KBB Masih Membutuhkan Tambahan Alat Rapid Test

Bandung Raya

Minggu, 29 Maret 2020 | 14:19 WIB

200329142607-kbb-m.jpg

Dicky Mawardi

KABUPATEN Bandung Barat masih membutuhkan tambahan alat rapid test. Pasalnya droping dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat sebanyak 140 buah masih jauh dari kebutuhan.

"Kuota yang diberikan untuk Bandung Barat sebanyak 140 alat rapid test. Sementara hasil pendapatan Dinas Kesehatan (Dinkes) sekitar 400 orang yang menjadi sasaran rapid test," kata Kepala Dinkes Kabupaten Bandung Barat Hernawan Widjajanto kepada galamedianews.com, Ahad (29/3/2020).

Ia akan segera mengkomunikasikan dengan provinsi untuk meminta tambahan kuota. Sasaran 400 orang yang akan diprioritaskan menjalani rapid test berada di Zona A yaitu banyak ditemukan. orang dalam pengawasan (ODP) dan pasien dalam pengawasan (PDP).

Di Kabupaten Bandung Barat terdapat 109 ODP, 82 PDP dan 4 positif. Bukan hanya ODP dan ODP-nya saja yang akan rapid test tapi juga keluarganya dan tenaga medis terdepan.

"Semua alat rapid test sudah didistribusikan ke RSUD Lembang, RSUD Cikalongwetan, RSUD Cililin dan Lebkesda Cimareme. Salah satunya digunakan untuk 11 orang pengurus HIPMI Kabupaten Bandung Barat," ujarnya.

Terpisah, Ketua DPRD Kabupaten Bandung Barat Rismanto mengatakan, sesuai dengan tupoksinya DPRD memastikan anggaran untuk penanggulangan wabah corona itu tersedia atau terealisasi sesuai dengan prosedur yang berlaku.

Meskipun dengan kondisi seperti ini tetap memperhatikan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) yang mengatur protokol pengadaan barang dan jasa dan lain-lain agak dipermudah.

"Dewan juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya melipatgandakan pengawasan di lapangan. Seperti pembagian disinfektan, hand sanitizer sampai masker. Karena secara kelembagaan, memang tugas kita seperti itu," jelas Rismanto.

Ketua DPRD dari Fraksi PKS ini melihat, Pemkab Bandung Barat sudah mengambil sejumlah langkah strategis dalam mencegah meluasnya wabah corona. Antara lain Bupati Aa Umbara sudah memperpanjang masa belajar di rumah dan penutupan objek wisata.

"Saya mendukung langkah tersebut. Itu sudah menunjukan upaya pencegahan yang serius. Insya Allah dengan.penxegajam yang dilakukan secara masif kemungkinan potensi penyebaran bisa ditutup," tukasnya.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR