Jalan Raya Bandung-Garut Kembali Diterjang Banjir

Bandung Raya

Senin, 30 Maret 2020 | 19:45 WIB

200330194631-jalan.jpg

Engkos Kosasih

RUAS jalur nasional Jalan Raya Bandung-Garut Jawa Barat yang membatasi Kabupaten Bandung dan Kabupaten Sumedang Jawa Barat, kembali diterjang banjir setinggi 30-40 cm, Senin (30/3/2020). 

Meski sudah dilaksanakan pengerjaan penataan drainase di ruas kanan kiri jalur jalan yang dipadati kendaraan antarkota dan antarprovinsi itu, jalan tersebut masih rawan tergenang banjir setelah turun hujan di kawasan Rancaekek Kabupaten Bandung dan Cimanggung Kabupaten Sumedang sejak Senin siang pukul 15.00 WIB. 

Dampak banjir tersebut dikeluhkan banyak pihak, terutama para pengendara roda dua dan roda empat yang terjebak banjir. Akibat genangan air tersebut, banyak kendaraan sepeda motor maupun mobil yang mesinnya mati mendadak karena  memaksakan diri menerobos genangan banjir. 

Tak hanya dikeluhkan para pengendara, para pelaku usaha dari kalangan pabrik industri maupun garmen di kawasan tersebut mengeluhkan banjir rutin yang belum kunjung reda setiap turun hujan deras. 

Akibat genangan baniir di depan PT Vonex Indonesia Kecamatan Rancaekek dan PT Kahatex Kecamatan Cimanggung itu, antrean kendaraan dari arah Bandung tujuan Garut maupun sebaliknya tak terhindarkan. 

Jajaran anggota kepolisian dari Polresta Bandung dan Polres Sumedang pun siaga di kawasan banjir tersebut. Petugas tampak membantu para pengendara yang memaksakan diri menerobos genangan banjir. 

"Kalau sudah turun hujan deras, Jalan Raya Bandung-Garut sudah pasti rawan banjir. Walau bagian kanan kiri jalan itu sudah dilakukan penataan drainase, tetap saja terjadi banjir. Soalnya, air hujan tak tertampung drainase akibatnya meluap dan menggenangi ruas jalan," kata Dadang Nurdin warga Rancaekek kepada glamedianews.com di Rancaekek. 

Dadang mengatakan, namun kejadian banjir di ruas jalan itu, setelah ada penataan saluran drainase tak begitu lama. Soalnya airnya cepat mengalir, sehingga hanya beberapa jam saja. Dibandingkan dengan kejadian pada 2019, genangan air cukup lama dan memaksa para pengendara dari kedua arah melewati jalur alternatif akibat terputusnya Jalan Bandung-Garut. 

"Yang jelas, banjir di kawasan tersebut dikeluhkan banyak pihak karena jalur jalan padat kendaraan," katanya. 

Ia berharap untuk menanggulangi banjir di kawasan tersebut harus ada solusi, setelah ada penataan drainase. "Jangan sampai lalulintas kembali terhambat oleh genangan air. Selain itu supaya tidak mengganggu perekonomian," katanya. 

Sementara itu, Anggota DPRD Kabupaten Bandung dari Fraksi Partai Golkar Riki Ganesa mengusulkan pembangunan jalan layang Cileunyi-Cicalengka, untuk menghindari genangan air di Jalan Bandung-Garut tersebut.  Pembangunan jalan layang itu di atas Jalan Raya Bandung-Garut. 

"Ya, kita sepakat harus mulai diinisiasi proses pembangunan jalan layang," kata Riki. 

Menurutnya, pembangunan jalan layang Cileunyi-Cicalengka itu sangat beralasan dan merupakan kepentingan yang sangat urgen disaat memasuki musim hujan karena akses jalur nasional Jalan Raya Bandung-Garut sering banjir. Akibatnya menghambat transfortasi. 

"Jalan tersebut adalah jalan nasional yang sifatnya sangat strategis karena menyangkut urat nadi perekonomian Jawa Barat," kata Riki.

Untuk memberikan rasa aman kepada para pengguna jalan, lanjut Riki, harus dimulai adanya pemikiran dan langkah konkrit dari pemerintah Provinsi Jabar maupun pusat. 

"Salah satunya membangun jalan layang di wilayah tersebut  sekaligus percepatan membangun danau retensi di wilayah Rancaekek Kabupaten Bandung," ungkap Riki. 

Ia mengatakan jalur padat kendaraan itu, dengan intensitas hujan yang begitu tinggi, sehingga drainase tidak kuat menampung luapan air.

"Ditambah aliran air yang membawa sedimentasi tanah tentunya sangat menghambat laju pergerakan air tersebut," katanya. 

Menurutnya, perlu dibuat kebijakan lintas wilayah terkait upaya apa yang harus dilakukan mengingat wilayah tersebut  adalah wilayah perbatasan Kabupaten Bandung dan Kabupaten Sumedang. 

Untuk meminimalisir ancaman banjir rutin, ia berharap di bagian hulu aliran Sungai Cikijing, Sungai Cimande, Sungai Citarik dan Sungai Cikeruh yang masuk kawasan Kabupaten Sumedang,  didorong untuk upaya reboisasi atau penghijauan. 

"Sekaligus dilaksanakan reklamasi lahan plus normalisasi anak sungai di wilayah Rancaekek. Jadi ada sinergitas dalam penanganannya, selain memperbaiki lingkungan yang rusak dan kritis, juga dibarengi dengan penataan sungai," paparnya.

Ia juga berharap kepada pemerintahan terkait untuk dibangun embung-embung atau danau buatan di kawasan rawan banjir. Hal itu sebagai langkah jangka panjang dalam penanggulangan dan perbaikan lingkungan.

Sama halnya yang dikatakan Anggota DPRD Kabupaten Bandung H. Cecep Suhendar. Menurutnya, wacana pembangunan jalan layang Cileunyi-Cicalengka telah dituangkan dalam rencana pembangunan jangka panjang (RPJP). 

"Nampaknya jalan layang akan menjadi kebutuhan prioritas untuk menanggulangi kemacetan di sekitar Jalan Raya Bandung-Garut akibat bencana banjir. Baik kemacetan yang diakibatkan oleh banjir atau kemacetan akibat masuk dan keluarnya karyawan PT. Kahatex yang mencapai puluhan ribu orang pada setiap harinya," papar Cecep.

"Kami mendorong pemerintah pusat untuk memprioritaskan membangun jalan layang tersebut," harapnya.

Cecep menilai, solusi banjir di kawasan Kahatex dengan memperbesar Sungai cikijing dan Sungai Cimande tidak produktif. "Salah satu cara membuat jalan layang Cileunyi-Cicalengka harus menjadi langkah prioritas pemerintah," pungkasnya. 

 

Editor: Efrie Christianto

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR