Perumusan Visi, Misi, dan Tujuan Sekolah

Citizen Journalism

Selasa, 31 Maret 2020 | 14:06 WIB

200331140731-perum.jpg

JAWA Barat memiliki 2950 SMK. Dari pengalaman penulis melaksanakan akreditasi di SMK sejak tahun 2011 ke berbagai pelosok agak susah menemukan perumusan visi misi dan tujuan sekolah dengan proses yang sistematis apalagi menggunakan konsep dengan syntax yang rapih. Melihat dari keperihatinan itu mudah mudahan tulisan ini ada maknanya.

Perumusan Visi, Misi dan Tujuan suatu lembaga, organisasi atau sekolah yang paling populer adalah dengan menggunakan metode Delphi. Langkah langkah Metode Delphi ini menurut Gorton (1976:26-27) sebagai berikut:

1. Mengidentifikasi individu atau pihak-pihak yang dianggap memahami persoalan dan hendak dimintai pendapatnya mengenai pengembangan sekolah;

2. Masing-masing pihak diminta mengajukan pendapatnya secara tertulis tanpa disertai nama/identitas;

3. Mengumpulkan pendapat yang masuk, dan membuat daftar urutannya sesuai dengan jumlah orang yang berpendapat sama.

4. Menyampaikan kembali daftar rumusan pendapat dari berbagai pihak tersebut untuk diberikan urutan prioritasnya.

5. Mengumpulkan kembali urutan prioritas menurut peserta, dan menyampaikan hasil akhir prioritas keputusan dari seluruh peserta yang dimintai pendapatnya.

Pada setiap institusi atau organisasi selalu ada karyawan/anggota yang tidak hirau, bersebrangan dengan unsur pimpinan dan proaktif. Kedua kelompok terakhir yang ingin membenahi organisasi bagus diajak untuk membenahi secara sistematik. Kelompok anggota atau karyawan yang kritis merupakan aset luar biasa manakala di posisikan dengan baik.

Setiap pihak dikumpulkan dan dibuat kelompok serta diminta untuk memberikan pendapatnya secara tertulis. Pada langkah ini baik dimodifikasi jika sebelum memberikan pendapatnya masing masing pihak sudah memahami dengan baik analisis SWOT.

Analisis SWOT dilakukan dengan setiap anggota menyusun indikator dari Kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan kemudian menyusun dalam tabel.

Untuk sekolah bagus jika penentuan Indikator memanfaatkan nilai Raport Mutu yang ada di Laman PMP Kemdikbud dan nilai standar yang tinggi dijadikan nilai indikator kekuatan pada analisis SWOT sedangkan untuk Nilai Standar yang rendah dijadikan nilai kelemahan untuk Indikator SWOT. Sementara untuk indikator eksternal bisa didiskusikan bersama sama.

Pada Tabel penentuan Bobot dipersilahkan mana yang paling tinggi dan rendah yang penting jumlahnya 100 dan Nilai tertimbang merupakan hasil kali antara bobot dan nilai.

Kedua Nilai tersebut katakanlah (X, Y) merupakan kordinat yang menentukan Kuadran dimana hasil analisis SWOT berada.

1. Jika Hasilnya keduanya positif (+,+) berarti ada di kuadran I yang berarti Growth, yaitu organisasi diarahkan pada pertumbuhan, dalam artian bagaimana kendali kekuatan dimanfaatkan untuk meraih berbagai peluang yang ada

2. Jika Hasilnya keduanya positif (+,-) berarti ada di kuadran II yang berarti Stability, yaitu organisasi diarahkan pada kestabilan, dalam artian bagaimana kendali kelemahan sehingga tetap dapat peluang

3. Jika Hasilnya keduanya positif (-,-) berarti ada di kuadran III yang berarti Stability, yaitu organisasi diarahkan pada bertahan hidup, dalam artian bagaimana kendali kelemahan yang ada sehingga masih mampu bertahan dari ancama luar

4. Jika Hasilnya keduanya positif (-,+) berarti ada di kuadran IV yang berarti Diversification, yaitu organisasi diarahkan pada perubahan yang mendasar yang berbeda dari kondisi saat ini, dalam artian bagaimana kendali Kekuatan sehingga mampu mengalahkan ancaman luar.

Dari pendapat masing masing dikumpulkan mana pendapat mana yang paling banyak sama nya apakah di Kuadran I, II, III atau IV. Jika sudah ditentukan ada di kuadram mana dilanjutkan dengan menentukan nilai luhur yang akan digunakan sesuai dengan kuadran yang sudah ditetapkan.

Masing masing menyampaikan nilai luhur tertulis dan tetap tanpa identitas kemudian diurutkan dan dibuat nilai luhur mana yang paling banyak yang sesuai dengan kuadran yang sudah disepakati.
Nilai Luhur tidak perlu banyak cukup 4 atau 5 sebagai karakter yang akan dibangun di institusi.

Tahap akhir dalam merumuskan melalui kaidah SMART yaitu kalimat singkat yang berisi mimpi bersama dengan ciri: khusus (Spesific), dapat diukur (Measurable), dapat diraih dalam 4 tahun (Achievable) dan Jelas Waktunya (Time Bond).

Bagus juga jika keempat nilai luhur tersebut disingkat menjadi kata yang positif dan unik agar mudah diingat oleh segenap warga sekolah/institusi. Selanjutnya dari setiap nilai luhur diturunkan menjadi misi secara berurutan.

Keempat visi yang sudah ditetapkan diturunkan misalnya masing masing menjadi 5 misi maka akan terdapat 20 misi, lalu dari ke-20 misi diturunkan lagi jadi tujuan misalnya masing masing menjadi 5 tujuan maka akan tersusun 100 tujuan dan dari 100 tujuan diturunkan lagi jadi masing masing 5 kegiatan maka akan terdapat 500 kegiatan.

Jadi dalam 4 tahun ada 500 kegiatan yang kan dilaksanakan maka tidak ada kegiatan liar diluar kegiatan selain yang sudah dirumuskan secara bersama sama.


Pengirim:
Dede N. Zohari
Ketua MKPS SMK Jawa Barat  
Komunitas Cinta Indonesia


Seluruh materi dalam naskah ini merupakan tanggung jawab pengirim. Gugatan, somasi, atau keberatan ditujukan kepada pengirim

Editor: Brilliant Awal

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR