Lansia dalam Pusaran Corona, Stop Mudik Jika Sayang Orang Tua

Citizen Journalism

Selasa, 31 Maret 2020 | 07:49 WIB

200331074957-lansi.jpg

ist

ilustrasi

SEBENTAR lagi bulan puasa, tapi virus corona tidak menunjukan tanda-tanda mereda. Bahkan di tengah persiapan bulan puasa, wabah semakin bertambah parah.

Hingga Senin (30/3/2020), ada 1.414 kasus positif Covid-19 di Indonesia, tersebar di 31 provinsi. Total kasus meninggal dunia menjadi 122 orang. Total kasus positif yang sembuh ada 75 orang. Sungguh di luar dugaan, Ramadhan kita harus dilalui dengan mewabahnya virus corona.

Pusat Pemodelan Matematika dan Simulasi (P2MS) Institut Teknologi Bandung (ITB) memprediksi epidemi virus corona (SARS-COV-2) akan berakhir di Indonesia pada akhir Mei hingga awal Juni 2020. Artinya, epidemi Covid-19 itu belum berakhir saat memasuki mudik Lebaran 2020.

Tentu ini menjadi kabar yang tidak menyenangkan. Betapa di saat bencana wabah seperti ini, justru secara fitrah, ada keinginan dalam diri untuk berkumpul bersama keluarga. Sudah banyak berseliweran di media sosial, kanal berita maupun grup-grup WA, imbauan untuk tetap berada di rumah. Bekerja dari rumah. Belajar dari rumah.

Imbauan tidaklah cukup, dengan karakter warga Indonesia yang beragam, dibutuhkan sikap tegas pemerintah untuk benar-benar menghentikan penyebaran virus yang menyerang alat pernafasan manusia ini. Sayangnya, pemerintah kecolongan. Warga curi start, mudik lebih awal dari Jakarta. Padahal Jakarta saat ini tidak hanya zona merah, bahkan menjadi epicentrum virus corona.

Di Jawa Tengah, dalam tiga hari, 23-26 Maret 2020, terjadi peningkatan kasus Covid-19. Pasien positif melonjak dari 19 orang pada Rabu 25 Maret 2020 menjadi 40 orang. Dari sekian tersebut, enam orang telah meninggal. Selain itu, orang dalam pemantauan (ODP) melonjak menjadi 3.638 orang dan pasien dalam pengawasan (PDP) menjadi 294 orang pada Kamis 26 Maret 2020.

Lonjakan kasus Covid-19 ini diduga karena warga perantauan dari berbagai provinsi yang kembali ke Jawa Tengah. Berdasarkan data, hingga 26 Maret 2020, ada sekitar 46.018 ribu warga dari berbagai provinsi yang pulang ke Jawa Tengah.

Tentu saja, ini akan memperburuk keadaan kota maupun kabupaten yang semula masih zona hijau atau zona kuning. Buruknya kesadaran warga ini tidak ditunjang oleh ketegasan pemerintah yang hanya menghimbau tanpa sanksi yang tegas.

Negara Italia memberikan sanksi pada warganya yang melanggar aturan lockdown yaitu dengan hukuman berupa kurungan penjara selama tiga bulan atau denda sebesar 206 euro atau sekitar Rp 3,5 juta. Negara Perancis menerapkan sanksi berupa denda sebesar 135 euro atau sekitar Rp 2,3 juta apabila melanggar aturan lockdown.

Berbeda dengan kedua negara tersebut, di Malaysia bila Warga yang kedapatan keluar rumah untuk alasan-alasan selain membeli makanan, pergi ke RS, atau mencari obat-obatan bakal dikenai denda sebesar 1000 ringgit dan atau hukuman penjara selama enam bulan.

Sulit menunggu negara yang warganya punya prinsip "aturan itu untuk dilanggar" tegas dalam bersikap. Maka satu-satunya cara adalah memberikan pemahaman serta kesadaran bagi warganya yang mau faham dan sadar.

Harus diketahui bersama, bahwa virus corona yang mencapai jumlah kematian mencapai 34.017 kasus di dunia ini, kematian paling banyak terjadi padan usia 80 tahun ke atas, dengan persentase mencapai 21,9 persen. Lansia lebih rentan terkena Covid-19 dan mengalami peningkatan komplikasi.

Ini dikarenakan sistem imun yang bertindak sebagai pelindung telah menurun dibandingkan ketika masih muda. Selain itu, tidak sedikit lansia yang memiliki penyakit kronis akibat penurunan fungsional organ mereka karena faktor penuaan. Seperti penyakit jantung, diabetes, asma atau kanker.

Tentu, hal ini dapat meningkatkan risiko atau bahaya infeksi virus corona. Kompilkasi yang timbul juga akan lebih parah. Bukan hanya menyebabkan gangguan pada paru-paru, infeksi virus Corona juga menurunkan fungsi organ-organ tubuh yang lainnya, sehingga kondisi penyakit kronis yang sudah dimiliki penderita lansia semakin parah bahkan sampai mengakibatkan kematian.

Oleh karena itu, sikap bijak kita adalah stop mudik jika sayang orang tua. Kita tidak pernah tahu, kita membawa virus Covid-19 ataukah tidak. Apalagi, jika kita termasuk kelompok positif virus corona yang tanpa gejala. Maka, apapun alasannya, jangan tinggalkan rumah-rumah kita. Tetap dirumah dan perlakukan diri kita seperti orang yang sedang terkena virus.

Sebagai sikap seorang muslim yang baik, ketika mendengar wabah, bagi yang di luar daerah wabah janganlah mendekati daerah wabah. Sedang bagi yang berada di wilayah wabah apalagi epicentrumnya, janganlah keluar dari daerah tersebut.

Ini sesuai dengan hadis Nabi Shalallahu 'alaihi Wassalam, yang Artinya: "Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu" (HR Bukhari).

Hadis ini begitu jelas sebagai anjuran seorang muslim agar mengikatkan dirinya pada hukum-hukum syariat di saat wabah. Tak terkecuali juga mengimani hadis ini dan melaksanakan apa yang telah Rasulullah sabdakan. Bahkan seorang Umar bin Khattab yang pemberanipun, berbalik arah kembali ke madinah, tidak jadi ke wilayah Syam, setelah Abdurrachman bin Auf membacakan Hadis Nabi ini kepadanya.

Maka, sikap seorang muslim haruslah mencontoh bagaimana para sahabat bersikap terhadap Hadits Rasulullah. Memang berat, memendam kerinduan yang mendalam setelah berbulan-bulan tak berjumpa orang tua atau keluarga. Namun, bukankah ini adalah solusi yang terbaik untuk orang tua kita yang ada di desa agar mereka tak ikut terpapar Corona.

Bukankah kesehatan orang tua adalah segala-galanya? Bagaimana jika justru dengan kepulangan kita yang menjadi obat rindu sesaat, justru menghantarkan kita kepada akhir perjumpaan selamanya? Naudzubillah.

Maka, sikap muslim yang bertakwa adalah bersabar menghadapi cobaan wabah virus Corona dan ridha untuk tidak pulang sejenak saja. Maka yakinlah pada janji Allah SWT dalam firmanNya:

"Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS Al Baqarah, 2: 155)

Juga dalam ayat-Nya yang lain, "Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (QS Az-Zumar, 39: 10)

Semoga Allah menggolongkan masyarakat Indonesia ke dalam golongan orang-orang yang bersabar lagi bertakwa. Aamiin Ya Rabbal Alamin.

Pengirim
Alfiyah Kharomah., STr. Batra
Founder Griya Sehat Alfa Syifa
fia.punktur@gmail.com

Seluruh materi dalam naskah ini merupakan tanggung jawab pengirim. Gugatan, somasi, atau keberatan ditujukan kepada pengirim


Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR