Dampak Corona, Sektor Pariwisata di Kabupaten Bandung 'Lumpuh'

Pariwisata

Selasa, 31 Maret 2020 | 18:19 WIB

200331182436-dampa.jpg

SEKTOR pariwisata di Kabupaten Bandung terdampak bencana nonalam wabah virus corona (Covid-19). Untuk memutus mata rantai penyebaran virus tersebut, para pengelola tempat wisata menutup sementara usahanya.

Publik Relation objek wisata Glamping Lake Side dan Pinisi Resto Situ Patengang Kecamatan Rancabali, Marcelinus mengatakan, sejak 17 Maret 2020 lalu pihaknya menutup total tempat wisata tersebut.

Aktivitas di tempat tersebut hanya ada sejumlah karyawan yang memang ditugaskan untuk bekerja secara bergiliran. Mereka hanya melakukan kegiatan pemeliharaan dan membersihkan semua peralatan dan tempat itu.

"Karena untuk mencegah atau memutus mata rantai covid-19 ini, kami mengikuti apa yang haruskan oleh pemerintah untuk menutup dulu kegiatan wisata. Selama tutup kegiatan karyawan kami melakukan bersih-bersih dan pemeliharaan saja," kata Marcelinus saat dihubungi melalui telepon seluler, Selasa (31/3/2020).

Dikatakan Marcelinus, karena operasional tempat wisata itu kini ditutup, stok bahan makanan yang semula dipersiapkan untuk melayani kebutuhan penunjung, saat ini sudah dibagikan pada semua karyawan. Jumlah 200 orang karyawan yang sehari-hari bekerja di tempat ini, sekarang dipekerjakan bergiliran per 14 hari.

Kegiatan karyawan yang biasanya melayani semua kebutuhan pengunjung kini terfokus pada kegiatan bersih-bersih dan pemeriharaan.

"Kami jadi lebih fokus dan detail bersih-bersih yah. Sampai semua peralatan, bangunan perahu Pinisi Resto dan jembatan kami cuci pakai sabun. Yah walaupun kami kehilangan potensi pendapatan karena menghadapi libur sekolah, puasa dan lebaran, tapi langkah ini harus kami ambil untuk kebaikan dan keselamatan semua orang, karena memang wabah ini harus dihadapi bersama-sama oleh semua pihak. Dan semua pelaku usaha wisata di sini (Rancabali-Ciwidey) kompak tidak ada yang buka," ujarnya.

Hal senada dikatakan oleh General Manager (GM) objek wisata Kampung Batu Tectona Water Park di Kecamatan Baleendah, Irianus Tanjung. Menurutnya, objek wisata tersebut ditutup total sejak 23 Maret 2020 lalu.

Potensi kehilangan pendapatan karena banyak rencana kunjungan wisata yang dibatalkan atau dijadwal ulang, mencapai kurang lebih Rp 500 juta. Apalagi saat ini akan menghadapi musim libur sekolah, puasa dan lebaran. Kemudian saat libur akhir pekan dan libur tanggal merah.

"Aktivitas sehari-hari saat ini hanya ada 15 dari 40 orang karyawan yang bekerja. Mereka tetap masuk karena walaupun operasional tutup, tapi pemeliharaan mesin, kebersihan dan mini zoo kan tetap harus ada yang merawat. Kerugian lumayan besar, tapi keputusan ini tetap harus kami lakukan untuk kebaikan dan keselamatan bersama," ungkap Irianus.

Selain Kampung Batu Tectona Park, kata Irianus yang juga Dewan Penasihat Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Bandung itu, menyebutkan semua hotel dan restoran di Kabupaten Bandung sama-sama mengalami kerugian. Karena memang semua berhenti beroperasi untuk mencegah penularan virus corona.

"Semua hotel, restoran dan tempat-tempat wisata di Kabupaten Bandung semuanya sama. Sekarang juga PHRI sudah mengajukan beberapa permohonan keringanan pada pemerintah, seperti keringanan pajak dan lainnya. Yah kami berharap musibah ini segera berlalu dan sektor pariwisata di Indonesia bisa segera bangkit," jelasnya.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR