Lockdown, Jadi Tragedi Kemanusiaan bagi Ribuan Pekerja Migran India

Dunia

Selasa, 31 Maret 2020 | 08:18 WIB

200331074528-pahit.jpg

INI adalah pengakuan beberapa orang pekerja dan warga yang menjadi 'korban' atau belum siap dengan kebijakan lockdown yang diterapkan di India.

Di bawah terik panas matahari, Goutam Lal Meena telah berjalan menyusuri jalan aspal sejauh 300 km dengan mengenakan sandal. Dia mengaku bertahan dengan mengonsumsi air dan biskuit.

Di Gujarat, Meena dapat menghasilkan hingga 400 rupee (Rp 87.000) sehari dan mengirim sebagian besar penghasilannya ke rumah.

Pekerjaan dan upah mengering setelah India pada tengah malam 24 Maret lalu menyatakan karantina wilayah alias lockdown demi membatasi penyebaran virus corona. Pemerintah memberi warganya empat jam untuk bersiap-siap.

India telah mencatat lebih dari 1.000 kasus Covid-19 dan 27 orang meninggal dunia. Penutupan wilayah itu juga berimbas pada transportasi sehingga Meena terpaksa berjalan kaki.

"Aku berjalan sepanjang hari dan berjalan sepanjang malam. Pilihan apa yang kumiliki? Aku punya sedikit uang dan hampir tidak ada makanan," kata Meena, dengan suaranya yang terdengar serak dan tegang dikutif vivanews.com Selasa (31/3/2020).

Ia tidak sendirian. Di seluruh India, jutaan pekerja migran melarikan diri dari kota-kota yang tutup dan kembali ke desa mereka.

Para pekerja informal ini adalah tulang punggung perekonomian kota besar, mereka membangun rumah, memasak makanan, melayani di restoran-restoran, mengantar makanan, memotong rambut di salon, membuat mobil, membuat pipa toilet, dan mengantarkan koran.

Mereka berusaha melarikan diri dari kemiskinan di desa mereka dan sebagian besar dari 100 juta pekerja informal itu tinggal di perumahan kumuh sambil berharadapat meraih masa depan yang lebih sejahtera.

Para pekerja informal adalah tulang punggung perekonomian kota-kota besar di India.

Para pekerja migran ini seketika menjadi pengungsi akibat penutupan wilayah minggu lalu. Tempat kerja mereka ditutup, dan sebagian besar karyawan dan kontraktor yang membayar mereka menghilang.

Pekan lalu, segerombol laki-laki, perempuan, hingga anak-anak memulai perjalanan mereka pada saat yang berbeda-beda.

Mereka membawa barang-barang mereka yang seadanya, seperti makanan, minuman dan pakaian di dalam tas sederhana yang terbuat dari kain murah. Para pria muda membawa tas ransel. Ketika anak-anak terlalu lelah untuk berjalan, orang tua mereka menggendong mereka.

Mereka berjalan di bawah matahari dan berjalan di bawah bintang-bintang. Sebagian besar mengatakan mereka kehabisan uang dan takut mereka akan kelaparan.

"India berjalan pulang," bunyi tajuk utama surat kabar The Indian Express.

Eksodus besar-besaran itu mengingatkan khalayak dunia pada pelarian para pengungsi selama masa perpisahan berdarah pada 1947 lampau. Jutaan pengungsi berjalan ke Pakistan timur dan barat, dalam sebuah migrasi yang menelantarkan 15 juta orang.


Berjuang melawan rasa lapar

Ratusan ribu pekerja migran itu berusaha pulang ke kampung halaman mereka sendiri. Mereka berjuang melawan rasa lapar dan lelah, mereka saling terikat oleh motivasi kolektif untuk pulang kembali. Rumah di desa menjamin makanan dan kenyamanan keluarga, kata mereka.

Bagi mereka jelas, penutupan wilayah untuk mencegah pandemi terebut berubah menjadi krisis kemanusiaan.

Di antara para pengungsi itu adalah seorang wanita berusia 90 tahun, yang keluarganya menjual mainan murah di lampu lalu lintas di pinggiran kota di luar Delhi.

Salah seorang dintaranya, Kajodi, berjalan dengan keluarganya menuju daerah asal mereka di Rajasthan yang terletak 100 km dari tempat dimana mereka berada.

Mereka makan biskuit dan merokok linting, atau bidi, untuk mengurangi rasa lapar. Ia telah berjalan selama tiga jam dan sedang bersandar pada tongkat ketika jurnalis Salik Ahmed menemuinya. Ia tidak membiarkan perjalanan yang memalukan itu mengurangi harga dirinya.

"Dia bilang dia tadinya ingin membeli tiket pulang jika transportasi tersedia," tutur Ahmed.

Di antara mereka yang berjalan juga termasuk seorang bocah lelaki berusia lima tahun yang sedang menempuh perjalanan sejauh 700 km dengan ayahnya, yang merupakan seorang pekerja bangunan dari Delhi. Mereka berjalan kaki menuju rumah mereka di negara bagian Madhya Pradesh di India tengah.

"Ketika matahari terbenam, kami akan berhenti dan tidur," ujar sang ayah kepada jurnalis Barkha Dutt.

Sementara, seorang wanita berjalan bersama suaminya dan anak berusia dua-setengah tahun. Tas wanita itu penuh dengan makanan, pakaian dan air. "Kami punya tempat tinggal tetapi tidak punya uang untuk membeli makanan," katanya.

Lalu, ada juga Rajneesh, seorang pekerja mobil berusia 26 tahun yang berjalan 250 km ke desanya di Uttar Pradesh. Dia memperkirakan akan butuh empat hari. "Kita akan mati dalam perjalanan sebelum virus corona menyerang kita," kata pria itu.

Dia tidak melebih-lebihkan. Pekan lalu, seorang pria berusia 39 tahun mengeluh sakit dada dan kelelahan kemudian meninggal dalam perjalanan melintasi 300 km dari Delhi ke Madhya Pradesh. Smentara seorang pria berusia 62 tahun, kembali dari rumah sakit dengan berjalan kaki di Gujarat, pingsan di luar rumahnya dan akhirnya meninggal.

Empat migran lain ditolak di perbatasan menuju Rajasthan dari Gujarat. Mereka ditabrak oleh sebuah truk di jalan raya saat gelap.

Saat krisis memburuk, pemerintah tingkat daerah baru bergegas untuk mengatur transportasi, tempat tinggal dan makanan.

Editor: Rosyad Abdullah

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR