"Vina Garut" Divonis 3 Tahun Penjara dan Denda Rp 1 Miliar

Daerah

Kamis, 2 April 2020 | 21:35 WIB

200402213727--vina.jpg

Agus Somantri

Jaksa penuntut umum dan pengacara terdakwa VA saat mengikuti persidangan yang digelar secara omline melalui teleconference di.Kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Garut, Jalan Merdeka,Kabupaten Garut, Kamis (2/4/2020).

MAJELIS Hakim Pengadilan Negeri (PN) Garut menjatuhkan hukuman selama 3 tahun penjara serta denda Rp 1 miliar subsider 3 bulan kurungan penjara kepada terdakwa VA (19), pemeran wanita dalam video pornografi "Vina Garut", Kamis (2/4/2020).

Dalam sidang putusan tersebut, Majelis hakim yang diketuai Hasanudin, menilai jika terdakwa VA terbukti bersalah secara sah dan meyakinkan karena ikut serta menjadi objek yang mengandung pornografi.

"Menjatuhkan pidana penjara terhadap terdakwa tiga tahun dan denda Rp 1 miliar subsider tiga bulan penjara," ujar Ketua Majelis Hakim, Hasanudin, Kamis (2/4/2020).

Menurut Majelis Hakim, terdakwa VA telah melanggar Pasal 8 Undang-Undang Pornografi. Putusan majelis hakim tersebut lebih ringan dua tahun dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang sebelumnya menuntut terdakwa VA dengan hukuman 5 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar.

Sidang putusan kasus 'Vina Garut' untuk terdakwa VA tersebut berlangsung secara virtual. Dalam pelaksanaannya, proses persidangan dilakukan seperti biasa dengan dipimpin satu hakim ketua, serta dua hakim anggota.

Majelis hakim membacakan putusan di ruang persidangan Pengadilan Negeri (PN) Garut. Namun jaksa penuntut umum dan pengacara terdakwa berada di Kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Garut. Sedangkan untuk terdakwa VA tetap berada di rumah tahanan (rutan). Mereka terhubung melalui telekonferensi.

Ajukan banding
Sementara itu, terkait putusan yang dijatuhkan majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Garut, Tim penasehat hukum terdakwa VA, langsung menyatakan untuk mengajukan banding.

"Kami akan ajukan banding, terkait putusan majelis hakim" ujar kuasa hukum VA, Asri Vidya Dewi, usai mengikuti sidang di Kejaksaan Negeri (Kejari Garut).  

Asri menyebut, ada beberapa pertimbangan pihaknya mengajukan banding. Salah satunya ada bukti yang tidak dipertimbangkan majelis hakim, seperti kliennya pernah melapor ke polisi itu tidak dilihat. Selain itu Juga, tidak dipertimbangkan relasi kuasa yang timpang.

"Jadi ada banyak hal yang dalam fakta persidangan tidak dipertimbangkan (majelis hakim). Makanya kami akan ajukan banding," katanya.

Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Garut, Sugeng Hariadi, mengaku sangat menghargai apa yang menjadi putusan majelis hakim. Menurutnya, tim JPU memiliki waktu tujuh hari untuk pikir-pikir.

"Tim JPU kami akan pikir-pikir, karena kami memiliki waktu tujuh hari," ucapnya.

Diungkapkan Sugeng, selama tujuh hari masa pikir-pikir tersebut, pihaknya akan menggunakan kesempatan itu untuk berkonsultasi dan mendiskusikannya terlebih dahulu untuk menentukan langkah apa yang akan dilakukan. Namun kecenderungannya, terang Sugeng, jaksa juga akan menyatakan banding.

"Kalau pihak mereka (pengacara VA) mengajukan banding, ya kami akan ikuti. Secara SOP kami seperti itu. Jadi ada kecenderungan banding. Ada beberapa pertimbangan menurut kami terhadap barang bukti ada yang kurang," katanya.

Sebelumnya, pada pekan lalu majelis hakim Pengadilan Negeri Garut juga telah menjatuhkan hukuman kepada dua terdakwa lainnya dalam kasus video "Vina Garut". yakni WE dan AD. Keduanya divonis 2,9 tahun dan denda Rp 1 miliar subsider 3 bulan kurungan penjara. Atas putusan tersebut, kedua terdakwa menyatakan menerima.

Editor: Efrie Christianto

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR