pada Rabu (1/4/2020), Beijing mulai memperbarui datanya dengan memasukkan 1.367 kasus tanpa gejala, demikian pemberitaan Fortune.

Wakil Presiden Mike Pence selaku pimpinan gugus tugas penanganan wabah menyatakan, mereka akan lebih bersiap seandainya Beijing "lebih terbuka".

"Apa yang tampak jelas adalah kemungkinan China sudah berkutat dengan wabah ini jauh sebelum dunia mengetahuinya pada Desember lalu," kata Pence seperti dilansir CNN.

Editor: H. D. Aditya

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR