Wacana Lockdown di Garut Batal Dilaksanakan, Pemkab Pilih Opsi Lain

Daerah

Minggu, 29 Maret 2020 | 22:15 WIB

200329221637-wacan.jpg

Agus Somantri

Bupati Garut, Rudy Gunawan

WACANA lockdown yang akan dilakukan mulai Senin (30/3/2020) besok tidak jadi dilaksanakan. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut lebih memilih opsi lain sebagai upaya pencegahan masuknya Covid-19, di antaranya dengan memperketat pintu masuk.    

"Jadi yang ada besok itu akan mulai ada pembatasan gerak daripada orang secara fisik ke pusat-pusat keramaian. Nanti kaya di Bandung, niru di Bandung. Jadi bukan lockdown," ujar Bupati Garut, Rudy Gunawan, di Command Center, Komplek Pendopo Garut, Ahad (29/3/2020).  

Menurut Rudy, kalau lockdown itu adalah orang tidak boleh masuk Garut, tapi kalau pihaknya tidak. Cuma memang kalau masyarakat yang mudik yang jumlahnya diperkirakan mencapai 50 ribu orang akan diperiksa di mulut jalan yang ada di kecamatan.    

"Misalkan Cihurip di jalan yang mau ke Cihurip, di Pamulihan, Banjarwangi, dan lainnya kita akan penyekatan-penyekatan di situ. Intinya untuk meyakinkan dalam keadaan sehat tidak membuat orang lain di kampungnya menjadi terkena," ucapnya.  

Terkait social distancing dan physical distancing yang belum diindahkan, lanjut Rudy, pihaknya juga akan tutup beberapa ruas jalan, seperti yang dilakukan di Bandung ada penyekatan ruas-ruas jalan. Pasalnya selama dua minggu penerapan social distancing, banyak warga yang masih belum patuh untuk diam di rumah.

"Karena kalau di Garut kami mendapatkan teguran juga, kok tidak mematuhi padahal ODP itu makin hari makin banyak. Hari ini saja bertambah 50 orang," katanya.      

Seperti saat dirinya ke Banyuresmi, ucap Rudy, ada orang dari Jakarta yang distatuskan sebagai ODP, tapi orang tersebut malah santai jalan-jalan naik motor. Padahal harusnya dia dikarantina di rumah.

"Nah kalau karantina di rumah memerlukan ha-hal yang berhubungan dengan masalah sosial, kan kami bantu melalui desa. Kami menyiapkan ada beras bagi ODP diam di rumah, yang tidak punya duit kita santuni," katanya.  

Rudy menyebutkan, pihaknya memberikan santunan kepada mereka sesuai jadup (jatah hidup) satu keluarga Rp 50 ribu satu hari asalkan diam di rumah.

"Jadup itu satu jiwa sepuluh ribu, kalau 5, lima puluh ribu satu hari. Jadi kalau 14 hari, Rp 700 ribu si ODP itu," ujarnya.

Rudy menuturkan, jumlah pemudik yang akan pulang ke Garut minimal 50 ribu orang, dan sekarang baru sekitar 10 ribuan. Jadi masih ada 40 ribu-an lagi yang mau datang.  

"Minggu depan itu sudah mulai menjelang munggah. Apalagi di kita itu ada tradisi munggah," ucapnya.

Kendati begitu, Rudy pun kembali menegaskan jika tidak ada lockdown ataupun karantina. Yang ada pergerakan orang dibatasi, kemudian orang yang mau masuk itu diawasi dari sisi kesehatannya.

"Kita terapkan social distancing dan melakukan pengawasan lebih ketat terhadap ODP. ODP suruh ada di rumah, kalau dia ada masalah kita siapkan berasnya," katanya.

Diungkapkan Rudy, pihaknya sudah menyediakan sebanyak 27 ton beras di Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Garut khusus untuk orang yang ODP. Sedangkan untuk yang terdampak secara ekonomi, pihaknya juga akan melakukan hal yang sama namun dalam kontek yang lain.

"Kami koordinasi dengan pusat karena pusat juga ada program ini, tapi bentuknya apa kami juga belum tahu," katanya.

Rudy menambahkan, pihaknya menyiapkan anggaran sebesar Rp 50 miliar yang berasal dari pergeseran, biaya tidak terduga (BTT) dan dana desa untuk semua masalah ini.

 

 

Editor: Efrie Christianto

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR