APPI Keberatan dengan Keputusan PSSI Soal Liga 1 dan 2

Liga Indonesia

Senin, 30 Maret 2020 | 20:43 WIB

200330204404-appi-.jpg

ASOSIASI Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI) merespons keputusan PSSI soal status kompetisi dan pemangkasan gaji. Mereka menilai langkah yang dilakukan induk sepakbola nasional tersebut tidak tepat.

Berdasarkan surat PSSI bernomor 48/SKEP/III/2020, menyatakan Liga 1 dan 2 force majeure atau keadaan kahar terhitung Maret hingga Juni 2020. Penyebaran virus corona di tanah air yang kian luas jadi sebabnya.

Dijadwalkan Liga 1 dan 2 kembali bergulir pada Juli mendatang, dengan catatan situasi sudah membaik. Namun bila pemerintah menambah masa tanggap darurat, karena virus corona masih tak terkendali, kompetisi dihentikan seutuhnya.

Selama kompetisi dihentikan, PSSI hanya mewajibkan klub membayar 25 persen dari gaji pemain dan ofisial yang tertera dikontrak.

Hal tersebut yang membuat APPI keberatan. APPI menilai PSSI tak bisa langsung menentukan besaran potongan gaji. Seharusnya pemain dan ofisial terlebih dahulu sepakat dengan klub terkait kebijakan yang diambil tersebut.

Apalagi, FIFA, AFC dan FIFPro, belum mengambil keputusan soal besaran gaji yang diterima pemain selama liga berhenti. Mengingat, tak hanya Indonesia yang kompetisinya berhenti, melainkan hampir seluruh dunia karena terdampak virus corona.

Berikut pertimbangan yang jadi keberatan APPI dengan keputusan PSSI:

- Pengambilan keputusan tersebut tidak melibatkan pesepakbola sebagai stakeholder dan juga salah satu pihak yang paling terdampak dalam hal ini.

- Keputusan pembayaran gaji sebesar 25% sejak Maret-Juni merupakan hal yang seharusnya disepakati oleh kedua belah pihak karena perubahan kontrak kerja wajib dilakukan dengan kesepakatan antara klub dan pesepakbola, tidak bisa dilakukan sepihak.

- Klub wajib melakukan pembayaran DP [uang muka] dan gaji hingga bulan Maret 2020 sesuai dengan kontrak kerja antara klub dengan pesepakbola.

- APPI meminta untuk segala keputusan terkait kompetisi yang berimplikasi dengan kontrak pemain untuk melibatkan kami sebagai perwakilan pesepakbola di Indonesia.

- Dalam tingkat global pun masih terjadi pembahasan dan diskusi FIFA dengan FIFPro dan AFC dengan FIFPro Asia/Oceania.

- Kami meminta adanya pertemuan dan pembicaraan yang melibatkan semua stakeholder tanpa terkecuali dengan dasar saling respect dan fair untuk mencapai solusi yang bisa diterima oleh semua pihak.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR