Tanggul Sungai Cisunggalah Jebol, Dua Bangunan Rumah Rata dengan Tanah

Bandung Raya

Selasa, 31 Maret 2020 | 09:53 WIB

200331095223-tangg.jpg

Engkos Kosasih

TANGGUL Sungai Cusunggalah di Kampung Muara RT 02/RW 02, Desa Panyadap, Kecamatan Solokanjeruk, Kabupaten Bandung kembali jebol, Senin (30/3/2020) sekitar pukul 20.30 WIB. Jebolnya tanggul dengan lebar sungai antara 3-4 meter dan kedalaman rata-rata 2 meter itu, merupakan yang kesekiankalinya.

Akibat jebolnya tanggul, sebanyak 5-6 rumah warga mengalami kerusakan berat. Bahkan dua di antaranya ambruk dan rata dengan tanah akibat diterjang derasnya air.

Pantauan galamedianews.com di lokasi kejadian, Selasa (31/3/2020), jebolnya tanggul menyisakan endapan lumpur dan barang-barang berharga milik para korban banjir yang mengalami kerusakan. Puing-puing dari sisa bangunan rumah yang mengalami kerusakan berat juga terlihat berserakan.

Tragedi jebolnya tanggul Sungai Cisunggalah itu menjadi perhatian warga sekitar. Pemerintah setempat pun turut membantu warga yang terdampak jebolnya tanggul tersebut.

Iwan, warga setempat mengaku prihatin dengan terus berulangnya kejadian tanggul jebol. "Mudah-mudahan Allah SWT memberikan kesabaran keikhlasan bagi warga yang terdampak. Mudah-mudahan Allah SWT memberikan jalan keluar dari setiap masalah yang kita hadapi," kata Iwan.

Iwan mengungkapkan dampak banjir bandang itu, sejumlah rumah warga mengalami rusak berat. "Ratusan kepala keluarga yang menjadi korban," kata Iwan.

Jauh hari sebelum memasuki musim penghujan, imbuh Iwan, warga sebenarnya sudah berinisiatif melakukan upaya antisipasi terjadinya luapan dari sungai. Warga khawatir sungai sudah tak kuat lagi menampung volume air yang makin besar.

"Apalagi kondisi sungai yang sudah dangkal dan sempit. Ini akibat banyaknya alih fungsi lahan di bagian hulu Sungai Cisunggalah, sehingga aliran air sungai sangat deras dan tanggul sungai tak mampu menahan derasnya aliran air," jelasnya.

"Sebenarnya, warga sudah berulang kali mengajukan agar ditindaklanjuti oleh pihak yang berwenang biar maksimal dalam upaya normalisasinya. Tapi apalah daya terkendala ini dan itu," sambung Iwan.

Iwan sangat menyayangkan belum adanya upaya penanggulangan tanggul yang rawan jebol itu. Ia berharap pihak berwenang melakukan tindakan cepat ketika sudah menjadi tragedi kebencanaan.

"Padahal tragedi ini terus berulang tiap tahunnya. Sudah tak terhitung lagi kerugian materinya. Ditambah kondisi warga yang kini semakin resah. Apakah harus ada korban jiwa kemudian mereka bertindak? Dimana kemampuan mereka menganalisa potensi bencana. Harta dan jiwa warga kenapa tidak menjadi prioritas mereka?" katanya.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR